Pendekatan Konseling Rasional Emotif

Posted: 8th August 2012 by adi cahyo in Makalah, opini
Tags:
Comments Off

Pendekatan Konseling Rasional Emotif

oleh : Adi Cahyo

A. Konsep Dasar

Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.

Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.

Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.

Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan; (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu; (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif

Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating, antara kenyatan dan imajinasi; (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain; (c) orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.

Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan; (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum; (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya; (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya; (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut; (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang; (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural; dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.

C. Tujuan Konseling

Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.

Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.

Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif :

Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.

Kedua, insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya.

Ketiga, insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.

Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri, (2) minat sosial, (3) pengarahan diri, (4) toleransi terhadap pihak lain, (5) fleksibel, (6) menerima ketidakpastian, (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya, (8) penerimaan diri, (9) berani mengambil risiko, dan (10) menerima kenyataan.

D. Deskripsi Proses Konseling

Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien.

Tugas konselor menunjukkan bahwa

  • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional
  • usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.

Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung; (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien; (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya; (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.

Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif :

  1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
  2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
  3. Emotif-ekspreriensial, artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
  4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

E. Teknik Konseling

Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.

Teknik-Teknik Emotif (Afektif)

Assertive adaptive

Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.

Bermain peran

Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.

Imitasi

Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.

Teknik-teknik Behavioristik

Reinforcement

Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif.

Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.

Social modeling

Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.

Teknik-teknik Kognitif

Home work assigments,

Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.

Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan

Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor

Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.

Latihan assertive

Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial.

Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya; (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain; (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.

Sumber : Dr. DYP Sugiharto, M.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. (Makalah)

Silabus Sejarah Pendidikan Islam

Posted: 12th January 2012 by adi cahyo in Makalah
Comments Off

Silabus Sejarah Pendidikan Islam. Mata kuliah sejarah pendidikan islam merupakan upaya untuk melakukan survey atas sejarah Islam, sejak masa klasik (rasulullah dan sahabat) sampai era kontemporer (berkenaan dengan sejarah Islam di Timur tengah dan Nusantara). Pembahasan mata kuliah ini meliputi studi tokoh dan pemikirannya, sistem pemerintahan dan kebijakan, program yang dilaksanakan dan hasil yang dicapai dan organisasi sosial keagamaan yang ada pada masa itu.

Melalui mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami secara normatif-historis dinamika Sejarah Pendidikan Islam di dunia Islam sejak masa awal sampai saat ini dan mampu mengambil intisari dalam membangun kerangka pemikiran Islam masa depan yang lebih baik, serta mampu mengajarkannya di Madrasah Ibtidaiyah, MTs, MA dan sederajat. Di lokal kami mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam ini disampaikan oleh Prof. Dr. Samsul Nizar, M.A

Silabus Sejarah Pendidikan Islam

  1. Pola pendidikan Islam pada periode Rasulullah (Mekkah dan Madinah)
  2. Pola pendidikan Islam pada periode Khulaf al-Rasyidin
  3. Pola pendidikan Islam pada periode Dinasti Umayyah
  4. Pola pendidikan Islam pada periode Dinasti Abasiyah
  5. Pola pendidikan Islam di Andalusia dan Sisilia
  6. Transformasi intelektual dari Yunani, Persia, dan Romawi ke dunia Islam
  7. Madrasah Nizhamiyah ; pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan Islam dan aktivitas ortodoksi Sunni
  8. Sejarah dan perkembangan arsitektur Islam pada masa dinasti Usmaniah
  9. Muhammad Abduh dan usaha pembaharuan Pendidikan Islam di Mesir
  10. Upaya islamisasi ilmu pengetahuan dan implikasinya dalam pendidikan
  11. Lembaga-lembaga pendidikan Islam di Nusantara (Surau, Meunasah, Pesantren, dan Madrasah)
  12. Pola dan kebijakan pendidikan Islam di nusantara pada masa awal sampai sebelum kemerdekaan
  13. Pola dan kebijakan pendidikan Islam pada masa awal kemerdekaan dan orde lama
  14. Pola dan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia pada masa orde baru
  15. Perbandingan pola dan pemikiran pendidikan, kasus Muhammadiyah dan NU

pengertian,subyek sejarah pendidikan islam

Posted: 12th January 2012 by adi cahyo in Makalah
Comments Off

  1. Pengertian Sejarah

Kata sejarah secara etimologi dapat diungkapkan dalam bahasa Arab yaitu Tarikh, sirah atau ilmu tarikh, yang maknanya ketentuan masa atau waktu, sedang ilmu tarikh berarti ilmu yang mengandung atau yang membahas penyebutan peristiwa dan sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut. Dalam bahasa inggris sejarah dapat disebut dengan history yang berarti uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian masa lampau (orderly descriphon of past even)

Adapun secara terminologi berarti sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia1. Sedangkan pengertian yang lain sejarah juga mencakup perjalanan hidup manusia dalam mengisi perkembangan dunia dari masa ke masa karena sejarah mempunyai arti dan bernilai sehingga manusia dapat membuat sejarah sendiri dan sejarah pun membentuk manusia2.

  1. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Islam yaitu suatu proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik3. Karena ia merupakan sebagai alat yang dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai makhluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kesejateraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat. Dalam hal ini, maka kedayagunaan pendidik sebagai alat pembayaran sangat bergantung pada pemegang alat kunci yang banyak menentukan keberhasilan proses pendidikan4, yang telah berkembang di berbagai daerah dari sistem yang paling sederhana menuju sistem pendidikan islam yang modern. Dalam perkembangan pendidikan islam didalam sejarahnya menunjukan perkembangan dalam subsistem yang bersifat operasional dan teknis terutama tentang metode, alat-alat dan bentuk kelembagaan adapun hal yang menjadi dasar dan tujuan pendidikan islam tetap dapat dipertahankan sesuai dengan ajaran islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah5.

Pendidikan Islam menurut Zakiah Drajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditunjukkan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis6.

Dari berbagai pengertian pendidikan islam dapat kita simpulkan bahwa pendidikan islam adalah proses bimbingan dari pendidik yang mengarahkan anak didiknya kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan dan terbentuknya pribadi muslim yang baik.

  1. Pengertian Sejarah Pendidikan Islam

Dari pengertian sejarah dan pendidikan islam maka dapat dirumuskan pengertian tentang sejarah pendidikan islam atau tarihut Tarbiyah islamiyah dalam buku Zuhairini yaitu:

    1. keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari waktu ke waktu yang lain, sejak zaman lahirnya islam sampai dengan masa sekarang.

    2. Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi institusi dan operasionalisasi sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang7.

Dra. Hasbullah merumuskan bahwa sejarah pendidikan islam yaitu:

      1. catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari sejak lahirnya sampai sekarang.

      2. Suatu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep, lembaga maupun opersinalisasi sejak zaman nabi Muhammad hingga saat ini8.

Dari dua sumber yang merumuskan sejarah pendidikan islam dapat disimpulkan bahwa kedua penjelasan memiliki maksud yang sama yaitu peristiwa atau cabang ilmu pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari segi ide, konsep, lembaga operasionalisasi dari sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang.

  1. Ruang Lingkup Sejarah Pendidikan Islam

  1. Obyek

Obyek kajian sejarah pendidikan islam adalah fakta-fakta pendidikan islam berupa informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam baik formal, informal dan non formal. Dengan demikian akan diproleh apa yang disebut dengan sejarah serba objek hal ini sejalan dengan peranan agama islam sebagai agama dakwah penyeru kebaikan, pencegah kemungkaran, menuju kehidupan yang sejahtera lahir bathin secara material dan spiritual. Namun sebagai cabang dari ilmu pengetahuan, objek sejarah pendidikan islam umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dalam objek-objek sejarah pendidikan, seperti mengenai sifat-sifat yang dimilikinya. Dengan kata lain, bersifat menjadi sejarah serba subjek9.

  1. Metode

Mengenai metode sejarah pendidikan islam, walaupun terdapat hal-hal yang sifatnya khusus, berlaku kaidah-kaidah yang ada dalam penulisan sejarah. Kebiasaan dari penelitian dan penulisan sejarah meliputi suatu perpaduan khusus keterampilan intelektual. Sejarahwan harus menguasai alat-alat analisis untuk menilai kebenaran materi-materi sebenarnya, dan perpaduan untuk mengumpulkan dan menafsirkan materi-materi tersebut kedalam kisah yang penuh makna, sebagai seorang ahli, sejarahwan harus mempunyai sesuatu kerangka berpikir kritis baik dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya10.

Untuk memahami sejarah pendidikan islam diperlukan suatu pendekatan atau metode yang bisa ditempuh adalah keterpaduan antara metode deskriptif, metode komparatif dan metode analisis sistensis.

Dengan metode deskriptif, ajaran-ajaran islam yang dibawa oleh Rosulullah saw, yang termaktub dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh As-sunnah , khususnya yang langsung berkaitan dengan pendidikan islam dapat dilukiskan dan dijelaskan sebagaimana adanya. Pada saatnya dengan cara ini maka yang terkandung dalam ajaran islam dapat dipahami.

Metode komparatif mencoba membandingkan antara tujuan ajaran islam tentang pendidikan dan tuntunan fakta-fakta pendidikan yang hidup dan berkembang pada masa dan tempat tertentu. Dengan metode ini dapat diketahui persamaan dan perbedaan yang ada pada dua hal tersebut sehingga dapat diajukan pemecahan yang mungkin keduanya apabila terjadi kesenjangan.

Metode analisis sinsesis digunakan untuk memberikan analisis terhadap istilah-istilah atau pengertian-pengertian yang diberikan ajaran islam secara kritis, sehingga menunjukkan kelebihan dan kekhasan pendidikan islam. Pada saatnya dengan metode sintesis dapat diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang akurat dan cermat dari pembahasan sejarah pendidikan islam. Metode ini dapat pula didayagunakan untuk kepentingan proses pewarisan dan pengembangan budaya umat manusia yang islami11.

Dalam penggalian dan penulisan sejarah pendidikan islam ada beberapa metode yang dapat dipakai antaranya:

    1. Metode Lisan dengan metode ini pelacakan suatu obyek sejarah dengan menggunakan interview.

    2. Metode Observasi dalam hal ini obyek sejarah diamati secara langsung.

    3. Metode Documenter dimana dengan metode ini berusaha mempelajari secara cermat dan mendalam segala catatan atau dokumen tertulis12.

  1. Manfaat Sejarah Pendidikan Islam

Dengan mengkaji sejarah akan bisa memperoleh informasi tentang pelaksanaan pendidikan islam dari zaman Rosulullah sampai sekarang mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kemunduran, dan kebangkitan kembali tentang pendidikan islam. Dari sejarah dapat diketahui segala sesuatu yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan islam dengan segala ide, konsep, intitusi, sistem, dan operasionalisnya yang terjadi dari waktu ke waktu, jadi sejarah pada dasarnya tidak hanya sekedar memberikan romantisme tetapi lebih dari itu merupakan refleksi historis. Dengan demikian belajar sejarah pendidikan islam dapat memberikan semangat (back projecting theory) untuk membuka lembaran dan mengukir kejaya dan kemajuan pendidikan islam yang baru dan lebih baik. Dengan demikian sejarah pendidikan islam sebagai study tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah pendidikan sudah barang tentu sangat bermanfaat terutama dalam rangka memberikan sumbangan bagi pertumbuhan atau perkembangan pendidikan13.

Secara umum sejarah memegang peranan penting bagi kehidupan umat manusia. Hal ini karena sejarah menyimpan atau mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi pertumbuhan serta perkembangan kehidupan umat manusia. Sumber utama ajaran Islam (Al-Qur’an) mengandung cukup banyak nilai-nilai kesejarahan yang langsung dan tidak langsung mengandung makna benar, pelajaran yang sangat tinggi dan pimpinan utama khususnya umat islam. Ilmu tarikh (sejarah) dalam islam menduduki arti penting dan berguna dalam kajian dalam islam. Oleh karena itu kegunaan sejarah pendidikan meliputi dua aspek yaitu kegunaan yang bersifat umum dan yang bersifat akademis14.

Sejarah pendidikan islam memiliki kegunaan tersendiri diantaranya sebagai faktor keteladanan, cermin, pembanding, dan perbaikan keadaan. Sebagai faktor keteladanan dapat dimaklumi karena al-Qur’an sebagai sumber ajaran islam banyak mengandung nilai kesejarahan sebagai teladan. Hal ini tersirat dalam Al-Qur’an :

‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة…..

Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu sekalian ….( Q.S. Al-Ahzab: 21)

قل إن كنتم تُحِبُّون اللهَ فأتَّبِعونى يحببكم الله …..(31)

Katakanlah: “jika kamu (benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”……(Q.S. Ali-Imran:31)

…… واتَّبعوهُ لعلّكم تهتدون (158)

…. Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk (Q.S Al-A’raaf:158)

Berpedoman pada ayat diatas umat islam dapat meneladani proses pendidikan islam semenjak zaman kerasulan Muhammad saw, Khulafaur Rasyidin, ulama-ulama besar dan para pemuka gerakan pendidikan islam.

Sebagai cermin ilmu sejarah berusaha menafsirkan pengalaman masa lampau manusia dalam berbagai kegiatan. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan bahwa tidak semua kagiatan manusia berjalan mulus terkadang menemukan rintangan-rintangan tertentu sehingga dalam proses kegiatannya mendapat sesuatu yang tidak diharapkan, maka kita perlu bercermin atau dengan kata lain mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian masa lampau sehingga tarikh itu bagi masa menjadi cermindan dapat diambil manfaatnya khususnya bagi perkembangan pendidikan islam.

Sebagai pembanding, suatu peristiwa yang berlangsung dari masa ke masa tentu memiliki kesamaan dan kekhususan. Dengan demikian hasil proses pembanding antara masa silam, sekarang, dan yang akan datang diharapkan dapat memberi andil bagi perkembangan pendidikan islam karena sesungguhnya tarikh itu menjadi cermin perbandingan bagi masa yang baru.

Sebagai perbaikan, setelah berusaha menafsirkan pengalaman masa lampau manusia dalam berbagai kegiatan kita berusaha pula untuk memperbaiki keadaan yang sebelumnya kurang konstruktif menjadi lebih konstruktif15.

Adapun kegunaan sejarah pendidikan islam yang bersifat akademis diharapkan dapat :

  1. Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang.

  2. Mengambil manfaat dari proses pendidikan islam, guna memecahkan problematika pendidikan islam pada masa kini.

  3. Memiliki sikapn positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan islam.

Selain itu sejarah pendidikan islam akan mempunyai kegunaan dalam rangka pembangunan dan pengembangan pendidikan islam. Dalam hal ini, sejarah pendidikan islam akan memberikan arah kemajuan yang pernah dialami sehingga pembangunan dan pengembangan itu tetap berada dalam kerangka pandangan yang utuh dan mendasar16.

  1. Pentingnya dalam Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam

Dari mengkaji sejarah kita dapat memperoleh informasi tentang pelaksaan pendidikan islam dari zaman Rosulullah sampai sekarang, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kemunduran dan kebangkitan kembali dari pendidikan islam. Dari sejarah dapat diketahui bagaimana yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan islam dengan segala ide, konsep, institusi, sistem, dan opersionalnya yang terjadi dari waktu ke waktu17.

Dalam ajaran islam, pendidikan mendapatkan posisi yang sangat penting dan tinggi karena pendidikan merupakan salah satu perhatian sentral (central attention) masyarakat. Pengalaman pembangunan di negara-negara sudah maju khususnya negara-negara di dunia Barat membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan.

Tepatnya dikatakan oleh Ghulam nabi Saqib Education may be used to help modernize a society, education, therefore is certainly the key to the modernization of muslim societies. Demikian juga tepat dapat dikatakan Jhon Dewey, pendidikan diartikan sebagai social continuty of life. Pendidikan juga diartikan, it mo kowly as transmission from some persons to others of the skills the arts and the science. Adapun Kant, mengartikan pendidikan sebagai care, discipline and instruction. Oleh karena itu, peranan pendidik sangat penting dan pendidikan hendaknya memenuhi kebutuhan masyarakat18.

  1. Ilmu yang Erat Kaitannya dengan Sejarah Pendidikan Islam

Pendidikan islam merupakan warisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman ajaran islam dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut islam. Munculnya ilmu pendidikan telah memotivasi umat islam untuk menelusuri perjalanan sejarah pendidikan islam. Teori-teori yang berkaitan dalam dunia pendidikan besar gunanya dalam mengumpulkan fakta-fakta sejarah yang selanjutnya menempatkan fakta-fakta tersebut dalam konteks sejarahnya dengan demikian pembahasan sejarah pendidikan tidak sekedar menempatkan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan perkembangan dan perjalanan pendidikan islam sesuai dengan urutan-urutan peristiwa. Lebih dari itu sejarah pendidikan islam menuntut pengungkapan realitas sosial muslim untuk menjawab suatu peristiwa yang terjadi.

Dengan demikian sejarah pendidikan islam bukanlah ilmu berdiri sendiri namun merupakan bagian dari sejarah pendidikan secara umum. Sejarah pendidikan merupakan uraian sistematis dari segala sesuatu yang telah dipikirkan dan dikerjakan dalam lapangan pendidikan pada waktu yang telah lampau. Sejarah pendidikan menguraikan perkembangan pendidikan dari dahulu hingga sekarang19. Oleh karena itu, sejarah pendidikan sangat erat kaitannya dengan beberapa ilmu antara lain:

    1. Sosiologi

Interaksi yang terjadi baik antara individu maupun antara golongan, dimana dalam hal ini menimbulkan suatu dinamika. Dinamika dan perubahan tersebut bermuara pada terjadinya mobilitas sosial semua itu berpengaruh pada sistem pendidikan islam. Serta kebijaksanaan pendidikan islam yang dijalankan pada suatu masa.

    1. Ilmu Sejarah

Membahas tentang perkembangan peristiwa-peristiwa atau kejadian –kejadian penting di masa lampau dan juga dibahas segala ikhwal “orang-orang besar” dalam struktur kekuasaan dalam politik karena umumnya orang-orang yang besar cukup dominan pengaruhnya dalam menetukan sistem, materi, tujuan pendidikan, yang berlaku pada masa itu.

    1. Sejarah Kebudayaan

Dalam hubungan ini pendidikan berarti pemindahan isi kebudayaan untuk menyempurnakan segala dan kecakapan anak didik guna menghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan kebudayaannya, pendidikan islam adalah usaha mewariskan nilai-nilai budaya dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. Oleh karenanya mempelajari sejarah kebudayaan dalam rangka memahami sejarah islam adalah sangat penting20.

  1. Periodesasi Sejarah Pendidikan Islam

Sejarah pendidikan islam pada hakikatnya tidak terlepas dari sejarah islam. Oleh karenanya, periodesasi pendidikan islam berada dalam periode-periode sejarah islam itu sendiri. Prof. Dr. Harun Nasution secara garis membagi sejarah islam kedalam tiga periode yaitu periode klasik, pertengahan, dan modern21.

Kemudian dalam buku Dra. Zuhairini dijelaskan bahwa periode-periode tersebut di bagi menjadi lima masa, yaitu:

  1. masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M)

  2. masa Khalifaur Rasyidin di Madinah ( 632-661 M)

  3. masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M)

  4. masa kekuasaan Abbasiyah di Baghdad ( 750-1250)

  5. masa dari jatuhnya kekuasaan Khalifah di Bagdad tahun 1250 M s/d sekarang22.

1 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Garfindo Persada, 1995, h. 1

2 Departemen Agama, rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005, h. 1

3 A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999, h. 11

4 Armai Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendiidikan Islam klasik, Bandung: Percetakan Angkasa, 2005, h. 4

5 A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999, h. 11

6 http//forum.dudung.net.

7 Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1997, h. 2

8 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Garfindo Persada, 1995, h. 8-9

9 A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999, h. 14.

10 A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999, h. 14

11 Enung K Rukiati,Sejarah Pendidikan Islam di indonesia,Bandung: CV Pustaka Setia, 2006, h. 14-15.

12 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Garfindo Persada, 1995, h. 10

13 Departemen Agama, rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005, h. 18

14 A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999, h. 16.

15 Enung K Rukiati, Sejarah Pendidikan Islam di indonesia,Bandung: CV Pustaka Setia, 2006, h. 17.

16 Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1997, h. 2

17 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 2001, h.11.

18 Departemen Agama, rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005, h. 7

19 Departemen Agama, rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005,h. 11

20 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Garfindo Persada, 1995, h. 11-12

21 Enung K Rukiati, Sejarah Pendidikan Islam di indonesia,Bandung: CV Pustaka Setia, 2006, h. 17.

22 Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1997, h. 5

hakikat ilmu pendidikan islam

Posted: 12th January 2012 by adi cahyo in Makalah, opini
Comments Off

Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu yang digunakan dalam proses pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam sebagai pedoman umat manusia khususnya umat Islam.
Pendidikan adalah segala upaya , latihan dan sebagainya untuk menumbuh kembangkan segala potensi yang ada dalam diri manusia baik secara mental, moral dan fisik untuk menghasilkan manusia yang dewasa dan bertanggung jawab sebagai makhluk yang berbudi luhur.
Sedangkan pendidikan Islam adalah suatu sistem pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam yang mencangkup semua aspek kehidupan yang dibutuhkan manusia sebagai hamba Alloh sebagaimana Islam sebagai pedoman kehidupan dunia dan akhirat.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan manusia yang semakin bertambah dan luas, maka pendidikan Islam bersifat terbuka dan akomodatif terhadap tuntutan zaman sesuai norma-norma Islam.

A. PENTINGYA TEORISASI PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan merupakan upaya untuk pembudayaan manusia untuk merngembangkan potensinya secara optimal yang dalam pelaksanaannya sangat bergantung pada sang pendidik. Sehingga mereka dituntut untuk memenuhi semua persyaratan sebagai seorang pendidik yang ideal. Sedangkan faktor pembawaan anak merupakan sasaran utama oleh para pendidik.
Teori adalah suatu konsep pemikiran manusia yang disusun secara sederhana tentang suatu bidang kehidupan yang tersusun berdasarkan fakta-fakta yang saling berkaitan dan mendukungnya. Sehingga menjadi suatu produk pemikiran yang teruji dengan praktek yang berhubungan dengan berbagai variabel.

1. Landasan Dasar Pengembangan Teorisasi Pendidikan Islam
a. Hakikat pendidikan adalah segala upaya dan usaha untuk menjadikan manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan
b. Azas pendidkan Islam adalah perkembangan dan pertumbuhan dalam perikehidupan yang seimbang dalam semua seluk beluk kehidupan secara adil, merata, menyeluruh dan integral.
c. Model dasar pendidian Islam adalah kemampuan dasar untuk berkembang dari setiap individu sebagai karunia Tuhan.
d. Sasaran pendidikan Islam adalah mengintegrasikan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dalam pribadi manusia untuk mewujudkan kesejahteraan dunia-akhirat.

2. Persyaratan Ilmiah
Persyaratan ilmiah ilmu pendidkan Islam adalah memiliki objek yang jelas, pandangan, teori, dan hipotesis yang bersumber ajaran Islam, metode analisa yang bernafaskan Islam, dan struktur keilmuan definitif yang satu sama lain saling berkaitan sebagai ilmu yang mandiri.

3. Tugas Fungsi Ilmu Pendidikan
a. Melakukan pembuktian terhadap teori-teori ilmu pendidikan Islam
b. Memberikan informasi tentang pelaksanaan pendidikan dalam segala aspek bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
c. Sebagai pengoreksi terhadap kekurangan teori-teori ilmu pendidikan Islam.

4. Hubungan Teori dengan Fakta
a. Teori menetapkan adanya hubungan fakta yang ada.
b. Teori mengembangkan sistem klasifikasi dan struktur dari konsep-konsep.
c. Teori harus dapat mengikhtisarkan fakta dan menerangkan sejumkah besar fakta.
d. Teori harus dapat meramalkan fakta
e. Teori harus dapat menunjukkan kebutuhan-kebutuhan untuk dikembangkan penelitian secara lebih lanjut.

B. HAKIKAT PENDIDIKAN ISLAM
Berangkat dari pengertian pendidIkan Islam, secara teori berarti memberi makan kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohani sesuai ajaran Islam baik melalui lembaga atau sistem kurikuler. Sedangkan tujuan fungsionalnya adalah potensi dinamis manusia yaitu keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlak dan pengalaman. Sebagai lingkaran proses pendidikan Islam yang akan mengantarkan manusia sebagai hamba Alloh yang mukmin, muslim, muhsin, dan mushlihin mutaqin.
Sedangkan objek pendidikan Islam adalah menyadarkan manusia sebagai makhluk individu yang diciptakan Tuhan yang paling sempurna dan lebih mulia dari makhluk lain (QS. As-Shaad: 71-72), memiliki kedudukan yang lebih tinggi (QS. Al-Isra’: 70). Disamping itu manusia diberi beban tanggung jawab terhadap dirinya dan masyarakat (QS. Al-Isra’: 15).
Sejalan hal itu, menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial yang harus mengadakan interelasi (QS. AL-Anbiya’: 92), berinteraksi, gotong-royong dan bersatu (QS. Al-Imran: 103), bersudara (QS. Al-hujurat: 10), tanpa membedakan berbagai perbedaan baik bahasa atau warna kulit (QS. Ar-Ruum: 22).
Disamping itu juga tidak melupakan bahwa manusia sebagai hamba Alloh yang diberi fitrah untuk beragama. Sehingga watak dan sikap religiusnya perlu dikembangkan agar mampu menjiwai dan mewarnai kehidupannya sesuai firman Alloh dalam surat Al-An’am: 102-103.

C. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan pendidikan Islam secara instruksional adalah:
a. TIK, mengarahkan anak untuk menguasai suatu ilmu khusus
b. TIU, mengarahkan anak untuk menguasai semua ilmu secara umum sebagai kebulatan
c. Kurikuler, agar mencapai garis besar program pengajaran di institusi pendidikan
d. Institusional, tujuan yang harus dicapai menurut program pendidikan di setiap intitusi
e. Umum atau nasional, cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalui pendidikan formal/ non-formal.

Sedangkan berdasarkan tugas dan fungsi manusia secara filosofis adalah:
a. Individu, belajar mempersiapkan manusia untuk hidup dunia dan akhirat
b. Sosial, berhubungan dengan kehidupan manusia dengan masyarakat
c. Profesional, menyangkut pengajaran sebagai ilmu, seni dan profesi sebagai kegiatan di masyarakat.
Tujuan dalam proses pendidikan Islam adalah cita-cita yang mengandung nilai-nilai Islam yang ingin dicapai berdasarkan ajaran Islam secara bertahap. Membentuk manusia dewasa yang berakhak mulia, mengembangkan potensi mengintegrasikan ilmu pengetahuan untuk kebahagiaan dunia akhirat.
Tujuan keagamaan pendidikan Islam adalah berorientasi pada kebahagiaan akhirat , dengan cara melaksanakan syariat Islam melalui pendidikan spiritual, misalnya (QS. Al-A’laa: 14-17) tentang kehidupan akhirat adalah lebih penting. Sedangkan tujuan keduniaan adalah pendidikan berorientasi pada kepentingan dunia sebagaimana firma Alloh QS. Al-Jumu’ah: 10
Jika dihubungkan dengan filsafat pendidikan Islam maka ilmu pendidikan Islam bertugas menganalisa secara mendalam tentang masalah-masalah pendidikan sekaligus penyelesaiannya. Ilmu pendidikan tidak hanya melandasi tugasnya dengan teori-teori tapi juga fakta empiris dan praktis yang di dalam masyarakat. Sehingga nantinya terjadi interaksi antara ilmu pendidikan Islam dengan masyarakat yang saling mengisi satu sama lain. Ilmu pendidikan Islam membutuhkan landasan yang ideal, rasional, universal dan sistematik tentang hakikat pendidikan.
Filsafat pendidikan berorientasi pada seluruh aspek pendidikan secara obyektif untuk kebutuhan manusia secara mendasar. Maka filsafat pedidikan Islam berusaha menunjukan kemana arah pendidikan akan dibawa. Dengan ciri filsafat yang radikal, universal dan sistematis akan mengahasilkan pemikiran tentang manuisa yaitu sebagai individu, sosial, dan moral yang mengarah pada hubungan manusia dengan tuhan secara vertikal, dengan masyarakat secara horisontal dan dengan alam.
D. IMPLIKASI AL-QUR’AN TERHADAP PENDIDIKAN
Banyak sekali ayat al-Qur’an yang mengandung implikasi pendidikan. Diantaranya adalah surat al-Imran: 190-191, ad-Dukhan: 38-39, al-Anbiya’: 16-18, dan masih banyak lagi. Dari ayat –ayat ini dapat ditarik kesimpulan tentang azas gerakan alam semesta sebagai sunnatulloh, yaitu:
1. Menyeluruh (holistik): semua ciptaan Alloh yang maujud dipandang memiliki makna dalam suatu keseluruhan bagi manusia. Untuk itu pendidikan memerlukan sistem yang menyeluruh baik dalam kelembagaan maupun metode yang digunakan sehinga akan lahir sistem “satu untuk semua”
2. Kesatuan (integral): semua ciptaan Alloh dalam alam semesta dipandang selalu dalam satu sistem kesatuan yang saling berhubungan menggerakkan dan memperkokoh dan bermakna. Semua bekerja secara mekanis menurut fungsinya tanpa ada yang terlepas. Jika ada yang terlepas satu saja maka keseimbangan alam akan rusak dan hilang. Demikian juga dengan pendidikan, semua aspek pendidikan harus bekerja secara bersama agar tidak terjadi kesalahan dan penyimpangan.
3. Perkembangan, semua ciptaan Tuhan baik makro/mikro mengalami perkembangan secara bertahap menuju arah kesempurnaan dan kematangan. Maka administrasi pendidikan membentuk lembaga pendidikan secara berjenjang mulai dari pra-dasar hingga perguruan tinggi.
4. Pendidikan seumur hidup, dengan konsep ini akan membuat kerangka berfikir memikirkan jauh kedepan tentang pendidikan dan kehidupan anak didik.

Berdasarkan filsafat pendidikan Islam yang membahas tentang ontologi, epistemologi dan aksiologi maka dapat disimpulkan pola dasar pendidikan Islam:
1. Segala fenomena alam adalah ciptaan Tuhan dan tunduk kepada hubungan mekanisme sebagai sunnatuloh. Maka manusia harus dididik agar bisa menghayati segala fenomena alam sehingga bisa menanamkan rasa iman dan takwa
2. Manusia sebagai makhluk palimg mulia dibanding makhluk lain menjadi khalifah. Maka ia dibekali ilmu agar bisa memberdayakan bumi dengan ilmunya untuk kemaslahatan umum sesuai tuntunan Tuhan.
3. Manusia sebagai makhluk sosial yang cenderung untuk berkumpul, berinteraksi dengan orang lain dan membentuk suatu tali persaudaraan.
4. Manusia sebagai makhluk moralitas yang cenderung untuk memeluk agama. Pendidikan seumur hidup sebagai dasar proses pendidikan sebagai konsep pemikiran yang berorientasi pada keimanan dan akhlak yang terpadu membentuk dan mewarnai pendidikan Islam.
Strategi pendidikan Islam merupakan sesuatu yang vital dalam melaksanakan pendidikan Islam. Maka strategi yang mantap diperlukan dalam proses pendidikan Islam sesuai situai dan kondisi sehingga tidak ditemui hambatan internal maupun eksternal. Strategi yang baik adalah jika bisa melahirkan metode yang baik. Beberapa ayat al-Qur’an tentang strategi pendidikan Islam antara lain, QS. Al-Qosos: 77 (keseimbangan dunia akhirat serta berbuat baik), al-Mujadalah: 11 (derajat bagi orang beriman dan berilmu), al-Jumu’ah: 2 (membersihkan hati), al-Qolam: 4 (budi pekerti luhur), dan As-Syura: 52 (menunjukkan jalan yang lurus).

E. FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN
Beberapa penafsiran tentang fitrah antara lain:
1. Potensi dasar yang tidak dapat diubah (nativisme) yaitu potensi untuk beragama.
2. Bersifat netral, perkembangan anak didik harus dipengaruhi dari luar (empirisme). Jadi pendidikan sangat mempengaruhi diri seorang anak. Hal ini sesuai dengan surat An-Nahl : 78 (hidayah), al-Alaq: 3-4 (manusia harus belajar dan menghayati baik secara formal maupun non-formal dan dengan alam semesta).
3. Konvergensi, mengintegrasikan antara fitah yang bersifat alami dengan faktor luar (pendidikan).

Komponen psikologi dalam fitrah yang berpotensi yaitu:
a. Kemampuan dasar untuk beragama
b. Bakat dan kecenderungan yang mengacu pada keimanan kepada Alloh
c. Naluri dan wahyu bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan
d. Kemampuan dasar beragama secara umum, bukan Islam saja
e. Kondisi jiwa yang bersih, terbuka terhadap pengaruh luar, sedangkan pengadaan reaksi bukan berasal dari fitrah.

Fitrah menurut Al-Ghazali:
1. kemampuan dasar sejak lahir yang berpusat pada potensi dasar untuk berkembang.
2. Potensi dasar yang berkembang secara menyeluruh menggerakkan seluruh aspek secara mekanik dimana satu sama lain saling mempengaruhi menuju kearah tertentu.
3. Merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, dan rresponsif terhadap pengaruh luar yang meliputi: bakat, insting, hereditas, nafsu, karakter dan intuisi.

F. METODOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
Metodologi dalam pendidikan mempunyai tugas dan fungsi memberi cara yang baik untuk pelaksanaan operasional pendidikan Islam. Metodologi harus sejalan dengan substansi dan tujuan ilmu pengetahuan induknya. Dan dalam penerapannya bersumber pada al-Qur’an dan Hadits yang meliputi:
1. Al-Qur’an menunjukkan fenomena bahwa firman Alloh sesuai dengan sasaran dan tempat yang dihadapi. Alloh memberikan metode pengajaran alternatif yaitu pilihan dan setiap individu berbeda kemampuannya.
2. Alloh mendidik manusia disesuaikan dengan kemampuan masing-masing
3. Bersifat multi approach, yaitu melalui pendekatan religiuss, filosofis, sosiokultural dan scientific.

Pertumbuhan dan perkembangan manusia tercermin dalam al-qur’an yang bersifat derifatif yaitu:
1. Mendorong manusia untuk memikirkan kehidupannya sendiri dan alam sekitar
2. Mendorong manusia untuk megamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari
3. Mendorong berjihad
4. Suasana pendidikan yang sesuai dengan tempat dan waktu
5. Metode pembuatan kelompok
6. Metode instruksional
7. Metode bercrita (QS. Yusuf: 111, QS. Al-Maidah: 27-28)
8. Metode bimbingan dan penyuluhan (QS. Yunus: 57, QS. An-Nisa’: 58, Al-Luqman: 13 dan QS. Al-Imran: 159)
9. Memberi contoh dan teladan (QS. Al-Ahzab: 21, 67-68)
10. Diskusi (An-Nahl: 125, Al-Ankabut: 46)
11. Tanya jawab (QS. An-Nahl: 43)
12. Perumpamaan (QS. Ar-RA’d: 17, Ibrahim: 24-26, Al-Ankabut: 41)
13. Targhib dan tarhib (QS. Al-Zalzalah: 7-8, Al-Fushilat: 46)
14. Tobat dan ampunan (QS. An-Nisa’: 110, Al-Maidah: 39)

G. INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM
Institusi dalam pendidikan Islam bermula dari halaqoh-halaqoh yang dibuat Nabi kemudian seiring dengan perkembangan zaman lahirlah lembaga-lembaga pendidikan mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling lengkap sehingga menunjang keintektualitas peserta didik
Lembaga–lembaga itu memiliki berbagi aspek yang harus dipenuhi sebagai sarana untuk mencetak manusia muslim yang sejati. Diantaranya adalah pendidik, kurikulum, sarana pendidikan dan sebagainya.
Secara filosofis ilmu pendidikan Islam dapat diartikan sebagai proses pendidikan yang di dasari nilai-niai Islam yang bersumber al-Qur’an dan Sunnah. Dengan pikirannya, manusia diperintahkan untuk menggali nilai-nilai di dalam al-Qur’an dan Sunnah tentang ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuanlah manusia bisa memahami fenomena alam sekitarnya sehingga menjadi bekal dalam menjalani hidup sebagai hamba Alloh dan khalifatulloh. Dan dengan pengetahuan dan teknologi yang dimikinya manusia disuruh untuk memahami alam semesta sejauh kemampuan rasionya.
Dalam operasionalnya ilmu pendidikan Islam berorientasi pada pemahaman kepada Alloh yang maha mengetahui sebagai sumber dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu adalah pengembangan kehidupan sosial dalam masalah muamalah dengan masyarakat. Dan pengembangan alam sekitar yang memiliki kekayaan untuk digali dan diolah untuk kesejahteraan dunia-akhirat.

H. MODEL PENDIDIKAN ISLAM
Model ilmu pendidikan Islam secara teoritis berbicara aspek filosofis, epistemologi, dan pedagogis yang dalam operasionalnya berorientasi pada berikut:
1. Materi disesuaikan dengan tuntutan sosiokultural masa kini. Materi kurikulum mengandung tantangan untuk berfikir kritis dan pelajaran tajam sebagi pendorong berfikir kritis ilmiah menuju perkembangan pribadi muslim yang harmonis sesuai tuntunan Tuhan dan masyarakat.
2. Pendidik menganggap anak didik sebagai sumber pengetahuan, subjek dan partner dalam proses belajar mengajar.
3. Peserta didik melakukan dialogis dengan berbagai pihak dalam proses belajar mengajar dan menghayatinya kemudian merevisi sikap pandangannya sendiri.

a. Model Pendidikan Islam dengan pendekatan Sistem:
1. Secara sistemik manusia dipandang sebagai makhluk integralistik
2. Secara pedagogis pendidikan Islam sebagai pengembang potensi dasar secara integral antara rohani dan jasmani untuk membentuk manusia muslim.
3. Secara institusional pendidikan Islam adalah bentuk pendidikan yang bejenjang
4. Secara kurikuler pendidikan Islam mengarahkan seluruh komponen dan faktor-faktor pendukung pendidikan untuk mewujudkan cita-cita Islami.

b. Pendekatan Pedagogis dan Psikologis
Dengan pendekatan ini pendidikan menganggap manusia sebagai makhluk yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan baik secara jasmani dan rohani. Menurut para pemikir pendidikan baik muslim atau non-muslim potensi dasar yang dimiliki anak yang dan berkembang ini hanya dapat dilakukan dengan proses pendidikan. Dimana pendidikan adalah mengarahkan dan melatih peserta didik untuk mewujudkan cita cita Islami yaitu mencetak pribadi muslim yang memiliki intelektualitas tinggi dan berbudi luhur.

Pendekatan sistem ini menganalisis lima unsur pendidikan yaitu:
1. Pendidik, dalam hal ini seorang pendidik harus memenuhi sebagai seorang pendidik yang ideal. Dia harus matang dalam hal keilmuan, akhlak, dan sebagainya sebagai penunjang untuk menjadi pendidik yang berkualitas. Karena dialah yang akan menentukan akan jadi apa peserta didiknya nanti disamping potensinya sendiri yang akan menentukan hidupnya. Tapi sedikit banyak seorang guru akan memiliki pengaruh kepada sang murid.
2. Anak didik diposisikan sebagai objek pendidikan yang sedang megalami perkembagan jasmani da rohani dengan potensinya yang bersifat fitrah. Perkembangan itu hanya bisa optimal bila dilakukan dengan proses pendidikan yang berkesinambungan dan menggunakan metode konvergensi akan menghasilkan hasil yang optimal.
3. Alat pendidikan adalah sarana yang penting dalam menunjang mutu pendidikan. Dalam pendidikan Islam, alat pendidikan bisa berupa fisik atau non-fisik yang terseleksi mana yang lebih berguna. Disamping itu harus mengandung nilai efektif dan efisien yang diperoleh secara halal sesuai dengan norma-norma Islam.
4. Lingkungan yang bersinggungan langsung dengan anak didik sangat mempengaruhi anak didik. Untuk itu lingkungan yang baik adalah lingkungan yang bersifat mendidik dan bisa memperlancar jalannya pendidikan dehingga cita-cita pendidikan dapat terwujud.
5. Tujuan pendidikan Islam adalah suatu cita-cita yang dirumuskan bagi keberlangsungan anak didik masa depan. Sehingga tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada peningkatan keimanan dan ketakwaan untuk menghasilkna muslim yang baik sehingga bahagia dunia akhirat.

c. Model Pendidikan Islam dengan pendekatan Spiritual
1. Dalam pandangan agama manusia diberi dua pilihan yaitu jalan sesat yang mejerumuskan ke jurang nista dan jalan kebenaran yang menuntun manusia menuju keridhaan Alloh. Sehingga merasakan bahagia dunia-akhirat.
2. Proses pendidikan harus mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang dedikatif dan berserah diri kepada Alloh. Materi pendidikan harus mengarahkannya dari asal-usul manusia sehingga dia akan mengerti arti hidup.
3. Kurikulum materi pendidikan harus mengandung nilai-nilai Islami.
4. Strategi operasional pendidikan adalah meletakkan anak didik dalam posisi pendidikan seumur hidup.

d. Model Pendidikan Islam dengan pendekatan Historis.
Dilihat dari segi historis ada empat aspek ciri pokok perkembangan pendidikan yang releven, sejalan dan seirama, yaitu ideal, institusional, dan materiil. Ada tiga aspek pendidikan dengan pendekatan sejarah, secara pedagogis anak didik diletakkan pada posisi sentral untuk mengembangnkan kemampuan menciptakan hidup bernilai sejarah dengan mengkaji sejarah masa lalu. Secara kurikuler anak didik dikenalkan pasang surut kehidupan , positif-negatifnya dan tokoh-tokoh sejarah. Sedangkan secara epistemologi anak diarahkan menangkap makna kehidupan sejarah. Sehingga bisa mengaktualisasikan dalam kehidupannya.

Karakteristik historis pendidikan Islam:
1. Masa Nabi: berorientasi pada pengajaran tauhid dan berbentuk halaqah
2. Sahabat: berbentuk halaqah dan pendidikan diserahkan pada oangtua anak
3. Masa kerajaan: mengalami perubahan dengan bertambah luasnya daerah dan pengaruh dari luar arab. Muncul madrasah-madrasah yang operasionalnya berbeda setiap daerah.
4. Kemunduran: pendidikan mengalami kemunduran seiring dengan tertutupnya pintu ijtihad. Disamping itu karena semua wilayah Islam terjajah bangnsa barat jadi pendidikan pun tak terurus.
5. Kemerdekaan: dengan bangkitnya umat Islam dan banyaknya ilmuwan muslim yang bangkit, pintu ijtihad terbuka kembali pendidikan pun mulai bangkit kembali. Pendidikan yang dulu hanya berorientasi pada agama mulai memasukkan ilmu pengetahuan sekuler dalam kurikulum pendidikan.

I. MATERI PENDIDIKAN ISLAM
Para tokoh pendidikan Islam masa lalu membagi ilmu menjadi beberapa bagian. Al-Farabi membagi materi menjadi ilmu bahasa, sains persiapan, fisika dan metafisika, dan ilmu kemasyarakatan. Ibnu Kholdun membagi menjadi ilmu syariah, filsafat, ilmu alat yang membantu agama dan ilmu alat yang membantu faldafah. Sedangkan secara umum al-Ghazali membagi menjadi ilmu fardu ‘ain (agama: al-qur’an, hadits dan ilmu bahasa) dan fardu kifayah (dunia: sains dan sosial). Dan Ibnu Sina membagi menjadi ilmu teori (mipa dan ) dan ilmu praktik (akhlak dan politik).
Dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. mengandung materi yang berfungsi mampu membantu siswa untuk mencapai tujuan hidup Islami
2. mengandung tata nilai Islam secara intrinsik dan ekstrinsik sehingga mampu merealisasikan tujuan pendidikan Islam
3. metode sesuai dengan pendidikan Islam
4. kurikulum, metode dan tujuan harus saling berkaitan agar seimbang.

Beberapa kategori kurikulum pendidikan islam:
1. ilmu dasar yang membahas al-Qur’an dan Hadits
2. ilmu sosial yang membahas kemasyarakatan
3. ikmu alam yang termasuk ilmu pasti dan teori

J. METODE DALAM PROSES PENDIDIKAN ISLAM
Banyak sekali prinsip dalam al-Quran yang bisa dijadikan metode dalam pengajaran, diantaranya adalah:
1. metode suasana gembira (QS. Al-Baqarah: 25 dan 185)
2. metode lemah lembut (QS. Al-Imran: 159)
3. metode bermakna (QS. Muhammad: 16)
4. metode prasyarat atau muqadimah (QS.Al-Baqaah: 1-2)
5. metode komunikasi terbuka (QS. Al-A’raf: 179)
6. metode memberikan pengetahuan baru (QS. Al-Baqarah: 164 dan Al-Fushilat: 153)
7. metode uswatun hasanah (QS. Al-Ahzab: 21)
8. metode praktek atau pengamatan aktif (QS. As-Shof: 2-3 dan Al-Baqarah: 25)
9. metode bimbingan, penyuluhan dan kasih sayang (QS. Al-Anbiya’: 107 dan An-Nahl: 25)
10. metode cerita (QS. Al-A’raf: 176)
11. metode perumpamaan (QS. Ibrahim: 18)
12. metode hukuman dan hadiah (QS. Al-Ahzab: 72-73)

K. EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM
Secara garis besar evaluasi pendidikan Islam meliputi kemampuan dasar anak didik, yaitu:
1. sikap dan pengamalan pribadinya, hablu minalloh
2. sikap dan pengamalan dirinya, hablu minannas
3. sikap dan pengamalan kehidupannya, hablu minal ‘alam
4. sikap dan pandangannya sebagai ‘abd, khalifah dan anggota masyarakat.

Berbagai contoh eveluasi Tuhan dalam pendidikan:
1. mengetahui kesabaran (QS. Al-Baqarah: 155)
2. mengetahui bersukur atau kufur terhadap Tuhan (QS. An-Naml: 40)
3. mengetahui kejujuran (QS. An-Naml: 27)
4. mengetahui ketaatan terhadap Tuhan (QS. As-Shoffat: 103, 106 dan 107)
Perbedaan evaluasi Alloh dengan Nabi adalah jika Alloh lebih menitikberatkan pada sikap, perasaan, dan pengetahuan manusia. Sedangkan Nabi lebih menitikberatkan pada kemampuan dan kesedian manusia mengamalkan ajaran-Nya.
Fungsi evaluasi pendidikan adalah untuk mengidentifikasi dan merumuskan jarak dari saasaran pokok kurikulum secara komprehensif, penetapan bagi tingkah laku apa yang harus direalisasikan oleh siswa dan meyeleksi atau membentuk instrumen yang valid, terpercaya dan praktis untuk meniai sasaran utama proses pendidikan atau ciri khusus perkembangan dan pertumbuhan anak didik.
Jenis-jenis evaluasi:
1. formatif: menetapkan tingkat penguasaan peserta didik dan menentukan bagian tugas yang belum dikuasai
2. sumatif: penilaian secara umum tentang keseluruhan hasil belajar mengajar yang dilakukan setiap akhir periode
3. diagmatis: penilaian yang dipusatkan pada proses belajar megajar dengan melokalisasikan suatu titik awal yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, H.M. 2006. Ilmu Pendidikan Islam (Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Multidispliner). Jakarta: Bumi Aksara

No related posts.

karakteristik ajaran islam

Posted: 12th January 2012 by adi cahyo in Makalah
Comments Off

“Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu di dunia dan berbuat baikklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg berbuat kerusakan.”

Sebagai muslim kita tentu ingin menjadi muslim yg sejati. Untuk itu seorang muslim harus menjalankan ajaran Islam secara kaffah bukan hanya mementingkan satu aspek dari ajaran Islam lalu mengabaikan aspek yg lainnya. Oleh krn itu pemahaman kita terhadap ajaran Islam secara syamil dan kamil menjadi satu keharusan. Disinilah letak pentingnya kita memahami karakteristik atau ciri-ciri khas ajaran Islam dgn baik.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Khasaais Al-Ammah Lil Islam menyebutkan bahwa karakteristik ajaran Islam itu terdiri dari tujuh hal penting yg tidak terdapat dalam agama lain dan ini pula yg menjadi salah satu sebab mengapa hingga sekarang ini begitu banyak orang yg tertarik kepada Islam sehingga mereka menyatakan diri masuk ke dalam Islam. Ini pula yg menjadi sebab mengapa hanya Islam satu-satunya agama yg tidak “takut” dgn kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu ketujuh karakteristik ajaran Islam sangat penting utk kita pahami.

1. Robbaniyyah. Allah Swt merupakan Robbul alamin disebut juga dgn Rabbun nas dan banyak lagi sebutan lainnya. Kalau karakteristik Islam itu adl Robbaniyyah itu artinya bahwa Islam merupakan agama yg bersumber dari Allah Swt bukan dari manusia sedangkan Nabi Muhammad Saw tidak membuat agama ini tapi beliau hanya menyampaikannya. Karenanya dalam kapasitasnya sebagai Nabi beliau berbicara berdasarkan wahyu yg diturunkan kepadanya Allah berfirman dalam Surah An-Najm 3-4 yg artinya “Dan tiadalah yg diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan .”

Karena itu ajaran Islam sangat terjamin kemurniannya sebagaimana Allah telah menjamin kemurnian Al-Qur’an Allah berfirman dalam Surah Al-Hijr 9 yg artinya “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Disamping itu seorang muslim tentu saja harus mengakui Allah Swt sebagai Rabb dgn segala konsekuensinya yakni mengabdi hanya kepada-Nya sehingga dia menjadi seorang yg rabbani dari arti memiliki sikap dan prilaku dari nilai-nilai yg datang dari Allah Swt Allah berfirman dalam Surah Al-Imran 79 yg artinya “Tidak wajar bagi manusia yg Allah berikan kepadanya Al kitab hikmah dan kenabian lalu dia berkata kepada manusia ‘hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah’ tapi dia berkata ‘hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani krn kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan kamu tetap mempelajarinya.”

2. Insaniyyah. Islam merupakan agama yg diturunkan utk manusia krn itu Islam merupakan satu-satunya agama yg cocok dgn fitrah manusia. Pada dasarnya tidak ada satupun ajaran Islam yg bertentangan dgn jiwa manusia. Seks misalnya merupakan satu kecenderungan jiwa manusia untuk dilampiaskan karenanya Islam tidak melarang manusia utk melampiaskan keinginan seksualnya selama tidak bertentangan dgn ajaran Islam itu sendiri.

Prinsipnya manusia itu kan punya kecenderungan utk cinta pada harta tahta wanita dan segala hal yg bersifat duniawi semua itu tidak dilarang di dalam Islam namun harus diatur keseimbangannya dgn keni’matan ukhrawi Allah berfirman dalam Surah Al-Qashash 77 yg artinya “Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu di dunia dan berbuat baikklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg berbuat kerusakan .”

3. Syumuliyah. Islam merupakan agama yg lengkap tidak hanya mengutamakan satu aspek lalu mengabaikan aspek lainnya. Kelengkapan ajaran Islam itu nampak dari konsep Islam dalam berbagai bidang kehidupan mulai dari urusan pribadi keluarga masyarakat sampai pada persoalan-persoalan berbangsa dan bernegara.

Kesyumuliyahan Islam tidak hanya dari segi ajarannya yg rasional dan mudah diamalkan tapi juga keharusan menegakkan ajaran Islam dgn metodologi yg islami. Karena itu di dalam Islam kita dapati konsep tentang dakwah jihad dan sebagainya. Dengan demikian segala persoalan ada petunjuknya di dalam Islam Allah berfirman dalam Surah An-Nahl 89 yg artinya “Dan Kami turunkan kepadamu al kitab utk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yg berserah diri.”

4. Al Waqi’iyyah. Karakteristik lain dari ajaran Islam adl al waqi’iyyah ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yg dapat diamalkan oleh manusia atau dgn kata lain dapat direalisir dalam kehidupan sehari-hari. Islam dapat diamalkan oleh manusia meskipun mereka berbeda latar belakang kaya miskin pria wanita dewasa remaja anak-anak berpendidikan tinggi berpendidikan rendah bangsawan rakyat biasa berbeda suku adat istiadat dan sebagainya.

Disamping itu Islam sendiri tidak bertentangan dgn realitas perkembangan zaman bahkan Islam menjadi satu-satunya agama yg mampu menghadapi dan mengatasi dampak negatif dari kemajuan zaman. Ini berarti Islam agama yg tidak takut dgn kemajuan zaman.

5. Al Wasathiyah. Di dunia ini ada agama yg hanya menekankan pada persoalan-persoalan tertentu ada yg lbh mengutamakan masalah materi ketimbang rohani atau sebaliknya. Ada pula yg lbh menekankan aspek logika daripada perasaan dan begitulah seterusnya. Allah Swt menyebutkan bahwa umat Islam adl ummatan wasathan umat yg seimbang dalam beramal baik yg menyangkut pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dan akal pikiran maupun kebutuhan rohani.

Manusia memang membutuhkan konsep agama yg seimbang hal ini krn tawazun merupakan sunnatullah. Di alam semesta ini terdapat siang dan malam gelap dan terang hujan dan panas dan begitulah seterusnya sehingga terjadi keseimbangan dalam hidup ini. Dalam soal aqidah misalnya banyak agama yg menghendaki keberadaan Tuhan secara konkrit sehingga penganutnya membuat simbol-simbol dalam bentuk patung. Ada juga agama yg menganggap tuhan sebagai sesuatu yg abstrak sehingga masalah ketuhanan merupakan kihayalan belaka bahkan cenderung ada yg tidak percaya akan adanya tuhan sebagaimana komunisme. Islam mempunyai konsep bahwa Tuhan merupakan sesuatu yg ada namun adanya tidak bisa dilihat dgn mata kepala kita keberadaannya bisa dibuktikan dgn adanya alam semesta ini yg konkrit maka ini merupakan konsep ketuhanan yg seimbang. Begitu pula dalam masalah lainnya seperti peribadatan akhlak hukum dan sebagainya.

6. Al Wudhuh. Karakteristik penting lainnya dari ajaran Islam adl konsepnya yg jelas . Kejelasan konsep Islam membuat umatnya tidak bingung dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam bahkan pertanyaan umat manusia tentang Islam dapat dijawab dgn jelas apalagi kalau pertanyaan tersebut mengarah pada maksud merusak ajaran Isla itu sendiri.

Dalam masalah aqidah konsep Islam begitu jelas sehingga dgn aqidah yg mantap seorang muslim menjadi terikat pada ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Konsep syari’ah atau hukumnya juga jelas sehingga umat Islam dapat melaksanakan peribadatan dgn baik dan mampu membedakan antara yg haq dgn yg bathil begitulah seterusnya dalam ajaran Islam yg serba jelas apalagi pelaksanaannya dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

7. Al Jam’u Baina Ats Tsabat wa Al Murunnah. Di dalam Islam tergabung juga ajaran yg permanen dgn yg fleksibel . Yang dimaksud dgn yg permanen adl hal-hal yg tidak bisa diganggu gugat dia mesti begitu misalnya shalat lima waktu yg mesti dikerjakan tapi dalam melaksanakannya ada ketentuan yg bisa fleksibel misalnya bila seorang muslim sakit dia bisa shalat dgn duduk atau berbaring kalau dalam perjalanan jauh bisa dijama’ dan diqashar dan bila tidak ada air atau dgn sebab-sebab tertentu berwudhu bisa diganti dgn tayamum.

Ini berarti secara prinsip Islam tidak akan pernah mengalami perubahan namun dalam pelaksanaannya bisa saja disesuaikan dgn situasi dan konsidinya ini bukan berarti kebenaran Islam tidak mutlak tapi yg fleksibel adl teknis pelaksanaannya.

Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yg sempurna dan kesempurnaan itu memang bisa dirasakan oleh penganutnya yg setia.

Oleh Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm

LANDASAN NORMATIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTURAL

Posted: 12th January 2012 by adi cahyo in Makalah
Comments Off


Pendahuluan

Lembaga pendidikan Islam di era sekarang dihadapkan kepada perubahan yang mendasar, terutama mempersiapkan  siswa yang nantinya akan berintegrasi dengan masyarakat yang  berasal dari berbagai macam latar belakang budaya dan agama. Untuk mendapatkan hasil maksimal  dari sebuah proses pendidikan agama, ada  dua hal sebagai “pekerjaan rumah (PR)” lembaga tersebut, terutama pendidik/guru agama Islam, yakni: para pendidik  tersebut sudah sa’atnya  butuh pengertian yang mendalam dan harus merasa peka terhadap isu-isu  pemahaman keagamaan yang sedang berkembang dalam masyarakat umum. Baru kemudian,  para pendidik ini harus bisa membantu siswanya untuk jadi sadar akan penting memahami budaya yang bermacam-macam dalam masyarakat, khususnya di bidang keagamaan.[1]Jika tidak demikian, tampaknya lembaga pendidikan, khususnya Islam, sulit berpartisipasi dalam menengahi model-model pemahaman Islam radikal yang sering dituduh sebagai penyulut munculnya ketidaknyamanan dalam masyarakat beragama. Lembaga-lembaga pendidikan, terutama di masa akan datang, harus bisa memproduksi sarjana Islam yang berpikiran moderat untuk mewadahi berbagai macam pemahaman yang cenderung radikal itu.Untuk mengujudkan itu, seluruh unsur sistem pendidikan Islam, khususnya pembelajaran agama Islam, sebaiknya ditelaah kembali. Dalam tulisan ini, hanya satu aspek yang bisa disampaikan, yakni landasan normatif (ayat-ayat al-Qur’an) sebagai inspirasi pendidikan Islam di era multikultural.     

  1. Pendidikan Islam Multikultural

Pendidikan multikultural merupakan strategi pembelajaran yang menjadikan latarbelakang budaya siswa yang bermacama-macam digunakan sebagai usaha untuk meningkatkan pembelajaran siswa di kelas dan lingkungan sekolah. Yang demikian dirancang untuk menunjang dan memperluas konsep-konsep budaya, perbedaan, kesamaan dan demokrasi[2] Ada pula yang mengatakan pendidikan multikultural  adalah sebuh ide atau konsep, sebuah gerakan pembaharuan pendidikan dan proses. Konsep ini muncul atas dasar bahwa semua siswa, tanpa menghiraukan jenis dan statusnya,  punya kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah formal.[3]     Dua definisi di atas tampaknya lahir pada setting historis khusus, yakni pada lembaga-lembaga pendidikan tertentu di wilayah  Amerika yang pada awalnya diwarnai oleh sistem pendidikan yang mengandung diskriminasi etnis, yang belakangan hari mendapat perhatian serius dari pemerintah.[4] Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan (Islam) yang ditemukan di Asia, terutama Indonesia, yang sejak awal    tidak begitu menampakkan diskriminasi radikal di dalam kelas.  Perbedaan ruang kelas antara pria dan wanita pada lembaga-lembaga tertentu pada lembaga pendidikan Islam misalnya,  tidak bisa langsung  diartikan sebagai tindakan diskriminatif, karena yang demikian lebih dimaknai sebagai antisipasi terhadap pelanggaran moral baik dalam pandangan Islam dan kultur masyarakat.Oleh karena itulah, pendidikan Islam multikultural di sini lebih diartikan sebagai sistem pengajaran yang lebih memusatkan perhatian kepada ide-ide dasar Islam yang membicarakan betapa pentingnya  memahami dan menghormati budaya dan agama orang lain.Secara konseptual, rumusan pendidikan Islam multikultural belum menunjukkan jati dirinya secara maksimal, khususnya di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam formal. Bukan hanya pendidikan Islam multikultural yang belum dikembangkan, tetapi juga pendidikan agama multikultural saja belum ditemukan bentuknya seperti apa. Barangkali   pada lembaga-lembaga  tertentu sudah ada, tetapi dalam status  mata pelajaran muatan lokal.C. Landasan Normatif  Pendidikan Islam MultikulturalAda 4 (empat) isu pokok yang dipandang sebagai dasar pendidikan Islam multikultural, khususnya di bidang   keagamaan, yaitu:1) kesatuan dalam aspek ketuhanan dan pesan-Nya (wahyu); 2)  kesatuan kenabian;3) tidak ada paksaan dalam beragama; dan4) pengakuan terhadap eksistensi agama lain. Semua yang demikian disebut normatif karena  sudah merupakan ketetapan Tuhan.  Masing-masing   klasifikasi  didukung oleh  teks (wahyu), kendati satu ayat dapat saja berfungsi untuk justifikasi yang lain.

Dari aspek  kesatuan  ketuhanan, pendidikan Islam mendasarkan pandangannya dari  al-Qur’an surat an-Nisa>’: 131: “Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan  kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan juga kepadamu agar  bertakwa kepada Allah”.

Surat  A<l ‘Imra>n: 64:

Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahlu-l-Kita>b! Marilah kita menuju kepada satu kali>mat (pegangan) yang sama   antara kami dan kamu, bahwa   kita tidak  menyembah selain Allah dan  kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun,  dan bahwa kita tidak   menjadikan satu sama lain   tuhan-tuhan selain  Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.[5]Dari aspek kesatuan pesan ketuhanan (wahyu) dapat dilihat dalam surat an- Nisa>’: 163: Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya; ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Dawud.[6] Dari aspek kesatuan kenabian, al-Faruqi mendasarkan pandangannya dari al-Qur’an surat al-Anbiya>’:  73: “Dan Kami  menjadikan mereka itu  sebagai pemimpin-pemimpin  yang memberi pentunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan  kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka  menyembah”. Kemudian surat A<l ‘Imra>n: 84: Katakanlah (Muhammad), Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami  dan yang diturunkan kepada Ibra>hi>m, Isma’Il, Ishaq,Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.[7]  Pandangan Islam yang terkait dengan  kebebasan menganut agama didasarkan kepada al-Qur’an surat al-Baqarah: 256: “Tidak ada paksaan dalam (mengaut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat”.[8] Terakhir adalah mengenai pengakuan al-Qur’an surat al-Ma>idah: 69 akan eksistensi agama-agama lain: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, S{abii>n, dan orang-orang Nasrani, barang siapa  beriman kepada Allah,  kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati”. Kemudian surat al-Ma>idah:  82:  Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.  Dan pasti kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya  kami adalah orang Nasrani”. Yang demikian itu  karena  di antara mereka  terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena  mereka tidak menyombongkan diri.[9] Semua ayat tersebut dipahami dalam perspektif teologis-normatif, yaitu dengan pengertian, di dalamnya tidak ada keraguan sedikit pun dan bersifat  mutlak. Pemahaman  dari ayat-ayat tersebut tetap diletakkan dalam konteksnya sebagai yang mutlak. Karena bersifat mutlak, maka cara  kerja yang ditempuh seorang guru agama  harus  selalu berusaha mengkaji ulang untuk membuktikan substansi kebenarannya. Dalam mengkaji ulang itu, teknis yang dilakukan sebaiknya  dengan   menjelaskan konsep-konsep hubungan berbagai agama dengan narasi atau logikanya sendiri, kemudian semua disimpulkan dengan mengutip ayat al-Qur’an yang relevan. Jadi model untuk menjelaskan sesuatu, pada dasarnya sudah dibungkus  paradigma teologis lebih awal, sehingga apa yang disampaikan kepada siswa, sesungguhnya merupakan penjelasan logis saja dari wahyu. Oleh karena itu, di sini dapat dikatakan bahwa gagasan tentang pengetahuan (kebenaran wahyu) tidak seperti halnya dalam pengetahuan positivistik yang berkeyakinan bahwa gagasan tentang pengetahuan  direduksi menjadi pengetahuan ilmiah, dan gagasan mengenai pengetahuan ilmiah direduksi menjadi intellijensia. Jadi “mengetahui”  harus berarti mengekspresikan relasi-relasi yang bisa diamati (observable) antara fakta yang ada dalam konteks relasi matematis.[10] Jadi, dalam perspektif ini, sudah diyakinkan terlebih dahulu bahwa terdapat sekumpulan kebenaran adikodrati yang statis yang diwahyukan oleh Tuhan kepada manusia, dan proses sejarah dalam pewahyuan, di era ini, tidak begitu penting.Bila cara seperti ini yang ditempuh, maka  seluruh pengetahuan yang terkait dengan isu-isu hubungan antara agama  menurut pandangan Islam terkesan semua baik. Mungkin ada yang mengatakan bahwa cara ini apologis. Tetapi tidak mengapa, terutama bagi siswa yang baru saja mengalami sistem pembelajaran agama model ini. Barangkali, relevan dengan apa yang pernah ditulis  al-Faruqi bahwa konseptualisai atas inti kedua agama itu berbeda satu sama lain dan  sesuai dengan sejarahnya.  Oleh sebab itu,  tidak mungkin untuk melakukan identifikasi  antara masing-masing agama tersebut, karena masing-masing lengket dengan sejarahnya. Seseorang dapat melihat Islam dan  Kristen sebagai dua agama yang berbeda, akan tetapi, ada kemungkinan besar untuk keluar dari perbedaan ini, yaitu dengan melihat inti asli (substansi) agama tersebut, memusatkan perhatian secara penuh terhadapnya dan  membangun berbagai argumentasi di atasnya. [11]Aspek normatif ini juga dapat dilihat pada  ayat-ayat sebagai dasar umum hubungan antara agama, pada surat A<l ‘Imra>n: 113 yang berisikan pujian atas ahli kitab yang bersifat jujur;  surat at Taubah: 31 yang berisikan kepercayaan orang-orang Yahudi dan Nasrani  yang mengatakan ‘Uzair   dan al-Masi>h} itu putra Allah, bahkan mereka mempertuhan rahib-rahib dan orang alim mereka sendiri, padahal mereka disuruh hanya menyembah Allah; surat al-Hadi>d: 27 yang berisikan bahwa mereka yang mengikuti Kitab Injil, yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa,  memiliki hati penuh dengan rasa  santun dan kasih sayang; surat an Nisa>’: 171 yang berisikan pandangan al-Qur’an terhadap Nabi ‘Isa, yang menyebutkan bahwa al-Masi>h}, ‘Isa putra Maryam itu utusan Tuhan, dan larangan untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tiga; surat al-‘Ankabu>t: 47 yang berisikan bahwa bagi orang-orang yang diturunkan kepada  mereka kitab Taurat, juga beriman kepada al-Qur’an.Secara doktrinal, seluruh bentuk hubungan itu tidak pernah berubah, kecuali setelah ia memasuki wilayah historis (konteks) yang cukup panjang.[12] Hubungan yang dimaksud di sini meliputi hubungan yang bernuansa positif dan bernuansa negatif, yaitu dalam pengertian kritik. Proses kritik kelihatan berjalan dengan baik, karena tiga agama,  Yahudi, Kristen dan Islam, merupakan tiga agama yang bersaudara, yang sudah barang tentu bertugas saling mengingatkan. Dalam paradigma inklusif, kritik adalah sesuatu yang penting dilakukan. Hal ini berbeda dengan paradigma pluralis yang bersifat  lebih “membiarkan”. Oleh sebab itu tidak salah jika seorang guru agama Islam memasukkan ayat-ayat (teks) yang mengkritik keyakinan dan sikap penganut Kristen dan Yahudi  sebagai dasar hubungan agama-agama. Kritik di sini tidak dipahami sebagai sebuah cacian hinaan maupun sebuah vonis, akan tetapi lebih merupakan sebuah peringatan yang menantang untuk melakukan dialog.Di samping  menjelaskan wahyu melalui pendekatan rasional sebagai bukti otentik hubungan antara agama, unsur normatif pendidikan Islam juga bisa   memusatkan kajiannya terhadap apa yang disebut oleh al-Qur’an sendiri sebagai h}ani>f,[13] yang dipandang sebagai sebuah perkembangan pemikiran dan cenderung filosofis. Terma h}ani>f merupakan terma yang banyak ditemui dalam al-Qur’an, bahkan bisa dijadikannya sebagai “alat perekat” hubungan berbagai agama dalam sejarah. Di sini perlu digambarkan hani>f sebagai orang yang bersandar kepada tradisi Ibrahim, menolak tuhan-tuhan palsu (shirk), menolak tradisi pagan, cinta kepada pengetahuan dan penemu kebenaran. Semua ini merupakan ciri khas kebenaran sebuah agama. Terma h{ani>f dijadikan alat perekat terhadap berbagai tradisi keagamaan atau sebagai titik temu antara agama-agama Semitik, dan karenanyalah isu-isu besar tentang kesatuan kebenaran dalam agama-agama akan mungkin diwujudkan.  Berbeda memang  dengan pemikiran pluralis yang didasari oleh tradisi perenial yang lebih memusatkan perhatiannya kepada aspek esoteris agama-agama  sebagai  muara bertemunya kebenaran masing-masing. Pengakuan Islam terhadap Tuhan agama Yahudi  dan agama Kristen sebagai Tuhannya sendiri, pengakuannya terhadap nabi-nabi mereka sebagai nabinya sendiri, komitmennya dengan ajakan Ila>hi terhadap ahli kitab  untuk bekerjasama dan hidup bersama di bawah genggaman Allah, merupakan satu-satunya langkah yang pertama dan nyata menuju persatuan dari dua agama dunia yang besar.  Karen Armstrong mengatakan: “dikatakan h{ani>f sebagai tradisi Ibrahim berarti menyingkirkan semua pandangan khusus tentang Tuhan dan berpegang teguh pada sebuah  keimanan yang “murni dan tidak bercampur dengan konsep apa pun”.[14] Bersamaan dengan h{ani>f, paham monoteisme  dan etika agama  pra Islam Arab, Yahudi, Nasrani dan Islam   membentuk sebuah kesadaran agama yang esensi dan pusatnya satu. Kesatuan agama-agama ini, dengan mudah, dapat  ditemukan para sejarawan dalam kebudayaan Timur Dekat Purba. Yang demikian masih berbekas dalam literatur-literatur kuno, dan kesamaan tradisi tersebut  didukung oleh kesatuan geografi, bahasa (Semit) dan kesatuan ekspresi artistik mereka.[15] Kesatuan kesadaran agama  Timur Dekat ini terdiri dari 5 (lima) prinsip utama yang sekaligus mencirikan  tradisi penduduknya. Lima prinsip tersebut diringkaskan sebagai berikut:…First: The reality of God’s existence, the distinct pisition of Creator from His creatures, unlike the atributes of Ancient Egypt and Ancient Greece on one side, and Hinduism and Taoism on the other.. Second: The purpose of man’s creation is neither God’s Self-contemplation nor man’s enjoyment, but unconditional service of God on eart, His own ‘mannor”. Third: The relevance of Creator to creature, or the Will of God is the content of revelation and it is expressed in terms of law, of ought an moral imperatives.. Fourth: Man, the servant, is master of the ‘mannor” under God, capable of transforming it through his own efficacious action into what God desire it to be. Fiveth:  Man’s obedience to and fulfillment of the Divine commands result in happiness and felicity, opposite of which is suffering.[16]  Prinsip-prinsip ini membedakan antara orang-orang Arab dari lainnya di seluruh dunia. Semua ini merupakan dasar tempat bersatunya agama Yahudi, Nasrani dan Islam, sekaligus membuat mereka menjadi  sebuah gerakan dalam sejarah kemanusiaan kendati mereka berbeda. Kesatuan kesadaran keagamaan dan kultur semitik tersebut bukan pengaruh tradisi Mesir  Kuno (1465-1165 BC), tidak juga oleh orang-orang Philistin, bangsa Hitti, Kassit dan orang Aria, yang juga sebenarnya telah mengalami semitisasi dan asimilasi (semitized and assimilated) lewat penaklukan para militer mereka.[17] Dalam teori progresif agama-agama tersebut, apakah dapat dikatakan satu agama yang belakangan  adalah pinjaman dari yang sebelumnya? Al-Faruqi, seorang tokoh Islam, pernah  mengkritik Barat yang sering mengatakan Islam telah banyak meminjam dari tradisi Yahudi dan Kristen. Dia mengatakan ko-eksisten dan penyamaan berbagai tradisi agama, tidak dipandang sebagai saling meminjam. Dia menekankan bahwa adalah suatu yang naif dan memalukan untuk menggunakan istilah “pinjaman meminjam” di antara dua gerakan besar, yang di dalamnya juga ditemukan kelanjutan dan perbaikan terhadap pendahulunya.Yang aneh lagi, menurut al-Faruqi, kebanyakan sarjana Barat justru tidak pernah mengatakan bahwa Kristen sebagai pinjaman dari Yahudi, Buddha pinjaman dari Hindu dan Protestan pinjaman dari Katolik. Demikian Islam menyebutnya identik dengan Yahudi dan Kristen, tetapi tetap direformasi dari penyimpangan-penyimpangan yang pernah terjadi.[18]Berdasarkan bacaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, agama-agama lain bisa dilompokkan ke dalam tiga bagian, yakni:  1.      Agama Yahudi dan Nasrani (Kristen)2.      Seluruh bentuk agama/kepercayaan  masyarakat  yang dipandang sebagai sebuah ekspresi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan3.       Manusia secara umum (Humans Überhaupt). Hubungan Islam dengan agama-agama lain tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Islam memberikan status istimewa kepada agama Yahudi dan Nasrani. Hal ini karena secara tekstual al-Qur’an menyebut kedua agama tersebut  agama Tuhan. Para pendiri agama ini adalah Ibrahim, Musa, Daud dan ‘Isa sebagai nabi-nabi Tuhan dan Kitab-Kitab yang mereka bawa seperti, Taurat, Injil, dan Zabur juga merupakan wahyu Tuhan. Untuk alasan ini, ia mengutip ayat-ayat al-Qur’an sebagai berikut:Surat al-‘Ankabu>t ayat 46: “Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu dan kami hanya kepadaNya berserah diri”. Surat asy-Syu>ra> ayat 15 yang menyatakan: Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan  Allah  dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak perlu ada pertengkaran  antara kami  dan kamu Allah mengumpulkan  antara kita  dan kepadaNya-lah kita kembali. Surat al-Baqarah, ayat 140: “Ataukah kamu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Kamukah yang lebih tahu atau Allah?”  Surat A>l ‘Imra>n ayat 84:  Katakanlah Muhammad: Kami berimana kepada Allah dan kepada  apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di atara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.  Surat an Nisa>’ ayat 163:  Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana  kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan kami telah mewahyukan pula kepada  Ibrahim, Isma’il,  Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Dawud.  Surat A<l ‘Imra>n ayat 2 dan 3: Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha hidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menurunkan al-Kita>b (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan kitab-kitab  sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.  Surat al-Ma>idah ayat 69: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Sha>bii>n dan orang-orang Nasrani>, barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan  mereka  tidak  bersedih hati.Jadi, secara teologis, penghormatan Islam terhadap agama Yahudi dan Nasrani, pendiri dan kitab sucinya bukanlah sebuah penghormatan biasa, akan tetapi atas dasar kebenaran agama-agama tersebut, bahwa semua juga dari Tuhan yang sama. Islam memandang agama-agama tersebut tidak hanya sebagai pandangan lain yang  harus dihadapi dengan toleran, akan tetapi sebagai agama yang sah  atas kebenaran dari Tuhan. Dengan demikian, statusnya yang sah tidaklah dalam pengertian sosial politik, budaya atau peradaban, akan tetapi keagamaan. Oleh karena itu,  Islam dipandang begitu unik, karena tidak  ditemukan agama lain di atas dunia ini yang percaya kepada kebenaran agama lain sebagai syarat utama pada kebenaran kepercayaan agamanya dan kesaksiannya.[19]Secara konsisten,  Islam melanjutkan dan mengakui kebenaran agama Yahudi dan Nasrani dan mengidentifikasikan diri dengannya. Di sini ditemukan sebuah hubungan teologis dan ideologis yang erat antara Islam, Kristen dan Yahudi, yaitu tiga  agama ini mengakui Tuhan yang satu. Pengakuan bersama ketiga agama tersebut atas  Tuhan yang satu  membawa konsekuensi bahwa wahyu dan agama-agama ini pada hakikatnya satu. Islam tidak memandang dirinya lahir dari kondisi keagamaan yang kosong (ex nihilo), tetapi sebagai penegasan kembali atas kebenaran yang pernah datang lewat para nabi sebelumnya. Mereka semua dipandang Muslim, dan wahyu mereka  satu dan serupa dengan wahyu Islam.Dalam menerjemahkan Hadis Nabi Muhammad saw. tentang kelahiran manusia yang fit}rah,  ia menulis: “All men are born Muslims (in the sense of being endowed with religio naturalis). It is their parents (tradition, history, culture, nurture as opposed to nature) that turn them into Christians and Jews. On this level of nature, Islam holds the believer and non-believer as equal partakers of the religion of God.”[20]Appresiasi Islam terhadap  agama lain, seperti yang terlihat dalam perspektif teologis di atas, dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap hubungan antara penganut agama-agama dalam perspektif Islam. Yang demikian dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, pernyataan  tersebut memberikan dasar yang baik bagi sebuah ekumene dunia  di bidang keagamaan, yang di dalamnya agama-agama saling menghormati klaim masing-masing,  tanpa membantah klaim mereka sendiri. Kedua, pandangan ini akan memberikan  suatu dasar yang sah  untuk mencari kesatuan agama-agama yang diperuntukkan bagi umat manusia. Jika dialog agama yang diinginkan bukan hanya sekedar basa-basi atau saling tukar informasi, maka  dialog itu harus mempunyai  sebuah norma keagamaan yang dapat mendamaikan  berbagai perbedaan di antara agama-agama. Penganut sebuah agama yang terlibat dalam sebuah dialog agama harus memiliki norma tersebut dan selalu memposisikan diri di atasnya. Islam menemukan norma ini di dalam agama fit}rah. Dengan norma ini  pihak-pihak yang mengikuti dialog  merasa merdeka untuk menghadapi tradisi-tradisi agama  historis lainnya. Jadi, tidak ada ide yang lebih merangsang kemerdekaan  ini daripada ajaran Islam, bahwa suatu tradisi agama adalah sebuah perluasan manusiawi dari agama fit}rah yang primal itu. Ketiga, pandangan ini sangat erat hubungannya dengan agama lain, terutama Yahudi dan Kristen yang tidak dianggapnya sebagai “agama-agama lain” akan tetapi sebagai dirinya sendiri.   Pengakuannya terhadap Tuhan agama Yahudi dan Kristen   sebagai Tuhannya sendiri, pengakuannya terhadap nabi-nabi mereka sebagai nabinya sendiri,  dan komitmennya terhadap ajakan Ila>hi terhadap ahli-ahli kitab untuk bekerjasama dan hidup bersama di bawah sabda Alla>h merupakan satu-satunya langkah  yang nyata menuju persatuan  dari  tiga agama  besar dunia tersebut.  Disamping dua agama Yahudi dan Nasrani, secara normatif Islam juga sudah membina hubungan dengan tradisi.  Cara yang ditempuh   untuk mendekatkan pengikut  agama-agama lain kepada Islam mungkin berbeda dengan cara yang ditempuh terhadap agama Yahudi dan Nasrani. Ini bisa saja terjadi, terutama seorang guru kesulitan dalam melacak cerita wahyu (sejarah sakral) tentang hubungan Islam dengan penganut agama selain Yahudi dan Nasrani tersebut. Ada cara praktis yang bisa ditempuh, seperti halnya yang dilakukan al-Faruqi,  yaitu dengan mengajukan konsep yang ia sebut ‘fenomena kerasulan’, kendatipun sebenarnya, secara tekstual, al-Qur’an menyebut golongan-golongan lain seperti: orang-orang S}a>bii>n, orang Maju>si, ‘A<d dan Thamu>d.[21]  Hal ini dilakukannya, paling tidak, atas dasar bahwa di samping golongan-golongan tersebut tidak dikelompokkan kepada Agama-Agama Ibrahim, juga data atas golongon tersebut relatif sulit ditemukan.  Menurut al-Faruqi, fenomena kerasulan itu universal, ia berlangsung  melewati semua ruang dan waktu.   Al-Qur’an surat al-Isra>’ ayat 15 menyebutkan: Barang siapa  berbuat sesuai dengan petunjuk Allah, maka sesungguhnya   itu untuk keselamatan dirinya sendiri, dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya  kerugian itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. Jadi fenomena kerasulan itu sebenarnya merupakan konsep yang mengandung pengertian bahwa pada setiap umat, Tuhan mengutus seorang nabi untuk membimbing mereka. Sebagian para nabi itu diketahui dan sebagian yang lain tidak.[22] Penyampaian dan penyebaran perintah Tuhan  yang demikian  disebut sebagai fenomena kerasulan. Sarana pemersatu umat beragama di sini tidak dilihat dari geneologi agama-agama dan pernyataan Tuhan secara tekstual, akan tetapi dilihat dari pesan semua nabi itu sama. Menurut al-Faruqi, universalitas dan absolusitas yang egaliterian ditemukan dalam konsep tersebut. Fenomena kerasulan itu bukan hanya dipandang universal, tetapi isi dari masing-masing  juga harus dipandang sama secara mutlak. Islam mengajarkan bahwa ajaran para nabi yang ditemukan pada  setiap waktu dan tempat pada dasarnya adalah satu. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan utusan-Nya, sebab, jika hukum-hukum Tuhan yang disampaikan kepada umat itu berbeda pada setiap tempat, maka fenomena kerasulan itu akan kurang efektif.Dari pandangan tersebut, secara doktrinal-teologis, dapat dipahami bahwa Islam memiliki akar yang kuat untuk melihat adanya hubungan yang erat antara setiap umat manusia yang mengaku dirinya beragama,   yang menurutnya juga atas dasar kebenaran wahyu. Mereka juga disebut  muslim dan harus dihormati sebagai manusia yang memiliki kebenaran, kewajiban, tanggung jawab, sistem peribadatan yang semuanya ditujukan kepada Tuhan. Karena kebenaran hubungan ini bersumber dari informasi wahyu, tidak ada sarana  lain yang memperteguhnya kecuali iman sebagai sebuah sikap yang tidak  menuntut pembuktian.Di samping membina hubungan dengan kelompok umat yang disebut beragama, Islam juga dasar normatif tersebut dapat dilihat dari Hubungan Islam dengan Umat Manusia (all Humans Überhaupt)            Dalam pandangan berikutnya, Islam   menetapkan adanya hubungan dengan manusia secara umum, sekalipun mereka ini disebut sebagai umat tidak bertuhan (areligionists dan atheists), yakni atas dasar adanya tanggung jawab untuk mengembalikan mereka sebagai anggota integral masyarakat, manusia universal. Di atas akar inilah ditemukan  raison d’etre penciptaan manusia. Dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 30:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan  khali>fah di bumi”. Mereka berkata: “Apakah  Engkau hendak menjadikan  orang yang merusak  dan menumpahkan darah di sana, sedangkan  kami bertasbih  memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman: ”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.  Oleh karena manusia dalam al-Qur’an dipandang sebagai khalifah, maka secara adikodrati dan teologis, seorang Muslim wajib melaksanakan  tugasnya  untuk memperbaiki alam, termasuk menjaga dan melestarikan hubungannya dengan manusia lain. Menjaga hubungan di sini tidak berdasarkan tuntutan sosial, akan tetapi atas dasar perintah  Tuhan. Jadi, dalam perspektif ini, menjaga keselarasan hidup umat manusia, membantu dan menjaga hak orang lain dipahami dalam kerangka teologis. Doktrin  tentang kesatuan eksistensial yang timbul dari keesaan Tuhan,    membiarkan sesuatu pada posisinya masing-masing, tetapi melihatnya sebagai satu kesatuan. Keseluruhan masyarakat  manusia merupakan  bagian dari keharmonisan global. Dalam gambaran  tersebut di atas, umat tersebut merupakan satu kesatuan.Jadi dengan pandangan tersebut, era teologis normatif ternyata dapat  melahirkan kesadaran akan adanya keteraturan.  Keteraturan sosial adalah keteraturan masyarakat dalam mendapatkan hak dan kewajiban yang sama, sehingga dapat menjamin kehidupannya  sebagai manusia.  Ide ketuhanan bukan tidak bisa menjadi justifikasi untuk faham-faham modern, seperti: humanisme, demokrasi, kesamaan dan kebebasan.

D.    Penutup

Di bagian akhir ini disampaikan bahwa pendidikan Islam multikultural bukan hanya secara konseptual memberikan kesamaan hak atas peserta didik dalam kelas untuk mendapatkan kesempatan di bidang apa saja, tetapi juga yang penting adalah menjelaskan kepada siswa bagaimana Islam membina hubungan yang baik dengan penganut tradisi di luar Islam yang pernah dibawa Nabi Muhammad beberapa abad yang silam. Pendidikan Islam multikultural seyogianya menjadikan dasar-dasar normatif ini sebagai landasan untuk merumuskan bagaimana semestinya proses pendidikan dalam Islam dikelola sehingga ia tidak asing dari masyarakat yang secara hukum alam bpunya budaya sendiri-sendiri. Salah satu pekerjaan rumah (PR) yang mendesak dikerjakan adalah  mengkaji ulang mata-mata pelajaran seperti  kurikulum sejarah kebudayaan Islam (SKI), atau yang terkait dengan proses pembelajaran mata pelajaran tersebut di kelas. Sering ditemukan dalam pembelajaran SKI ini ialah bahwa sejarah Islam itu selalu saja  dimulai dari priode Nabi Muhammad, tanpa melihat pada genetika maupun sejarah para nabi (Musa, Isa) yang membawa agama besar lainnya, seperti Yahudi dan Nasrani. DAFTAR PUSTAKAH.A.R., Tilaar Multicultural Education and Its Challenges in Indonesia”, makalah pada International Seminar on Multicultural Education, Cross Cultural  Understandding for Democracy and Justice, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005.Donna M. Gollnick dan Philip C. Chinn, Multicultural Education in a Pluralistic Society, edisi ke-5, New Jersey, Columbus: Merill an imprint of Prentice Hall,  1998.Jack Levy “Multicultural Education and Democracy in the United State”, makalah pada International Seminar on Multicultural Education Cross Cultural  Understandding for Democracy and Justice, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005.Endang Turmudi, “Pendidikan Multikultural di Indonesaia dan Tantangannya”  makalah yang dipresentasikan pada International Seminar on Multicultural Education Cross Cultural  Understandding for Democracy and Justice, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005.Isma’il Raji al-Faruqi, “The Role of Islam in Global Inter-Religious Defendence”  dalam Ataullah Siddiqui. Islam and Other Faiths, Horndon USA: The International  Institute  of Islam Thought, 1998 Isma’il, The Cultural Atlas of Islam, New York: Macmillan, 1986.Isma’il Raji al-Faruqi, “On The Nature of Islamic Da’wah” dalam International Review of Mission, Vol. LXV, No. 260, October, 1976.Étienne Gilson, Tuhan di Mata para Filosuf, (terj) Silvester  Goridus Sukur, Bandung: Mizan, 2004.Al-Faruqi, Islam and Christianty: Diatribe or Dialogue”  dalam Jurnal of Ecumenical Studies, volume 5, No. 1, Winter, 1968. Karen Armstrong, A History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine Books, 1993.al-Faruqi yang tertuang dalam  Historical Atlas of The Religions of The World, New York: The MacMillan Co., 1974.Akbar S. Ahmed,  Living Islam,  From Samarkand  to Stornoway,New York: Fact on File Inc., 1994.


[1]Diskusi tentang peran guru sebagai yang terpenting dari seluruh sistem pendidikan dapat dibaca dalam H.A.R., “Tilaar Multicultural Education and Its Challenges in Indonesia”, makalah pada International Seminar on Multicultural Education, Cross Cultural  Understandding for Democracy and Justice, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.

[2]Donna M. Gollnick dan Philip C. Chinn, Multicultural Education in a Pluralistic Society, edisi ke-5, (New Jersey, Columbus: Merill an imprint of Prentice Hall,  1998), hal. 3.

[3]Jack Levy “Multicultural Education and Democracy in the United State”, makalah pada International Seminar on Multicultural Education Cross Cultural  Understandding for Democracy and Justice, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.

[4]Endang Turmudi, “Pendidikan Multikultural di Indonesaia dan Tantangannya”  makalah yang dipresentasikan pada International Seminar on Multicultural Education Cross Cultural  Understandding for Democracy and Justice, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 1.

[5]Isma’il Raji al-Faruqi, “The Role of Islam in Global Inter-Religious Defendence”  dalam Ataullah Siddiqui. Islam and Other Faiths (Horndon USA: The International  Institute  of Islam Thought, 1998), hal. 74. Juga Al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam (New York: Macmillan, 1986),  hal. 190.

[6]Ibid., hal. 77.

[7]Ibid., hal. 74.

[8]Isma’il Raji al-Faruqi, “On The Nature of Islamic Da’wah” dalam International Review of Mission, Vol. LXV, No. 260, October, 1976,  hal. 305.

[9]Al-Faruqi, “The Role of Islam”, hal. 76.

[10]Étienne Gilson, Tuhan di Mata para Filosuf, (terj) Silvester  Goridus Sukur (Bandung: Mizan, 2004), hal. 168. Dalam buku ini ditulis mengenai pendekatan Immanual Kant dan Auguste Comte tentang pengetahuan.

[11]Al-Faruqi, Islam and Christianty: Diatribe or Dialogue”  dalam Jurnal of Ecumenical Studies, volume 5, No. 1, Winter, 1968,  hal. 45.

[12]Ibid., 49.

[13]Terma h{ani{f< identik dengan “agama tanpa nama” seandainya hal ini diartikan secara harfiyah dengan terma Anonymous Christians (Kristen tanpa nama) yang  dicetuskan oleh Karl Rahner pada tahun 1965.    Ide dasar dari  dua konsep tersebut kelihatan sama, kendati al-Faruqi mengatakan berbeda. Menurutnya, hanif adalah kategorisasi yang dibuat al-Qur’an, sedang Kristen tanpa nama adalah hasil sebuah intelektualisasi manusia (teologi modern)

[14]Karen Armstrong, A History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine Books, 1993, hal. 165.

[15]Analisis mendalam tentang kesadaran agama Timur Dekat Kuno ini dapat dilihat dalam

karya al-Faruqi yang tertuang dalam  Historical Atlas of The Religions of The World (New York: The MacMillan Co., 1974).

[16]Lihat al-Faruqi, Historical Atlas dalam pembahasan “The Ancient Near East”,  hal. 1-34.

[17]Ibid., hal. 76.

[18]Ibid., hal. xx.

[19]Ibid., hal. 75.

[20]Al-Faruqi, “Islam and Christianity”,  hal. 94.

[21]Al-Qur’an, surat al-Hajj, ayat 17 dan 42.

[22]Ada pendapat yang menyebutkan bahwa jumlah para Nabi itu di atas 124.000 orang, termasuk orang-orang besar seperti Plato dan Buddha,  kendati yang  demikian masih dalam perdebatan. Baca Akbar S. Ahmed,  Living Islam,  From Samarkand  to Stornoway (New York: Fact on File Inc., 1994), hal. 32.

pendidikan agama islam

Posted: 12th January 2012 by adi cahyo in Makalah, opini
Comments Off

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH
Oleh: A. Tafsir
PENDAHULUAN
Untuk melaksanakan pendidikan agama Islam yang berhasil perlu dilakukan pendidikan agama yang terpadu. Keterpaduan yang dimaksud adalah: keterpaduan tujuan, keterpaduan materi, keterpaduan proses.
Keterpaduan tujuan berarti pencapaian tujuan pendidikan merupakan
tanggung jawab semua pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan, yaitu pemerintah, kepala sekolah, guru, orang tua siswa, dan masyarakat.
Keterpaduan materi ialah keterpaduan isi kurikulum yang digunakan atau
materi pelajaran. Semua materi pelajaran yang dipelajari siswa handaknya
saling memiliki keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya. Pengikat keterpaduan tersebut adalah tujuan pendidikan keimanan dan ketakwaan. Jadi selain tujuan mata pelajaran itu sendiri, hendaknya semua bahan ajar mengarah kepada terbentuknya manusia beriman dan bertaqwa. Keterpaduan proses, berarti para pendidik hendaknya menyadari bahwa semua kegiatan pendidikan sekurang-kurangnya tidak berlawanan dengan tujuan pendidikan keimanan dan ketakwaan, bahkan dikehendaki semua kegiatan pendidikan membantu tercapainya siswa yang beriman dan bertakwa. Ada beberapa konsep yang harus dipahami dan diterapkan untuk menjadikan pendidikan agama (termasuk agama Islam) berhasil memberagamakan murid. Konseo-konsep itu diuraikan berikut ini.
MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH
Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar
memahami ajaran Islam (knowing), terampil melakukan ajaran Islam (doing), dan melakukan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (being).
Tujuan Pendidikan Agama Islam Adapun tujuan pendidikan agama Islam di sekolah umum adalah untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan melakukan, dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama pendidikan agama Islam di sekolah ialah keberagamaan, yaitu menjadi muslim yang sebenarnya. Keberagamaan inilah yang selama ini kurang di perhatikan.
Cara Mencapai Tujuan itu
Tujuan itu, secara sederhana, dapat dicapai dengan pengajaran kognitif
(untuk pemahaman), latihan melakukan (untuk keterampilan melakukan) dan usaha internaslisasi (untuk keberagamaan). Upaya memberagamakan akan lebih mudah dilakukan di sekolah bila pendidikan agama itu dijadikan core sistem pendidikan.
MENJADIKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEBAGAI CORE SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Bagaimana seharusnya konsep pendidikan nasional itu agar sesuai dengan
kehendak Pancasila dan UUD45? Untuk menjawab pertanyaan itu dibahas halhal berikut ini.
Cara Mengoperasikan Negara
Sebuah negara terbentuk bila memenuhi tiga syarat. Pertama, ada sekelompok orang yang bersepakat membentuk negara. Mereka inilah yang
disebut warga negara. Kedua, ada tempat tinggal atau wilayah yang jelas
batasnya. Inilah yang kelak disebut sebagai tanah air. Ketiga, ada nilai-nilai
luhur yang disepakati sebagai sumber aturan satu-satunya dalam mengoperasikan negara itu. Inilah yang disebut filsafat negara.
Setiap negara memiliki filsafat negara. Negara Indonesia memiliki filsafat
negara yang disebut Pancasila. Filsafat negara itu disepakati menjadi sumber nilai atau rujukan satu-satunya dalam membuat aturan mengoperasikan negara itu. Nilai-nilai dalam filsafat negara itu masih sangat umum dan abstrak. Nilainilai itu harus dioperasionalkan. Nilai dalam filsafat negara itu dioperasionalkan dalam konstitusi atau disebut juga undang-undang dasar (UUD). UUD itu pun masih umum sifatnya, maka UUD itu masih harus dioperasionalkan. UUD dioperasionalkan dalam undang-undang (UU). Kadang-kadang UU itu masih juga harus dioperasionalkan. UU dioperasionalkan ke dalam peraturan pemerintah (PP). Nah, PP masih perlu dioperasionalkan ke dalam surat keputusan menteri (SKM). Kadang-kadang SKM masih perlu dioperasionalkan dalam petunjuk teknis (JUKNIS). Urutan operasionalisasi itu terlihat lebih mudah dalam diagram berikut:
——————————————————-
ILSAFAT NEGARA
KONSTITUSI (UUD)
UNDANG-UNDANG (UU)
PERATURAN PEMERINTAH (PP)
SURAT KEPUTUSAN MENTERI (SKM)
PETUNJUK TEKNIS (JUKNIS)
————————————————————
Bagaimana aplikasi teori itu dalam menurunkan Pancasila ke dalam undangundang tentang sistem pendidikan nasional? Itu terlihat dalam uraian singkat berikut.
Core Pancasila adalah sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa).
menegaskan bahwa Ketuhanan YME itu adalah core Pancasila. Bila Ketuhanan YME adalah core Pancasila maka membaca Pancasila haruslah sebagai berikut:
(1) Ketuhanan YME;
(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab berdasarkan Ketuhanan YME;
(3) Persatuan Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan YME;
(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan berdasarkan Ketuhanan YME;
(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berdasarkan Ketuhanan
YME.
Karena Ketuhanan YME adalah core Pancasila, maka seluruh turunannya
(UUD, UU, PP, SKM, JUKNIS) haruslah menempatkan Ketuhanan YME sebagai core. Pendapat itu ditarik berdasarkan paradigma yang tergambar dalam chart berikut:
———————————————————————————-
ATURAN C O R E
———————————————————————————-
PANCASILA Ketuhanan YME
UUD Ketuhanan YME
UU Ketuhanan YME
PP Ketuhanan YME
SKM Ketuhanan YME
JUKNIS Ketuhanan YME
UUD45 harus menurunkan seluruh nilai yang ada di dalam Pancasila. Nilai
pertama dan utama yang ada dalam Pancasila ialah Ketuhanan YME dan nilai ini merupakan core Pancasila. Nilai ini telah turun dengan sempurna dalam UUD45.
Itu terlihat pada kata-kata “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha …” yang
tertulis dalam Pembukaan UUD45. Jadi, core UUD45 adalah Ketuhanan YME
itu. Agak disayangkan core itu tidaklah turun secara sempurna ke dalam UU
Nomor 20/2003. Itu terlihat pada pasal 3 UU itu; pada pasal tiga itu keimanan dan ketakwaan tidak merupakan core sistem pendidikan nasional. Pada pasal 3 UU No.20/2003 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Gambarnya sebagai berikut:
Keimanan dan ketakwaan menjadi core pendidikan nasional bila rumusan
tujuan itu sebagai berikut: pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. sebagai berikut:
Kreatif Cakap
Mandiri Berilmu
Demokratis
Bertanggung
Jaawab
Sehat
Berakhlak
Mulia
Beriman dan
bertakwa
Berilmu Cakap
Sehat Kreatif
Berakhlak
Mulia
Mandiri
Demokratis
Bertanggungjawab
Beriman
Bertakwa
OPTIMALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
OLEH GURU AGAMA ISLAM
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar
memahami (knowing), terampil melaksanakan (doing), dan mengamalkan
(being) agama Islam melalui kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan Agama
Islam di sekolah (bukan di madrasah) ialah murid memahami, terampil
melaksanakan, dan melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
sehingga menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT
berakhalak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Optimalisasi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak berarti penambahan
jumlah jam pelajaran di sekolah, tetapi melalui optimalisasi upaya pendidikan agama Islam. Itu berupa optimalisasi mutu guru agama Islam dan optimalisasi sarana.
Karakteristik utama PAI adalah banyaknya muatan komponen being, di
samping sedikit komponen knowing dan doing. Hal ini menuntut perlakuan
pendidikan yang banyak berbeda dari pendidikan bidang studi umum.
Pembelajaran untuk mencapai being yang tinggi lebih mengarahkan pada
usaha pendidikan agar murid melaksanakan apa yang diketahuinya itu dalam kehidupan sehari-hari. Bagian paling penting dalam PAI ialah mendidik murid agar beragama; memahami agama (knowing) dan terampil melaksanakan ajaran agama (doing) hanya mengambil porsi sedikit saja. Dua yang terakhir ini memang mudah.
Berdasarkan pengertian itulah pendidikan agama Islam memerlukan
pendekatan pendekatan naql, akal dan qalbu. Selain itu juga diperlukan sarana yang memadai sehingga mendukung terwujudnya situasi pembelajaran yang sesuai dengan karakter pendidikan agama Islam. Sarana ibadah, seperti masjid/mushallah, mushaf al-Quran, tempat bersuci/tempat wudlu merupakan salah satu contoh sarana pendidikan agama Islam yang dapat dipergunakan secara langsung oleh siswa untuk belajar agama Islam.
Peningkatan mutu guru agama Islam diarahkan agar ia mampu mendidik
muridnya untuk menguasai tiga tujuan tadi. Untuk itu perlu ditingkatkan
kemampuannya dalam penguasaan materi pelajaran agama, penguasaan
metodologi pengajaran, dan peningkatan keberagamaannya sehingga ia pantas menjadi teladan muridnya.
Banyak orang memberikan penilaian terhadap keberhasilan guru agama
Islam (GAI). Pada umumnya, mereka menyatakan bahwa GAI banyak gagal
dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam.
Penelitian menunjukkan bahwa pada aspek knowing dan doing guru
agama tidak gagal; mereka banyak gagal pada pembinaan aspek
keberagamaan (being). Murid-muridnya memahami ajaran agama Islam,
terampil melaksanakan ajaran itu, tetapi mereka sebagiannya tidak
melaksanakan ajaran Islam tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka memahami hukum dan cara shalat lima, terampil melaksanakan shalat lima, tetapi sebagian dari murid itu tidak melaksanakan shalat lima. Mereka tahu konsepjujur, mereka tahu cara melaksanakan jujur, tetapi sebagian dari mereka tetap sering tidak jujur dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi, aspek keberagamaan itulah yang sangat penting untuk ditingkatkan.
Berikut ini adalah uraian singkat tentang metode internalisasi yang
bertujuan untuk meningkatkan keberagamaan siswa sekolah.
Metode Internalisasi Sesuatu yang telah diketahui dapat saja sekedar diketahui, tempatnya di otak. Untuk mengetahui apakah murid sudah tahu, guru dapat memberikan soal ujian atau ulangan. Jika jawabannya benar, berarti murid sudah tahu. Murid mampu bahkan terampil melaksanakan yang ia ketahui itu. Tempatnya di anggota badan. Nah, yang di otak dan yang di badan itu boleh jadi menetap saja di situ; dua-duanya itu masih berada di luar kepribadian, masih berada di daerah ekstern, belum berada di daerah dalam kepribadian (intern). Karena itu pengetahuan dan keterampilan harus dimasukkan ke daerah intern. Proses memasukkan inilah yang disebut internalisasi. Untuk memahami konsep ini lebih dalam cobalah perhatikan uraian berikut ini.
Tiga Tujuan Pembelajaran
Ada tiga tujuan pembelajaran. Ini berlaku untuk pembelajaran apa saja.
1. Tahu, mengetahui (knowing). Di sini tugas guru ialah mengupayakan agar
murid mengetahui sesuatu konsep. Murid diajar agar mengetahui menghitung luas bidang. Guru mengajarkan bahwa cara yang paling mudah untuk mengetahui luas bidang segi empat ialah dengan mengalikan panjang (p) dengan lebar (l). Guru menuliskan rumus: Luas = panjang x lebar (L=pxl). Guru mengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh bidang. Untuk mengetahui apakah murid telah memahami, guru sebaiknya memberikan soalsoal latihan, baik dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Akhirnya guru yakin bahwa muridnya telah mengetahui cara menentukan luas bidang segi empat. Selesai aspek knowing.
2. Terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing).
Dalam hal luas bidang seharusnya murid dibawa ke alam nyata yaitu
menyaksikan bidang (bidang-bidang) tertentu, lantas satu persatu murid (dapat juga dibagi menjadi kelompok-kelompok) mengukur secara nyata dan menentukan luas bidang itu. Bila semua murid telah menghitung dengan cara yang benar dan hasil yang benar maka yakinlah guru bahwa murid telah mampu melaksanakan yang ia ketahui itu (dalam hal ini konsep dalam rumus itu tadi). Sampai di sini tercapailah tujuan pembelajaran aspek doing.
3. Melaksanakan yang ia ketahui itu. Konsep itu seharusnya tidak sekedar
menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Dalam hal contoh tadi setiap ia hendak mengetahui luas, ia selalu menggunakan rumus yang telah diketahuinya itu. Inilah tujuan pengajaran aspek being.
Dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai buruk-baik (seperti pengajaran Matematika itu) proses dari knowing ke doing, dari doing ke being itu akan berjalan secara otomatis. Artinya, bila murid telah mengetahui konsepnya, telah terampil melaksanakannya, secara otomatis ia akan melaksanakan konsep itu dalam kehidupannya. Nanti dalam kehidupannya, ia akan selalu mengalikan panjang dengan lebar bila mencari luas. Jika ia kurang baik akhlaknya, paling jauh ia menipu angka, mungkin dia menipu dalam mengukur panjang atau lebar, tetapi rumus itu tidak mungkin diselewengkannya. Karena itu dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai (maksudnya: konsepnya bebas nilai) proses pembelajaran untuk mencapai aspek being tidaklah sulit. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan konsep yang mengandung nilai. Perhatikan contoh berikut.
Tiga Tujuan Pembelajaran Shalat
Dengan memakai teori di atas kita dapat mengurai tiga tujuan pembelajaran
shalat sebagai berikut:
1. Tahu konsep shalat (knowing).
Dalam hal ini murid mengetahui definisi shalat, syarat dan rukun shalat,
serta hukum shalat dalam ajaran Islam. Untuk mencapai tujuan ini guru dan
murid dapat memilih metode yang telah banyak tersedia. Metode ceramah
boleh digunakan, diskusi juga mungkin, tanya jawab baik juga, dan seterusnya.
Untuk mengetahui apakah murid memang telah paham konsep, syarat dan
rukun shalat, guru dapat menyelenggarakan ujian berupa ujian harian yang
sering disebut ulangan harian, atau dengan cara lain. Yang diuji hanyalah aspek
pengetahuannya tentang konsep, syarat, dan rukun shalat. Jika hasil ujian
semuanya bagus, berarti tujuan pembelajaran asepek knowing telah tercapai.
1. Terampil melaksanakan shalat (doing).
Untuk mencapai tujuan ini metode yang baik kita gunakan ialah metode
demonstrasi. Guru mendemonstrasikan shalat untuk memperlihatkan cara
shalat. Lantas murid satu demi satu (imgat: satu demi satu)
mendemonstrasikan shalat. Guru dapat memutarkan video rekaman shalat
(lengkap fi’liyah dan qauliyahnya) dan murid menontonnya. Tatkala murid
diminta mendemonstrasikan, guru telah dapat sekaligus memberikan penilaian.
Jadi, di sini dilakukan pengajaran sekaligus penilaian. Bila guru telah yakin
seluruh (sekali lagi seluruh) murid telah mampu melaksanakan (artinya terampil dalam cara shalat), maka tujuan aspek doing telah tercapai.
2. Murid melaksanakan shalat dalam kehidupannya sehari-hari (being).
Nah, di sinilah bagian yang paling rumit itu. Sebenarnya, kekurangan
pendidikan agama di sekolah selama ini hanya terletak di sini, tidak pada aspek knowing dan doing. Bagian knowing dan doing telah beres dan telah mencapai hasil yang sangat bagus karena bagian ini memang mudah. Jadi, jika berbicara metode pembelajaran agama Islam, sebenarnya untuk tujuan pertama (knowing) dan kedua (doing) itu sudah tidak ada lagi persoalan, anggap saja telah selesai, tidak lagi perlu diberikan pelatihan tentang itu. Itu sudah beres, katakanlah baik secara keilmuan maupun dalam pelaksanaan. Bagaimana metode untuk meningkatkan keberagamaan siswa. Ini aspek being. Inilahpersoalan kita. Pengetahuan masih berada di otak, di kepala, katakanlah masih berada di pikiran, itu masih berada di daerah luar (extern); keterampilan melaksanakanjuga  masih berada di daerah extern. Upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan (doing) itu ke dalam pribadi, itulah yang kita sebut sebagai upaya internalisasi atau personalisasi. Internalisasi karena memasukkan dari daerah extern ke intern, personalisasi karena upaya itu berupa usaha menjadikan pengetahuan dan ketermpilan itu menyatu dengan pribadi (person).
Metode internalisasi itu diaplikasikan dalam berbagai teknik. Ada dua tenik
utama. Pertama, teknik pengajaran kognitif; untuk ini Anda dapat menyusun
program pengajaran kognitif dengan menggunakan uraian afektifnya Bloom
dan kawan-kawan. Kedua teknik non pengajaran kognitif, seperti yang diuraikan berikut ini.
1. Peneladanan
Pendidik meneladankan kepribadian muslim, dalam segala aspeknya baik
pelaksanaan ibadah khas maupun yang ‘am. Yang meladankan itu tidak hanya guru, melainkan semua orang yang kontak dengan murid itu, antara lain guru (semua guru), kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan segenap aparat sekolah termasuk pesuruh, penjaga sekolah, penjaga sepeda, dan orang-orang yang berjualan di sekitar sekolah. Terpenting ialah peneladanan oleh orang tua murid di rumah. Mereka itu seharusnya meneladankan tidak hanya pengamalan ibadah khas, tetapi juga ibadah yang umum seperti meneladankan kebersihan, sifat sabar, kerajinan, transparansi, musyawarah, jujur, kerja keras, tepat waktu, tidak berkata jorok, mengucapkan salam, seyum, dan seterusnya mencakup seluruh gerak gerik dalam kehidupan sehari-hari yang telah diatur oleh Islam. Mengapa peneladanan sangat efektif untuk internalisasi? Karena murid secara psikologis senang meniru, kedua karena sanksi-sanksi sosial, yaitu seseorang akan merasa bersalah bila ia tidak meniru orang-orang di sekitarnya.
Dalam Islam bahkan peneladanan ini sangat diistimewakan dengan
menyebut bahwa nabi itu teladan yang baik (uswah hasanah). Nabi dan Tuhan menyatakan teladanilah nabi. Dalam perintah yang ekstrem disebutkan barang siapa yang menginginkan berjumpa dengan Tuhannya hendaklah ia mengikuti Allah dan rasulNya.
Jika di atas dikatakan pembelajaran agama Islam selama ini gagal pada
bagian keberagaman, sangat mungkin guru agama dan para pendidik lainnya
kuarang memperhatikan teori ini.
2. Pembiasaan
Kadang-kadang kepala sekolah merasa terlalu banyak waktu akan terbuang
bila pembiasaan hidup beragama terlalu maksimal di sekolahnya. Ada
pembiasaan shalat berjama’ah zuhur, dikatakan merepotkan, memboroskan
waktu. Ada pembiasaan melaksanakan shalat jum’at di sekolah, disebut
memboroskan waktu dan merepotkan.
Satu kelas menengok kawannya yang sakit, digunakan waktu 60 menit, itu akan merugikan jam pelajaran efektif, urunan untuk membantu teman yang sakit disebut pemborosan, dan sebagainya.
Pandangan ini sebenarnya sangat keliru. Inti pendidikan yang sebenarnya
ialah pendidikan akhlak yang baik. Akhlak yang baik itu dicapai dengan
keberagamaan yang baik, keberagamaan yang baik itu dicapai dengan –antara lain- pembiasaan. Jarang kepala sekolah menyadari bahwa bila akhlak murid baik, maka pembelajaran lainnya akan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dengan hasil yang lebih baik. Konsep ini sekalipun sangat jelas, pada umumnya belum juga disadari oleh para guru.
3. Shalat sunnat mutlak sebagai pengganti ceramah Israk Mikraj.
Tatkala tiba hari peringatan isra mikraj, biasanya ada ceramah. Isi ceramahnya sudah ditebak murid-murid. Karena itu sesekali tidak perlu ada ceramah.
Diumumkan pada murid, besok siap wudluk dari rumah, bawa pakaian slahat, kita akan mengadakan peringatan israk mikraj. Tiba waktunya, pada jam pelajaran pertama, semua murid disuruh masuk musholla atau aula, lantas melakukan shalat sunat sebanyak –misalnya- 20 rakaat, lakukan dua-dua, namanya shalat sunat mutlak. Itu akan menggunakan waktu sekitar 30 menit termasuk persiapan. Isra mikraj itu intinya ialah shalat. Setelah selesaikembalilah ke kelas, jam pelajaran efektif hanya terpakai sekitar 40 menit secara keseluruhan.
4. Membaca shalawat sebagai pengganti ceramah Maulud Nabi.
Tatkala peringatan maulud nabi, sesekali tidak perlu ada ceramah, toh
ceramahnya rata-rata sudah dapat ditebak. Guru mengumumkan pada murid bahwa besok kita mengadakan peringatan maulud nabi. Besoknya murid-murid semua dikumpulkan di aula atau musholla (bila dapat menampung). Guru mengomando, mari kita membacakan shalawat untuk nabi, selama 20 menit. Guru agama, atau guru lain, atau salah seorang murid memimpin pembacaan shalawat. Bila telah selesai, kembalilah ke kelas. Jam pelajaran efektif hanya terpakai kurang dari 30 menit.
5. Berbagai perlombaan Perlombaan-perlombaan banyak yang dapat dimanfaatkan sebagai teknik internalisasi yang dimaksud. Perlombaan mengarang yang isinya diarahkan ke nilai-nilai keberagamaan, perlombaan berpidato atau khutbah, cerdas cermat, dan sebangsanya merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan.
6. Berbagai doa
Do’a akan memulai pelajaran boleh saja sekali-sekali membaca sesuatu ayat
(atau beberapa ayat) al-Qur`an. Do’a selesai belajar sebaiknya jangan satu
macam. Boleh diganti dengan bacaan semacam wirid. Misalnya, guru berkata anak-anak kita telah selesai belajar, kita akan pulang kerumah, mari kita membaca ayat kursi 3 kali, mulai. Lantas pulang dan guru tidak usah
mengucapkan apa-apa lagi.
7. Menyanyikan lagu-lagu keagamaan
Ini baik sekali bagi murid-murid Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
8. Membaca Al-Qur`an
Sekira 10 menit sebelum jam pelajaran pertama dianjurkan anak-anak itu
membaca al-Qur`an yang dibawanya dari rumah.
9. Selalu thahur
Maksudnya, para murid itu selalu dalam keadaan wudluk, wudluknya tidak
pernah batal. Guru dapat menganjurkan murid-muridnya agar selalu thahur;
tentu saja guru meneladankan.
10. Puasa sunnat
Murid-murid sangat dianjurkan melaksanakan puasa sunnat, misalnya puasa
Senen Kamis, Senan saja atau Kamis saja, sebaiknya guru meneladankan.
Pendidikan menuju keberagamaan yang tinggi harus didukung oleh semua
pihak, termasuk orang tua di rumah. Dukungan itu sebenarnya merupakan
bagian dari penerapan metode internalisasi tadi.
Upaya menemukan teknik-teknik itu harus ada pada guru-guru, spesifikasi
sekolah dan tempat pendidikan masing-masing berbeda, teknik-tenik tertentu
tepat pada suatu tempat belum tentu cocok digunakan di tempat lain.
Kebiasaan di pesantren akan merupakan sumber belajar guru dalam rangka
menemukan teknik lebih banyak dan lebih variatif. Memasukkan konsep ke
dalam susunan berbentuk karangan indah, nyanyian, merupakan kemungkinan
teknik internalisasi yang cukup efektif terutama pada murid-murid tingkat
taman kanak-kanak dan sedolah dasar sembilan tahun.
Apa yang dikemukakan di atas, yaitu metode internalisasi dan tekniktekniknya,
masih dalam bentuk gagasan. Nanti setelah sering dicobakan dan
ternyata hasilnya baik, maka gagasan tersebut menjadi teori ilmu (sain)
pendidikan; sementara ini gagasan itu masih berada di daerah filsafat
pendidikan.
INTEGRASI AJARAN AGAMA ISLAM KE DALAM
PEMBELAJARAN
Penyelenggaraan pendidikan keimanan dan ketakwaan (imtak) itu adalah
tugas sekolah, bukan tugas guru agama saja. Tujuan pendidikan imtak itu tidak
akan tercapai bila hanya dilakukan oleh guru agama saja. Karena itu kepala
sekolah, semua guru, semua karyawan, dan orang tua murid harus ikut
menyelenggarakan pendidikan imtak itu.
Bab ini membicarakan sebagian yang harus dilakukan oleh guru umum
dalam rangka membantu terselenggaranya pendidikan imtak agar pendidikan
imtak itu lebih maksimal hasilnya.
Yang dimaksud dengan guru umum ialah guru yang mengajarkan mata
pelajaran umum, seperti guru Matematika, guru Biologi, guru Olah Raga, dan
lain-lain, pokoknya guru selain guru agama. (Penyebutan guru umum ini sudah
13
tepat; itu bukan pertanda kita menganut dikotomi. Umum itu lawannya khusus,
bukan agama. Sering orang mengatakan umum-agama sebagai tanda penganut
dikotomi).
Bagaimana cara guru umum melaksanakan pendidikan imtak, sementara ia
bukan guru agama? Caranya ialah dengan mengintegrasikan ajaran agama ke
dalam pembelajarannya.
Pengintegrasian itu dapat dilakukan pada:
a. Pengintegrasian materi pelajaran,
b. Pengintegrasian proses
c. Pengintegrasian dalam memilih bahan ajar
d. Pengintegrasian dalam memilih media pengajaran.
Pengintegrasian materi, maksudnya ialah mengintegrasikan konsep atau
ajaran agama ke dalam materi (teori, konsep) pengetahuan umum yang sedang
diajarkan. Ini terbagi menjadi beberapa kemungkinan:
a. Pengintegrasian filosofis, bila tujuan fungsional mata pelajaran (umum)
sama dengan tujuan fungsional mata pelajaran agama. Misalnya: Islam
mengajarkan perlunya hidup sehat, sementara Ilmu Kesehatan juga
mengajarkan perlunya hidup sehat. Matematika mengajarkan teliti, Islam
juga mengajarkan teliti.
b. Pengintegrasian karena konsep agama berlawanan dengan konsep
pengetahuan umum. Misalnya (jika benar) guru Biologi mengajarkan
manusia berasal dari monyet (mungkin mengacu pada teori Darwin)
sementara guru agama Islam mengajarlkan bahwa manusia berasal dari
Adam, dan Adam dari tanah. Yang berlawanan ini harus diselesaikan:
mungkin guru agama Islam (GAI) yang salah mungkin juga guru Biologi
yang keliru. Yang penting, konsep yang berlawanan itu jangan diajarkan
seperti itu. Misalnya, GAI mengajarkan bahwa bunga bank, betapapun
kecilnya, haram; sementara guru Ekonomi mengajarkan bahwa bunga bank
boleh. Ini pun harus diselesaikan. Murid tidak boleh diajari konsep yang
berlawanan.
c. Pengintegrasian dapat dilakukan jika konsep agama saling mendukung
dengan konsep pengetahuan (umum). Misalnya Guru Ilmu Kesehatan
sedang mengajarkan konsep bahwa kebanyakan penyakit berasal dari
makanan; lantas ia mengajarkan bahwa diet itu perlu untuk kesehatan. guru
Ilmu Kesehatan itu dapat meneruskan bahwa puasa adalah diet yang sangat
baik. Cukup begitu saja, tidak usah menuliskan dalil atau uraian lebih
banyak. Misalnya lainnya. Guru Astronomi sedang menerangkan benda
angkasa, bahwa benda angkasa itu beredar pada garis edarnya masingmasing.
Lantas ia mengatakan bahwa ada ayat al-Qur`an yang menjelaskan
bahwa memang benda-benda di langit itu beredar pada garis edarnya
masing-masing karena diatur Allah demikian. Cukup sebegitu, tidak usah
pakai dalil atau uraian lain.
Pengintegrasian perlu dilakukan juga dalam proses pembelajaran.
Konsepnya: jangan ada proses pembelajaran yang berlawanan dengan ajaran
agama Islam. Misalnya: guru renang laki-laki mengajari murid perempuan
14
berenang. Penyelesaiannya ialah mengganti guru renang lelaki dengan guru
renang perempuan. Dengan demikian proses berjalan sesuai dengan ajaran
Islam. Demikian juga pada proses yang lain seperti pengajaran menari dan lain
sebagainya.
Pengintegrasian perlu juga dilakukan dalam memilih bahan ajar. Misalnya
guru Bahasa Indonesia dapat memilih bahan ajar yang memuat ajaran Islam
untuk dibahas, misalnya dalam memilih sanjak; juga dalam memilih bahan
bacaan lainnya. Di sini, guru Bahasa Indonesia itu memang berniat hendak
meningkatkan imtak siswa melalui pengajaran Bahasa Indonesia.
Pengintegrasian juga dapat dilakukan dalam memilih media. Misalnya,
tatkala guru Matematika memilih sosok, ia menggunakan sosok mesjid untuk
mengganti rumah. Ia mengajarkan bahwa satu mesjid ditambah dua mesjid
sama dengan tiga mesjid. Tentu itu hanya dilakukan sekali-sekali saja.
Pengintegrasian itu dilakukan secara selintas, seperti tidak disengaja, tidak
formal, tidak ditulis dalam lesson plan (persiapan mengajar), tidak dievaluasi
baik pada post-test mapun pada ulangan umum, tidak mengurangi waktu
efektif pengajaran umum.
Usaha pengintegrasian materi ini, di samping untuk membantu tercapainya
tujuan PAI juga berdaya dalam menghilangkan pandangan dikotomis yang
menganggap bahwa pengetahuan (pengetahuan ilmu, pengetahuan filsafat,
pengetahuan mistik) merupakan pengetahuan bebas nilai. Demikian pula
agama dipandang sebagai sesuatu yang tidak memiliki kaitan dengan
pengetahuan itu. Keduanya tidak dapat dipertemukan, bahkan agama dapat
dianggap penghambat perkembangan pengetahuan.
Pandangan tersebut merupakan akibat dari cara pandang yang keliru, baik
terhadap agama maupun terhadap pengetahuan umum. Jika integrasi agama
dengan pengetahuan umum berhasil dengan baik, maka salah satu hasilnya
ialah agama itu akan memandu pengetahuan umum.
INTEGRASI AJARAN ISLAM KE DALAM
KEGIATAN EKSTRA KURIKULER
Melalui kegiatan ekstrakurikuler peningkatan imtak siswa dapat dilakukan
sekolah dengan memfasilitasi siswa mengembangkan berbagai kegiatan
ekstrakurikuler baik yang berkaitan dengan mata pelajaran umum yang
bernuansa keagamaan maupun kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam
pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler berupa kegiatan pengayaan dan
perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler. Contoh-contoh
kegiatan ekstra kurikuler antara lain ialah kepramukaan, usaha kesehatan
sekolah, olah raga, palang merah, kesenian.
15
Berbagai kegiatan ekstra kurikuler itu dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan keberagamaan siswa. Sebagai contoh guru mata pelajaran IPS
dapat mengembangkan pokok bahasan yang berkaitan dengan kehidupan
sesama manusia. Dalam pokok bahasan tersebut diuraikan mengenai
tanggungjawab terhadap orang miskin. Pokok bahasan ini dapat dikembangkan
menjadi suatu kegiatan ekstrakurikuler berupa pengumpulan dana, atau bahan
makanan, atau pakaian layak pakai termasuk pakaian seragam sekolah layak
pakai untuk disumbangkan kepada orang yang memerlukan.
Penyalurannya biasa melalui yayasan, panti, atau diberikan secara langsung.
Dalam hal jenis pengumpulan dana, dana tersebut juga dapat diberikan dalam
bentuk beasiswa kepada teman-teman sekolahnya.
Ekstrakurikuler yang Mendukung Peningkatan Imtak
1) Tidak boleh ada kegiatan ekstrakurikuler yang tidak memberi
kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan kewajiban agamanya.
2) Membuat berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang bernuansa kondusif
dalam mendukung pengamalan nilai-nilai imtaq.
Kegiatan lomba dalam upaya memantapkan hidup bersih dapat dilakukan
melalui kegiatan ekstrakurikuler, misalnya saja masing-masing kelas diberi
tugas merawat kebersihan kelas dan merawat taman. Kegiatan ini dapat
berlanjut menjadi kegiatan lomba secara sederhana sebagai upaya memotivasi
para siswa.
Banyak hal mengenai ajaran Agama Islam yang dapat diaktualisasikan
kedalam kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dilakukan setiap saat sebagai
upaya pembinaan secara ajeg. Ajaran yang mengajak hidup hemat, tidak boros
sebagai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, serta pokok bahasan
membahas tentang kebutuhan manusia yang tak terbatas berhadapab dengan
sarana atau sumber yang terbatas (kelangkaan) dan adanya pengorbanan
ekonomis untuk memperolehnya sebagai poko bahasan mata pelajaran
Ekonomi, dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan menabung.
Kegiatan ekstrakurikuler dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan
keseharian yag terintegrasi dengan tata kehidupan sekolah. Misalnya kelompok
kebersihan kelas, kelompok pelestarian alam atau taman sekolah atau kelompok
diskusi.
PENCIPTAAN SUASANA SEKOLAH YANG KONDUSIF BAGI
PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN SISW
Suasana sekolah diduga sangat berpengaruh terhadap berkembangnya
keberagamaan siswa. Suasana sekolah yang kondusif itu mengusahakan hal-hal
berikut.
1) Keamanan
16
Keamanan merupakan modal pokok dalam menciptakan suasana yang
harmonis dan menyenangkan di sekolah. Keamanan di sini adalah rasa aman
adan tentram serta bebas dari rasa takut, baik lahir maupun batin, yang
dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Suasana sekolah yang aman dan tentram
dapat memacu warga sekolah untuk melakukan aktivitas dengan baik, tanpa
diikuti rasa waswas yang dapat mengganggu proses belajar-mengajar di kelas.
Tanpa rasa aman, maka semua kegiatan pendidikan termasuk upaya
peningkatan iman dan taqwa siswa tidak akan berjalan dengan baik.
Rasa aman dapat diciptakan melalui penataan kondisi sekolah yang
sedemikian rupa, sehingga ancaman dan gangguan baik-baik fisik maupun
psikologis dapat diatasi dengan baik. Sekolah harus proaktif mengantisipasi dan
mengatasi segala bentuk gangguan baik yang timbul dari dalam maupun luar
lingkungan sekolah. Sekolah juga haus memberikan rasa aman kepada semua
warga sekolah untuk berpikir, berpedapat, dan melakukan hal-hal yang bersifat
konstruktif dan produktif. Dengan demikian fungsi sekolah selain memberikan
jaminan keamanan atas kebebasan menyatakan pendapat dan bertindak sesuai
dengan tuntutan norma.
2) Kebersihan
Kebersihan adalah sebagian dari iman. Suasana bersih, sehat dan segar
yang terasa dan tampak pada seluruh ruang kelas, ruang kerja, kamar mandi,
halaman, dan fasilitas sekolah lainnya merupakan kodisi yang harus diciptakan
sekolah untuk mendukung iklim sekolah yang kondusif. Selain perintah agama,
kebersihan merupakan bagian dari pendidikan kesehatan karena bersih
merupakan cermin keterauran dalam kehidupan. Karena itu, kebiasaan hidup
bersih hendaknya disosialisasikan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan
nyata di sekolah.
Hidup bersih tidak hanya terbatas pada aspek fisik belaka, namun juga
menyangkut aspek psikis. Kebersihan batiniah merupakan aspek yang harus
mendapat perhatian yang seksama dari sekolah. Kebersihan batiniah
menyangkut berbagai perilaku psikis yang diwujudkan dalam sikap jujur,
pemaaf, ikhlas, tidak dengki, tidak dendam, dan semacamnya. Dengan kata
lain, kebersihan batin merupakan upaya membersihkan diri dari penyakit hati
yang dapat merusak keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan serta dapat
merusak tali silaturahim antar sesama muslim dan umat manusia apada
umumnya.
3) Ketertiban
Ketertiban adalah suatu kondisi yang mencerminkan suatu keharmonisan
dan keteraturan dalam pergaulan antarwarga sekolah, dalm penggunaan dan
pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, dalam penggunaan waktu belaajr
mengajar, dan dalam hubungan dengan masyarakat sekitar. Ketertiban ini tidak
tercipta dengan sendirinya melainkan diupayakan oelh setiap warga sekolah
untuk mewujudkannya melalui lingkungan yang terkecil, seperti kelas,
perpustakaan, ruang kerja, dan kamar mandi/toilet kemudian meluas ke
lingkungan dalam sekolah dan lingkungan luar sekolah.
17
Untuk mewujudkan kondisi tertib ini, sekolah hendaknya menetapkan
seperangkat tata tertib sekolah yang meliputi tata tertib siswa, tata tertib guru
dan karyawan. Di damping itu, sekolah hendaknya menyediakan sarana dan
prasarana sekolah untuk menunjang terlaksananya ketertiban sekolah seperti
tempat parkir, tempat sampah, kantin/tempat makan dan semacamnya.
Pengawasan pelaksanaan ketertiban juga diperlukan agar semua warga sekolah
dapat mentaati semua tata tertib sekolah dan menggunakan semua perangkat
sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan fungsi masing-masing.
4) Keteladanan
Nabi Muhammad SAW berhasil menanamkan iman amat kuat pada
muridnya. Salah satu cara yang beliau tempuh dalam menanamkan iman ialah
dengan meneladankan; beliau jauh lebih banyak meneladankan daripada
mengajarkan secara lisan.
Keteladanan merupakan salah satu kunci utama dalam penanaman dan
peningkatan iman, sebab dengan menampilkan berbagai bentuk aplikasi dari
keimanan dan ketakwaan, orang yang melihatnya akan langsung mampu
meniru perbuatan baik tersebut, tanpa sulit memahaminya.
Keteladanan merupakan salah satu metoda dalam penanaman nilai-nilai
agama yang paling efektif. Menyampaikan ajaran Islam seharusnya lebih
banyak melalui peneladanan, sehingga nilai-nilai kebenaran itu tidak hanya
eksis pada tataran kognitif saja, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan
sehari-hari.
Para guru yang memiliki kewajiban menyampaikan nilai-nilai keimanan dan
ketakwaan, tidak merasa cukup dengan hanya mengajarkannya di kelas melalui
pembelajaran, akan tetapi guru merasa wajib menyampaikan perannya sebagai
sosok yang mampu ditaati dan ditiru siswa. Maka metoda peneladanan ini akan
semakin penting perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif untuk
menumbuhkembangkan keimanan dan ketakwaan siswa. Metode ini amat
penting diketahui dan digunakan juga oleh orang tua di rumah.
5) Keterbukaan
Sifat transparansi dari sistem manajemen sekolah dan pada setiap
permasalahan, merupakan sifat keterbukaan yang harus ada pada sistem
persekolahan. Dengan adanya keterbukaan dari setiap insn sekolah, diharapkan
tidak terjadi adanya saling curiga, berburuk sangka, beriri hati, fitnah dan sifatsifat
buruk lainnya yang cenderung mengaiaya dan merusak hak orang lain.
Sistem manajemen sekolah yang transparan terutama dalam manajemen
keuangan sangatlah penting, sebab seringkali masalah keuangan ini jika
dikelola dengan tidak transparan menyebabkan masalah-masalah yang serius,
yang berakibat tidak harmonisnya hubungan antar insan sekolah. Keadaan
harmonis ini akan menciptakan situasi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya
keimanan dan ketaqwaan insan sekolah, terutama siswa.
Untuk menciptakan suasana seperti itu sebaiknya diperhatikan hal-hal berikut ini.
1) Peraturan Sekolah
18
Peraturan yang dikeluarkan sekolah merupakan aspek pertama yang harus
ada dalam upaya pengembangan suasana sekolah yang kondusif. Salah satu
dari peraturan ini adalah tata tertib sekolah yang memuat hak, kewajiban,
sanksi, dan penghargaan bagi siswa, kepala sekolah, guru dan karyawan. Tata
tertib sekolah ini hendakmnya mencerminkan nilai-nilai ketakwaan.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk dimasukan dalam tata
tertib sekolah dalam rangka peningkatan imtaq siswa antara lain:
a) Kewajiban mengucapkan salam antar sesama teman, dengan kepala sekolah
dan guru, serta dengan karyawan sekolah apabila baru bertemu pada pagi
hari atau mau berpisah pada siang/sore hari.
b) Berdoa sebelum guru akan memulai mengajar di pagi hari dan ketika
pelajaran akan diakhiri di siang/sore hari.
c) Kewajiban untuk melakukan ibadah bersama, seperti shalat dzuhur
berjamaah untuk melatih disiplin beribadah dan jiwa kebersamaan.
d) Kewajiban untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh
sekolah, seperti peringatan hari-hari besar islam, pesantren ramadhan,
pesantren kilat semacamnya.
e) Kewajiban untuk ikut menciptakan suasana aman, bersih, sehat, indah,
tertib, kekeluargaan, dan rindang di lingkungan sekolah dan sekitarnya.
f) Siswa berpakaian sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam, seperti
memakai kerudung bagi siswa putri.
Peraturan tersebut hendaknya dibuat dan dibahas bersama-sama dengan
melibatkan unsur kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, dan Komite Sekolah
sehingga berbagai nilai, norma, dan aturan yang telah dibuat dapat disepakati
dan dilaksanakan bersama secara konsekuen.
2) Tenaga Pembina
Untuk menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi peningkatan imtaq
siswa diperlukan tenaga pembina yang secara terus menerus melakukan
bimbingan, arahan, dan pengawasan, terhadap segenap aspek yang berkaitan
dengan program imtaq di sekolah. Kegiatan pembinaan ini harus melibatkan
segenap potensi sumberdaya manusia yang tersedia disekolah, sehingga
gerakan pembinaan ini berjalan secara serentak dan terintegrasi.
Setidaknya ada tiga komponen tenaga pembina suasana sekolah yang
kondusif bagi peningkatan imtak siswa, yaitu kepala sekolah, guru agama, dan
guru umum.
a) Kepala Sekolah
Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah mempunyai peran yang
sangat sentral dalam upaya penciptaan suasana sekolah yang memungkinkan
dapat mendorong peningkatan imtak siswa. Peran ini dapat dilakukan kepala
sekolah sebagai manajer pendidikan dalam mengelola segenap sumberdaya
pendidikan (sumberdaya manusia, dana, dan sarana parasarana) yang tersedia
di sekolah.
Dalam upaya ini, kepala sekolah harus mampu mengatur tenaga pembina
utama kegiatan pembinaan imtaq siswa, menyediakan sarana dan parasarana
yang diperlukan, menggalang dan menyediakan berbagai dana yang diperlukan
19
untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan imtaq.
Berbagai upaya ini hendaknya diprogramkan secara integral dengan program
kegiatan sekolah yang yang disusun setiap tahun dengan melibatkan berbagai
pihak termasuk orang tua murid.
b) Guru Agama Islam
Guru Agama Islam (GAI) merupakan tenaga inti yang bertanggung jawab
langsung terhadap pembinaan watak, kepribadian, keimanan, dan ketaqwaan
siswa di sekolah.
c. Guru Umum Tenaga Kependidikan Lainnya
3) Sarana Prasana
Faktor dominan, disamping ketenagaan dan peraturan sekolah, dalam
menciptakan suasana sekolah yang kondusip bagi peningkatan imtak siswa
adalah ketersediaan sarana dan parasarana sekolah yang dapat menunjang
kegiatan pembinaan. Sarana dan prasarana pendidikan yang baik dan
penataannya yang teratur akan memberikan nuansa yang menyenangkan bagi
segenap warga sekolah dalam melaksanakan kegiatan masing-masing termasuk
dalam pembinaan keagamaan siswa.
Beberapa sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menciptakan suana
sekolah yang kondusif bagi pembinaan siswa antara lain:
a) Lingkungan fisik dan psikologis sekolah yang aman, bersih dan sehat, yang
dilengkapi dengan pemagaran sekeliling sekolah, tanaman dan pepohonan
yang rindang kebun dan tanaman bunga yang tertata rapi, lingkungan
sekolah yang jauh dari kebisingan suara dan polusi udara, serta lingkungan
sekolah yang bebas dari jaringan dan pusat peredaran obat-obatan
psikotropika dan obat terlarang lainnya.
b) Tempat ibadah berupa mushallah atau masjid yang dapat menampung siswa
untuk melaksanakan shalat wajib berjamaah, khususnya shalat duhur dan
shalat Juma’at. Bilamana sekolah belum mempunyai mushalla atau masjid
ruang-ruang sekolah lainnya yang volume penggunaannya relatif kecil atau
ruang yang tidak dipakai dapat dijadikan sarana ibadah siswa. Mushalla atau
ruang ibadah yang kecil dapat digunakan secara bergantian antar kelompok
siswa untuk melakukan shalat berjamaah dengan bimbingan GPAI atau guru
lainnya yang ditunjuk.
c) Tempat pengambilan air wudlu bagi siswa yang akan menjalankan shalat.
Tempat ini dapat menggunakan kamar kecil yang ada atau kran air yang
dibuatkan secara khusus di dekat mushalla atau ruang ibadah. Kran air yang
dibuat khusus ini lebih baik dari pada kamar kecil karena lebih terjamin
kebersihannya dan siswa dapat mengambil air wudlu dari air yang mengalir.
d) Aula atau ruang besar yang dapat digunakan untuk kegiaran ceramah
agama, peringatan hari-hari besar Islam atau diskusi tentang masalah imtaq
dan iptek. Biasanya di sekolah-sekolah besar ruang pertemuan dengan
kapasitas besar sudah tersedia, sehingg ruang tersebut dapat digunakan
secara bergantian dengan acara-acara lainnya.
e) Kitab suci al-Quran dengan terjemahnya, kitab-kitab hadits dengan
terjemahnya, buku-buku ibadah, fiqh, akhlaq, tarikh islam, dan buku-buku
20
islam lainnya. Kitab dan buku tentang keislaman ini sebaiknya diletakkan di
mushalla atau perpustakaan yang setiap saat dapat dipinjam atau dibaca
oleh siswa.
f) Hiasan dinding, ornamen, dan kaligrafi yang bernuansa Islam yang dapat
dipajang pada ruang-ruang kelas, ruang guru dan tata usaha, perpustakaan,
serta ruang lainnya yang memungkinkan.
g) Kamar kecil tempat pembuangan air kecil dan besar yang terjaga
kebersihannya yang dibagi antara siswa laki-laki dan perempuan.
h) Penyediaan air bersih dan pembuangan air kotoran merupakan syarat
terjaganya fasilitas umum ini. Walaupun di sekolah terdapat petugas
kebersihan, namun program untuk menjaga kebersihan kamar kecil menjadi
tanggung jawab warga sekolah, khususnya para siswa.
Program Kegiatan
Beberapa program kegiatan yang dapat dilakukan sekolah bagi
pengembangan suasana sekolah kondusif antara lain:
1) Menata lingkungan sekolah secara teratur, antara lain taman dan kebun
sekolah, halaman bermain, tempat duduk untuk beristirahat, tanaman dan
pepohonan lainnya, serta bangunan fisik lainnya. Program ini bisa dilakukan
dengan memberikan tanggung jawab pemeliharaan lingkungan kepada
siswa secara berkelompok yang diatur secara bergantian.
2) Melaksanakan kebiasaan bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntunan
akhlaqul karimah yang dicontohkan Rasulullah saw, seperti mengucapkan
dan atau menjawab salam kepada sesama teman di sekolah, berdoa
sebelum memulai pelajaran, mendoakan teman atau anggota keluarganya
yang sakit, atau yang sedang ditimpa musibah, bersikap santun dan rendah
hati, saling menghormati dan menolong antar sesama, dan semacamnya.
Upaya pembiasaan ini harus dilakukan setiap hari, sejak siswa masuk di
kelas satu, sehingg akhlak yang luhur ini menjadi budaya pergaulan siswa di
sekolah.
3) Melaksanakan shalat dhuhur berjamaah dan shalat juamat untuk
meningkatkan disiplin ibadah dan memperdalam rasa kebersamaan dan
persaudaraan antar sesama muslim. Dalam kegiatan ini, murid secara
bergantian menjadi imam, muadz-dzin, khatib, dan penceramah. Sesudah
shalat dhuhur diupayakan diadakan kuliah tujuh menit (kultum) untuk
melatih siswa mengemukakan pokok-pokok pikirannya tentang nilai dan
norma agama islam yang menjadi anutan dan bimbingan perilaku setiap
hari.
4) Mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah (ZIS), mengumpulkan pakaian
bekas seragam sekolah atau pakaian bekas lainnya, mengumpulkan bukubuku
bekas yang tidak terpakai untuk diberikan kepada fakir miskin, anak
yatim piatu, dan orang lain yang membutuhkan. Kegiatan ini bermanfaat
untuk membina sikap dan rasa peduli antar sesama yang secara ekonomis
kurang beruntung.
5) Melaksanakan pesantren ramadhan dan pesantren kilat untuk memberikan
tambahan pengetahuan dan pemahaman tentang nilai dan norma islam
21
yang dilaksanakan pada bulan ramadhan dan liburan panjang. Program ini
akan mencapai keberhasilan apabila disiapkan secara matang dengan
mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia di sekolah dan
lingkungan sekitar.
6) Melaksanakan peringatan hari-hari besar Islam untuk meningkatkan dakwah
dan wawasan siswa tentang sejarah, nilai, dan norma agama Islam yang
berkembang di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Kegiatan
ini sebaiknya dilakukan dengan mengadakan kerjasama dengan lembagalembaga
Islam yang berada di sekitar sekolah, seperti mesjid, pondok
pesantren, pusat-pusat studi Islam, dan semacamnya.
7) Melaksanakan lomba karya tulis ilmiah di lingkungan sekolah atau antar
sekolah tentang pentingnya imtaq dan iptek untuk memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berpikir, berpersepsi, dan memberikan gagasangagasan
baru tentang pentingnya aspek keagamaan dalam pembangunan
bangsa di abad informasi ini.
8) Melakukan kunjungan ke tempat-tempat studi dan peninggalan agama
Islam, seperti Islamic Center, mesjid-mesjid besar, pondok pesantren, dan
pusat-pusat peninggalan syi’ar Islam di masa silam, untuk memberikan
nuansa dan gambaran perjuangan umat Islam dalam menegakkan agama
Allah. Dalam kegiatan ini siswa diminta untuk menuliskan semua
pengalaman yang mereka temui di lapangan, baik berupa hasil pengamatan,
wawancara, ceramah, diskusi, dan semacamnya.
9) Membina guru dan tenaga kependidikan lainnya tentang program
pengembangan keimanan dan ketaqwaan oleh kepala sekolah dan atau
pengawas.
10) Mengundang nara sumber, tokoh agama, intelektual islam, dan tokoh-tokoh
lainnya untuk memberikan materi keimanan ketaqwaan serta materi
keilmuan lainnya yang dapat memberikan wawasan keagamaan dan
keilmuan kepada siswa dan kepada warga sekolah pada umumnya.
Semua program kegiatan hendaknya menjadikan siswa sebagai pusat dan
pemeran utama. Untuk itu diupayakan agar kegiatan-kegiatan tersebut
diorganisir oleh siswa dengan bimbingan kepala sekolah, GAI, dan guru lainnya.
Dengan demikian siswa akan mendapatkan pengalaman langsung tentang
kegiatan yang mereka organisasikan sendiri, sehingga kegiatan tersebut melatih
mereka untuk lebih memahami, menghayati, dan bertanggung jawab tentang
apa yang mereka lakukan.
KERJA SAMA SEKOLAH DENGAN ORANG TUA MURID
Rumah tangga (di situ ada orang tua murid) adalah tempat pendidikan pertama
dan utama. Pertama karena di situlah murid itu mula-mula mendapat
pendidikan; utama karena pengaruh pendidikan di rumah tangga itu sangat
besar dalam terbentuknya kepribadian. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya
22
sekolah bekerjasama dengan rumah tangga, maksudnya bekerjasama dengan
orang tua murid.
Pentingnya sekolah bekerjasama dengan rumah tangga sudah sejak lama
diteorikan. Sekarang ini semua guru menganggap perlu adanya kerjasama
dengan orang tua murid. Guru Matematika perlu kerjasama dengan orang tua
murid, sekurang-kurangnya agar orang tua murid mengingatkan agar anaknya
tidak lupa mengerjakan PR. Guru mata pelajaran lain demikian juga. Nah, agar
pendidikan keimanan dan ketakwaan berhasil; kerjasama sekolah dengan
orang tua murid sangat perlu.
Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan bahwa bagian terbesar tujuan
pendidikan agama adalah keberagamaan murid, artinya berhasil atau tidaknya
pendidikan agama itu ditandai oleh diamalkannya ajaran agama itu sehari-hari
oleh murid. Nah, orang tua di rumahlah yang paling mengetahui pengamalan
itu oleh anaknya. Orang tua melihat anaknya mengamalkan ajaran agama.
Lebih dari itu, metode peneladanan sebagai metode unggulan untuk
meningkatkan keberagamaan murid, sangat mengandalkan peneladanan oleh
orang tuanya di rumah. Orang tuanyalah yang paling tepat untuk
meneladankan shalat tepat waktu, meneladankan kesabaran, pemurah, orang
tuanyalah yang paling tepat meneladankan bagaimana menghormat tamu,
bertetangga, dan lain-lain bentuk pengamalan ajaran Islam sebagai taneda
keberagamaan.
Pembiasaan adalah metode unggulan yang lain dalam mengembangkan
keberagamaan murid. Lagi-lagi, orang tua di rumahlah yang paling cocok untuk
membiasakan tersebut, yaitu membiasakan mengamalkan ajaran Islam. Orang  tuanya membiasakan shalat tepat waktu, membaca basmalah tatkala akan makan, menjawab salam bila tamu berkunjung ke rumah.
Metode andalan tersebut (peneladanan dan pembiasaan) memang dapat
juga digunakan di sekolah, dilakukan oleh kepala sekolajh, guru agama, guru
umum, dan aparat sekolah laoinnya. Tetapi, penerapan kedua metode itu
sangat terbatas di sekolah karena kehidupan murid itu jauh lebih lama di rumah ketimbang di sekolah. Kehidupan di rumah adalah kehidupan yang asli, yang sebenarnya, sementara kehidupan di sekolah kebanyakan artifisial, tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya. Konsekwensi dari konsep-konsep ini antara lain ialah pendidikan keberagamaan lebih berhasil bila dilakukan di rumah ketimbang di sekolah. Keunggulan pendidikan agama di sekolah ialah dan hanya dalam bidang menambah pemahaman; meningkatakan keberagamaan murid sebagian besar harus di lakukan di rumah. Inilah yang mendasari teori kita bahwa untuk memperoleh peningkatan kebertagamaan murid adalah sangat perlu adanya kerjasama sekolah dan rumah tangga.

PUASA

Posted: 7th January 2012 by adi cahyo in Makalah
Comments Off

PUASA

Oleh ; Adi Cahyo

Tujuan pembelajaran :

Siswa mengetahui dan memahami pengertian puasa dan tatacara berpuasa sehingga mampu melaksanakannya.

1. Pengertian puasa

Puasa menurut bahasa adalah menahan. Dalam bahasa Arab al-Imsak (as-Shoum), sedangkan menurut syara’ Puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan niat karena Allah semata dan disertai dengan syarat-syarat tertentu, Allah SWT berfirman:

Yang Artinya: “ makan dan minumlah kamu sehingga waktu kelihatan benang yang putih dan bebang yang hitam, yaitu fajar”. (Q.S al-Baqarah : 187).

Dasar yang mewajibkan puasa

Firman Allah SWT:

Yang Artinya: “hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa”. (Q.S. al-Baqarah : 183).

1. Rukun puasa

a. Niat, yaitu menyengaja puasa Ramadhan. Jika puasa wajib maka niatnya dilakukan pada malam hari (sebelum terbit fajar). Untuk puasa sunah niatnya boleh dilakukan pagi hari. Rasulullah SAW bersabda:

Yang Artinya : dari Hafsah Ummul Mukminin R.A. Bahwasannya Nabi SAW bersabda, “siapa yang tidak niat berpuasa diwaktu malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya”. (H.R. Imam yang lima)

b. Meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

2. Syarat puasa

a. Syarat wajib puasa.

1) Orang yang beragama islam

2) Baligh dan berakal sehat

3) Suci dari haidh dan nifas.

4) Mampu (kuasa) yakni ada kekuatan misalnya: tidak sakit atau sudah tua. Orang sakit dan orang yang sedang bepergian boleh mengqadak puasanya pada hari lain. Orang yang sudah tua dan tidak kuat puasa selama-lamanya, diwajibkan membayar fidyah.

b. Syarat-syarat sah puasa

1) Islam. Orang yang bukan islam jika ia puasa maka puasanya tidah sah.

2) Tamyiz: orang yang sudah mampu membedakan antara yang baik dan buruk.

3) Suci dari haidh dan nifas

4) Bukan pada hari-hari yang diharamkan puasa.

3. Pekerjaan yang disunnahkan waktu puasa

a. Makan sahur walaupun sedikit

Rasulullah bersabda:

Artinya: dari anas bin malik ra, rasulullah bersabda:”hendaklah kalian makan sahur, karena dalam sahur itu terdapat suatu keberkahan”. (muttafaqun ‘alaihi).

b. Mengakhirkan waktu sahur, selama belum terbit fajar (kira-kira 10 menit sebelum subuh).

c. Menyegerakan berbuka puasa, jika telah nyata(masuk waktu maghrib).

d. Berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis atau dengan air sebelum makan makanan yang lainnya.

e. Menbaca do’a ketika berbuka

f. Memperbanyak sedekah selama bulan Ramadhan

g. Member makan untuk berbuka kepada orang-orang yang berpuasa

h. Memperbanyak membaca al-Qur’an

4. Hal-hal yang makruh waktu puasa

a. Berkumur-kumur yang berlebihan setelah tergelincirnya matahari

b. Bersikat gigi, bersiwak setelah tergelincirnya matahari

c. Mencicipi makanan, walaupun tidak ditelan

d. Berbekam, cacar dan suntik

5. Hal-hal yang membatalkan puasa

a. Muntah dengan sengaja

b. Haidh dan nifas

c. Jima’ pada siang hari atau waktu fajar sadiq telah Nampak

d. Gila, walaupun sebentar

e. Memasukkan sesuatu kedalam rongga badan dengan sengaja

f. Murtad (keluar dari agama islam)

Orang yang batal puasa disebabkan karena salah satu sebab diatas, wajib mengganti puasanya pada lain hari, sebanyak hari puasa yang ditinggalkan. Tetapi orang yang batal puasanya disebabkan karena jima’ dengan sengaja harus mengganti puasanya selama dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu hendaklah member makan orang-orang miskin sebanyak 60 orang.

Evaluasi

I. Pilihan ganda

1. Niat adalah termasuk

a. Rukun puasa c. Syarat sah puasa

b. Sunnah puasa d. Syarat wajib puasa

2. Puasa pada bulan Ramadhan adalah merupakan rukun:

a. Iman c. Ihsan

b. Islam d. Muslim

3. Di bawah ini adalah termasuk orang yang dibolehkan atau dihariskan meninggalkan puasa, kecuali:

a. Musafir c. Haidh

b. Sakit d. Lemas

4. Baligh dan berakal sehat adalah merupakan:

a. Syarat puasa c. Syarat wajib puasa

b. Sunnah puasa d. Rukun puasa

5. Kewajiban melaksanakan puasa dijelaskan dalam:

a. Al-Qur’an c. al-Qur’an dan hadist

b. Hadits d. al-Qur’an dan Ijma’ Ulama

II. ESSAY

1. Tulislah ayat yang mewajibkan puasa!

2. Sebutkan hal-hal yang membatalkan puasa!

3. Sebutkan pengertian puasa menurut bahasa dan istilah syara’!

4. Sebutkan dan jelaskan rukun puasa!

5. Pekerjaan apakah yang disunahkan pada waktu puasa?

TAUHID

Posted: 7th January 2012 by adi cahyo in Makalah
Comments Off

Tauhid

Oleh: Adi cahyo

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Aqidah merupakan satu asasi bagi seorang muslim. Prinsip beraqidah yang shahih adalah prinsip yang tak bisa ditawar dan diungkit-ungkit lagi. Kalau demikian keadaannya maka tauhidullah adalah “kepala” semua urusan, seperti jasad tidak bisa tegak tanpa kepala. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya:

Kepala seluruh urusan adalah islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad dijalan Allah. (HR.Tirmidzi,beliau berkata hadist hasan shahih terdapat dalam kitab “Al-Iman” bab Hurmatu ash-shalah)

Inilah nash-nash yang jelas menunjukkan wajibnya memulai dakwah dari tauhidullah sebelum kewajiban-kewajiban yang lain. Karena diterimanya seluruh beban-beban syari’at tersebut tergantung pada wujud tauhid itu. Dan kondisi demikian terus berlangsung (kejayaan islam dimasa para sahabat), kemudian mulailah terjadi penyimpangan setelah itu. Hal ini disebabkan mereka berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunah yang kita wajib mengambil aqidah dari keduanya.

  1. Rumusan Masalah

  1. Fungsi aqidah

  2. Faktor-faktor yang mengotori aqidah

  3. Cara memantapkan aqidah

  1. Tujuan

  1. Agar memahami fungsi aqidah

  2. Agar mengetahui faktor-faktor yang mengotori aqidah

  3. Agar mengetahui cara memantapkan aqidah

PEMBAHASAN

  1. Fungsi Aqidah

Aqidah adalah dasar, fondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, harus semakin kokoh fondasi yang dibuat. Kalau fondasinya lemah, bangunan itu juga akan cepat ambruk. Tidak ada bangunan tanpa fondasi.

Kalau ajaran islam kita dibagi dalam sistematika Aqidah, Ibadah, Akhlak dan Mu’amalat, atau Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak, atau Iman, Islam dan Ihsan, maka dari ketiga aspek tersebut tidak bisa dipisahkan sama sekali. Karena satu sama yang lain saling terkait.

Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan bermu’amalat dengan baik. Ibadah seseorang tidak akan diterima oleh Allah SWT kalau tidak dilandasi dengan aqidah. Seseorang juga tidaklah dinamai berakhlak mulia bila tidak memiliki aqidah yang benar. Begitu seterusnya bolak-balik dan bersilang.

Seseorang bisa saja merekayasa untuk terhindar dari kewajiban formal, misalnya zakat, tapi dia tidak akan bisa menghindar dari aqidah. Atau seseorang bisa saja pura-pura melaksanakan ajaran formal islam, tapi Allah tidak akan memberi nilai kalau tidak dilandasi dengan aqidah yang benar (iman).

Itulah sebabnya kenapa Rasulullah SAW selama 13 tahun periode Mekkah, memusatkan dakwahnya untuk membangun aqidah yang benar dan kokoh. Sehingga bangunan Islam dengan mudah bisa berdiri di periode Madinah dan bangunan itu akan bertahan terus sampai hari kiamat.

  1. Faktor-Faktor yang Mengotori Aqidah

Faktor yang mengotori aqidah ada banyak, disini kita hanya akan menyebutkan sebagian kecil saja, diantaranya:

  1. Mengaku mengetahui ilmu ghaib dengan membaca telapak tangan, cangkir atau lainnya.

Yang dimaksud “ghaib” adalah apa yang tersembunyi dari manusia tentang perkara-perkara yang akan datang atau yang telah lalu dan apa yang tidak mereka lihat. Ilmu ghaib ini khusus milik Allah semata, sesuai firman Allah yang artinya:

katakanlah,’Tidak seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.”(An-Naml: 65)

Itu artinya, Allah tidak memperlihatkan sesuatu apapun dari masalah ghaib kecuali pada orang yang dipilih untuk mengemban risalah-NYA. Allah memperlihatkan apa yang dikehendaki-NYA, misalnya pada para Rasul dan Nabi-NYA dengan diberikan mu’jizat, dan diantara mu’jizat itu adalah mengabarkan tentang masalah ghaib yang diperintahkan Allah kepadanya. Dan selain mereka tidak diperlihatkan masalah ghaib, berdasarkan dalil yang membatasinya.

Maka barang siapa mengaku mengetahui ilmu ghaib dengan cara apapun, baik dengan cara membaca telapak tangan atau yang lain, sedangkan dia bukan orang-orang pilihan Allah, maka dia adalah pendusta. Padahal sesungguhnya itu terjadi karena pekerjaan jin dan syetan, tetapi mereka menampakkan kepada manusia bahwa hal itu terjadi karena pekerjaan-pekerjaan mereka, untuk menipu dan mengaburkan pandangan manusia.

  1. Sihir, perdukunan dan ramalan.

Sihir, perdukunan dan peramalan adalah perkara-perkara syaithan. Perkara-perkara itu bisa mengurangi kesempurnaan aqidah ataupun mengotorinya. Sihir secara bahasa berarti sesuatu yang halus dan lembut sebabnya. Disebut sihir karena ia terjadi dengan perkara yang tersembunyi yang tidak terjangkau oleh pengelihatan manusia. Tidak jauh berbeda dengan diatas tadi, yaitu sesuatu yang ghaib hanya Allah dan orang-orang pilihan Allah saja yang mengetahuinya.

Perdukunan dan peramalan, keduanya adalah pengakuan mengetahui ilmu ghaib dan perkara-perkara yang ghaib, seperti menggambarkan apa yang akan terjadi di muka bumi ini. Diantara hal yang perlu diwaspadai dan diperhatikan adalah bahwa para tukang sihir, dukun dan peramal itu mempermainkan dan mengotori aqidah umat islam.

  1. Syirik kecil

Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama islam, tetapi mengurangi tauhid atau mengotori aqidah dan merupakan wasilah (pelantara) kepada syirik besar. Syirik kecil ada dua macam:

  1. Syirik zhahir (nyata): yaitu syirik kecil yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah. Sedangkan yang berbentuk perbuatan adalah misalnya seperti memakai kalung atau benang sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya. Jika ia berkeyakinan bahwa perbuatannya itu merupakan pengusir atau penangkal, maka ia termasuk syirik kecil.

  2. Syirik khafi (tersembunyi): yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya’ (ingin dipuji orang) dan sum’ah (ingin didengar orang). termasuk didalamnya adalah motivasi amal untuk kepentingan duniawi, seperti orang yang menunaikan haji atau berjihad untuk mendapatkan harta benda.

  1. Bertawakal bukan kepada Allah SWT

Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk berusaha dan berikhtiar. Tapi melarang kita bertawakal kepada usaha atau ikhtiar tersebut. Kita harus bertawakal kepada Allah SWT semata. Seidentik dengan firman Allah yang artinya:

…..Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang berriman.”(Al-Maidah 5:23)

Di sinilah perbedaan antara orang kafir dan orang mukmin. Orang kafir berusaha maksimal dan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada usaha itu. Sedangkan orang mukmin juga berusaha maksimal tapi hanya menggantungkan harapan sepenuhnya pada Allah SWT. Dan karena itulah bertawakal bukan pada Allah termasuk hal yang mengotori aqidah.

  1. Enggan mengakui bahwa semua nikmat lahir maupun batin adalah karunia Allah SWT

Setiap muslim wajib mengakui bahwa semua nikmat yang dia peroleh di dunia ini karunia dari Allah SWT.

Tidaklah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-NYA lahir dan batin…” (Luqman 31:20)

Manusia tidak boleh mengklaim bahwa nikmat yang dia peroleh itu hanyalah semata-mata karena usahanya, sebab bagaimanapun dia berusaha kalau Allah SWT tidak berkenan, dia tidak akan pendapatkannya. Dalam konteks inilah Allah AWT membinasakan Qarun yang menafikan karunia Allah kepadanya dengan menyombongkan usahanya (ilmunya).

  1. Cara Memantapkan Aqidah

Berpegang teguh dengan al-Kitâb dan as-Sunnah

Berpegangteguhnya ahlus sunnah kepada Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam, keimanan mereka terhadap semua yang ada di dalam Kitâbullah dan Sunnah Nabi-Nya ’alaihi ash-Sholâtu was Salâm dan keyakinan mereka secara totalitas bahwa tidak boleh meninggalkan sedikitpun sesuatu yang ada di dalam al-Kitâb dan as-Sunnah.

Namun wajib bagi setiap muslim untuk mengimani dan membenarkan segala hal yang ada di dalam Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya ’alaihi ash-Sholâtu was Salâm, sehingga mereka mengimani seluruh nash (teks) yang terdiri atas informasi-informasi tentang Allôh, namanama dan sifat-sifat-Nya, nabi-nabi-Nya, hari akhir, al-Qodar dan yang semisal dengannya. Mereka wajib mengimaninya secara ijmâl (global) dan tafshîl (terperinci), yaitu mengimani secara global tentang segala hal yang diberitakan oleh Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ dari perkara-perkara keimanan, dan mengimani secara terperinci setiap apa yang Ia sampaikan kepada

mereka berupa ilmu-Nya di dalam Kitabullâh dan Sunnah Nabi-Nya.

Fithrah yang lurus

Fithrah merupakan nikmat dari Alloh Azza wa Jalla dan anugerah yang Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Allôh Jalla wa Ta‘alâ memberikan keutamaan kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka di atas fithrah, sebagaimana sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :

كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه “( صحيح البخاري: ( 1385

Setiap (hamba) yang lahir dilahirkan di atas fithrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (Shahîh al-Bukhârî :1385)

Maka Allôh ciptakan mereka di atas fithrah. Adapun Ahlus Sunnah, fithrah mereka tetap selamat tidak berubah-ubah. Allôh perlihara fithrah mereka (ahlus sunnah) dari segala bentuk perubahan, pergantian dan penyelewengan. Sedangkan manusia lainnya, fithrah mereka telah terkotori dan mengalami penyelewengan sesuai dengan yang melekat padanya, sedikit maupun banyak.

Akal mereka yang sehat

Akal mereka yang sehat. Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manusia yang paling baik akalnya, dan paling selamat pendapat, pemikiran dan manhajnya.

Mereka memiliki akal yang rajih (kuat) yang tidak ada padanya ghuluw (berlebih-lebihan) atau jafa’ (menyepelekan) sebagaimana keadaan selain mereka dari kalangan ahli ahwa` dan ahli bida’. Ahlus sunnah tidak ada pada akal mereka sikap ghuluw sebagaimana yang tampak secara jelas pada ucapan-ucapan filsafat dan orang yang terselimuti dengan belitan mereka.

Manhaj mereka diikuti oleh orang-orang yang meninggalkan al-Kitâb dan as-Sunnah dan hanya berpegang seluruhnya kepada akal, pemikiran dan pendapatnya saja. Segala apa yang ia pandang benar dengan akalnya, ia berpegang dengannya, dan segala apa yang ia pandang menyelisihi akalnya, maka ia tinggalkan, walaupun hal itu adalah firman Allôh dan sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Karena sesungguhnya yang mereka percayai dan mereka anggap hanyalah akal dan pemikiran mereka.

Telah diketahui bersama bahwa akal manusia itu tidaklah berada di atas akal orang yang satu. Karena itulah, ketika banyak golongan manusia yang bersandar pada akal, hal itulah yang menjadi penyebab banyaknya penyelewengan dan banyaknya pemikiran dan madzhab.

Tidak mendahulukan akal daripada naql

Termasuk diantara faktor-faktor yang menyebabkan mantapnya mereka di atas al-Haq dan selamat dari penyimpangan dan perubahan adalah, mereka tidak mendahulukan akal dan perasaan mereka melebihi al-Kitâb dan as-Sunnah. Hal ini juga telah lewat penunjukan salah satu aspek tentangnya sebelumnya,

dan saya akan nukilkan di sini ucapan Abî Muzhoffar as-Sam’ânî yang dinukil dari at-Taimî di dalam kitabnya “al-Hujjah” dan Ibnul Qoyyim di dalam kitabnya “ash-Showâ’iq”, dan ucapan beliau ini adalah ucapan yang agung lagi kokoh di dalam bab ini. As-Sam’ânî berkata :

Dan merupakan sebab bersatunya ahli hadits adalah, mereka mengambil agama dari al-Kitâb dan as-Sunnah serta jalur naql (penukilan riwayat) sehingga mereka mewarisi persatuan dan kesepakatan. Adapun ahli bid’ah, mereka mengambil agama mereka dari akal-akal mereka sehingga mereka mewarisi perpecahan dan perselisihan. Karena sesungguhnya, naql (penukilan) dan riwayat dari orang-orang yang tsiqât (kredibel) dan mutqîn (mantap hapalan dan ilmunya) sedikit sekali perselisihannya, walaupun lafazh dan kalimatnya berbeda-beda namun perbedaan ini tidaklah mencederai dan mencacat di dalam agama. Adapun produk akal, pemikiran dan pendapat maka sedikit sekali yang saling bersepakat, bahkan akal setiap orang atau pemikiran dan pendapatnya, difahami oleh orang yang berpendapat tersebut tidak sebagaimana yang difahami oleh orang

selainnya.” (Mukhtashor ash-Showâ’iq hal. 518).

Maka inilah diantara faktor-faktor tsabât (mantapnya) mereka, yaitu tidak mendahulukan akal, pendapat, perasaan dan semisalnya, melebihi Kitâb Rabb mereka dan sunnah nabi mereka Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.

Adapun ahli hawa (pengikut hawa nafsu), mereka lebih mendahulukan perkara-perkara ini di atas Kitâbullah dan Sunnah Rasūlullâh. Diantara mereka ada yang lebih mendahulukan akal, ada yang lebih mendahulukan pemikiran, ada yang lebih mendahulukan perasaan, ada yang lebih mendahulukan dongeng-dongeng dan mimpi, dan adapula yang lebih mendahulukan hawa nafsunya di atas perintah Rabb-Nya Tabâroka wa Ta’âlâ, saling berlainan dan setiap orang memiliki manhaj, metode dan jalannya masing-masing.

Hubungan yang baik dengan Allôh

Hubungan mereka yang baik kepada Allôh, kuatnya ikatan mereka kepada-Nya dan bersandarnya mereka hanya kepada-Nya. Hal ini adalah perkara yang telah saya tunjukkan di dalam pembuka di awal. Oleh karena taufîq itu mutlak berada di tangan-Nya Subhânahu wa Ta’âlâ, maka mereka membaguskan

hubungan mereka dengan Allôh, memperkuat bersandarnya mereka kepada-Nya, meminta hanya kepada-Nya, memohon pertolongan dan berdoa hanya kepada-Nya, serta meminta kepada-Nya kemantapan.

Mereka mencontoh hal ini dari jalan nabi mereka Sholawâtullâhi wa Salâmuhu ‘alaihi.

Termasuk doa nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam adalah :

Ya Allôh, aku memohon kepada-Mu petunjuk dan arahan yang benar”

Beliau juga pernah berdoa :

Ya Allôh, aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kecukupan.”

PENUTUP

KESIMPULAN

Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan bermu’amalat dengan baik. Ibadah seseorang tidak akan diterima oleh Allah SWT kalau tidak dilandasi dengan aqidah. Seseorang juga tidaklah dinamai berakhlak mulia bila tidak memiliki aqidah yang benar. Ada beberapa hal yang memantapkan aqidah antara lain: Berpegang teguh dengan al-Kitâb dan as-Sunnah, Fithrah yang lurus, Akal mereka yang sehat, Hubungan yang baik dengan Allôh, Tidak mendahulukan akal daripada naql

DAFTAR PUSTAKA

Darin A., R. Didi. 1989. Meluruskan Aqidah. Surabaya: Al-Ikhlas.

Shalih bin Sa’id al-Suhaimi. 1997. Manhaj as-Salaf fi al-Aqidah wa Atsaruhu fi Wihdati al-Muslimin. Surakarta: Yayasan Al-Madinah.

Ilyas Yunahar, Lc. 1993. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: Lembaga Pengkaji dan Pengalaman Islam(LPPI) UMY.

Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan. 1999. Kitab Tauhid 3. Jakarta: Darul Haq.

Poligami

Posted: 7th January 2012 by adi cahyo in opini
Comments Off


Oleh:  Adi Cahyo


PENDAHULUAN 

  1. Latar Belakang

Ada salah paham yang begitu akut dan membahayakan tentang poligami ya’ni memandang poligami sebagai sunnah. Bahkan pendapat yang memandang boleh pun tak kalah bahayanya, sebab pandangan ini suka menarik logika yang ekstrim seolah-olah benar. Dalam pemberitaan-pemberitaan tersebut seolah-olah dikesankan bahwa poligami adalah perintah atau setidaknya anjuran agama.

Bukan rahasia lagi jika saat ini aturan islam yang berkaitan dengan masalah

poligami telah dikecam oleh berbagai pihak, terutama oleh kalangan barat. Mereka senantiasa menyebarkan kebohongan dengan tujuan mengelabuhi umat manusia untuk tidak mengenal kebenaran islam dengan alasan bahwa islam adalah agama yang melegalisasi poligami, sementara mereka beranggapan bahwa poligami banyak menimbulkan dampak negatif dan hanya pantas terjadi di negara-negara terbelakang.

Rumusan Masalah

  1. Poligami menurut islam

  2. Alasan dibolehkannya poligami

  3. Didalam poligami mungkinkah bisa berbuat adil?

  4. Poligami dalam pendekatan antropologi

  1. Tujuan

  1. Agar memahami poligami dalam islam

  2. Agar dapat mengetahui alasan dibolehkannya poligami

  3. Agar mengetahui aspek-aspek keadilan dalam berpoligami

  4. Agar mengetahui poligami dalam pendekatan antropologi

 PEMBAHASAN

  1. Poligami Dalam Islam

Islam telah menempatkan poligami dalam tempat yang seadil-adilnya dan proporsional, tapi kenapa masih banyak muslim yang salah paham tentang poligami, yang akibatnya menjerumuskan sebagian orang pada salah kaprah poligami. Ajaran islam justru membebaskan manusia dari pergundikan dengan memperkukuh institusi perkawinan. Perkawinan yang semula berbentuk poligami dengan istri tidak terbatas dan tanpa syarat, oleh islam dibatasi sampai dengan empat dengan syarat ketat dan harus adil, walaupun pada perkembangan selanjutnya keadilan itu sendiri sulit dicapai. Oleh karena itu, perkawinan normatif dalam islam adalah perkawinan monogami.

Dalam islam poligami tidak dilarang dan tidak diperintahkan. Hanya diperbolehkan , itupun dengan syarat yang sangat ketat. Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, poligami ibarat emergency exit dalam pesawat yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency saja. Dia hanyalah pintu kecil yang hanya dapat dilalui olrh mereka yang menginginkannya ketika mengalami kasus atau keadaan darurat.

Walaupun poligami diperbolehkan, harus pula diperhatikan syarat mutlaknya yang disebutkan dalam surat An-Nisa, yang artinya sebagai berikut:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bila mana kamu mengawininya), maka kawinilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisa’ [4]: 3)

Dalam ayat tersebut terdapat kata khiftum (jika kamu takut), menunjukkan bahwa siapa saja yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga dirinya tak akan bisa berlaku adil, tidak diperkenankan oleh ayat ini untuk berpoligami.

Walaupun Rasulullah Saw melakukan poligami tapi bukan berarti poligami itu Sunnah Nabi. Sebagaimana banyak orang yang berlindung dengan alasan “Sunnah Nabi” dan juga alasan “dari pada zina” untuk melegalitas tindakan poligaminya. Karena tidak semua yang wajib dan terlarang bagi Nabi, wajib dan terlarang juga bagi umatnya. Bagi Nabi sudah dipastikan poligami yang dilakukan beliau bukan karna nafsu. Tapi terlepas dari mereka penganut poligami maupun monogami, dalam hal memandang wanita merupakan “kesenangan”. Ini yang sering kali menjadikan kaum pria masa kini terbuai sehingga mengorbankan “kesetiaan”.

Semua kembali pada niatnya masing-masing. Persoalan yang ada itu hanya, apakah kecintaannya itu dengan bimbingan Ilahi atau birahi. Jika dengan bimbingan Ilahi, dasar utama dalam barpoligami bukan nafsu birahi, seks atau kepuasan libido, melainkan karena kebaikan, maka dalam berpoligami jangan sampai terjadi ada yang sakit atau terdhalimi.

Al-Qur’an jelas memperbolehkan poligami, tapi kebolehan poligami sebenarnya merupakan rukhsah atau keringanan untuk keadaan-keadaan tertentu saja. Kita tidak mengingkari adanya banyak orang dan kaum muslimin sendiri yang salah dalam melaksanakan keringanan hukum untuk berpoligami sebagaimana yang disyari’atkan oleh Allah. Kita juga melihat mereka salah dalam mempergunakan rukhsah (keringanan)tentang bolehnya cerai (talak). Dengan demikian yang salah bukan hukum islamnya, tetapi kesalahan ada pada manusia dalam penerapannya, disebabkan kekuran pahaman mereka terhadap ajaran agama atau karena keburukan akhlak mereka.

  1. Alasan Dibolehkannya Poligami

Prosedur untuk berpoligami sebenarnya sangat berat. Secara hukum, pengajuan ke pengadilan untuk berpoligami harus disertai alasan:

  1. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya.

  2. Istri memiliki cacat badan atau penyakit yan tidak dapat disembuhkan.

  3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Ketiga alasan tersebut tidak bersifat kumulatif. Artinya, seorang suami dibolehkannya berpoligami jika istrinya memiliki salah satu kelemahan tersebut. Beberapa pandangan menganggap dasar alasan tersebut bersifat diskriminatif dan memojokkan posisi perempuan untuk terpaksa harus menerima poligami jika memiliki kelemahan seperti yang ada dalam pasal tersebut. Dari alasan yang dikemukakan Undang-Undang Perkawinan tersebut, tersirat bahwa poligami pada hakikatnya merupakan bentuk pengunggulan kaum laki-laki dan penegasan bahwa fungsi istri dalam perkawinan hanya untuk melayani suami.

Tapi pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar karena dasar filosofi dimungkinkannya poligami dalam Undang-Undang Perkawinan lebih mulia daripada sekedar keegoisan pemuasan hawa nafsu. Tapi dasar alasan untuk menikah lagi juga harus memperhatikan aspek keadilan bagi kedua belah pihak.

Disini akan dibahas satu persatu mengenai alasan dibolehkannya poligami:

  1. Istri Tidak Dapat Menjalankan Kewajiban Sebagai Istri.

Alasan ini tampak seperti sesuatu yang wajar, tetapi kalau dicermati terasa aneh: Seorang istri yang terkait dalam pernikahan mengalami ketidak mampuan dalam melksanakan kewajiban sebagai seorang istri. Dasar alasan ini harus dibuktikan dengan fakta, misalnya karena istri sakit sehingga tidak memungkinkannya melayani suaminya. Dengan demikian hal tersebut tidak boleh ditentukan secara sepihak oleh suami agar memungkinkan ia beristri lagi ataupun rekayasa kesepakatan kedua belah pihak.

Memang realitasnya menunjukkan bahwa sering kali ketentuan tersebut diterapkan secara serampangan dangan mengesampingkan rasa keadilan bagi pihak perempuan. Jika melalui pengadilan, seharusnya hakim secara cermat berhati-hati sebelum mengambil keputusan membolehkan seorang laki-laki berpoligami. Jika permasalahan sebenarnya adalah suami yang sakit, hal ini penting agar tidak timbul pandangan yang menganggap alasan untuk berpoligami bisa diatur dengan mudah.

  1. Istri Memiliki Cacat Badan atau Penyakit yang Tidak Dapat Disembuhkan

Ini merupakan alasan kedua yang membolehkan seorang laki-laki berpoligami. Dari perspektif perempuan, sebenarnya kenyataan ini menyakitkan dan dianggap tidak adil. Pada saat dia menghadapi cobaan besar, mengalami suatu kecelakaan atau penyakit yang mengakibatkan cacat badan atau penyakit yang sulit disembuhkan, istri harus merelakan suami yang dicintainya menikmati kebahagiaan dengan peremuan lain.

Hal yang paling penting adalah pengertian cacat badan harus diberikan batasan yang jelas dalam kaitannya dengan ketidak mampuan istri melaksanakan kewajibannya terhadap suami. Jadi, harus dikaitkan dengan alasan pertama. Pengartian cacat badan tidak boleh diartikan secara luas dan merugikan seorang istri hanya demi kepentingan suaminya untuk beristri lagi.

Dalam kasus seorang istri yang dipaksa mengizinkan suaminya menikah lagi akibat cacat badan atau karena penyakit yang sulit disembuhkan, memunculkan pertanyaan apakah jika hal sama dialami oleh seorang suami, dalam hal ia divonis dokter tidak subur, apakah tindakan istri minta cerai dan menikah lagi dengan orang lain dianggap adil dan pantas dilakukan? Pada saat sang suami menderita cacat badan atau penyakit yang tidak tersembuhkan, yang selayaknya membutuhkan uluran tangan istri, tindakan yang dilakukan istri malah meninggalkannya. Dimana letak ikatan lahir batin dan kasih sayang antara suami-istri dalam menghadapi suatu cobaan bersama dalam meniti kehidupan rumah tangga?Begitu juga sebaliknya dengan suami yang hendak berpoligami.

  1. Istri Tidak Dapat Melahirkan Keturunan

Memiliki keturunan dari sebuah pernikahan merupakan harapan semua pasangan suami-istri dan dianggap merupakan sumber kebahagiaan berkeluarga. Oleh karena itu, banyak suami-istri menjadi kecewa ketika mengetahui pasangannya tidak dapat memberikan keturunan. Dengan demikian, seakan menjadi wajar jika seorang suami menuntut diperbolehkan menikah lagi karena ketidak mampuan istri melahirkan seorang anak.

Namun jika sekarang dibalik. Contoh kasus menunjukkan bahwa ada seorang istri yang dipaksa menyetujui permintaan suami untuk menikah lagi dengan alasan tidak mampu melahirkan anak. Padahal menurut keterangan dokter, si istri dalam keadaan sehat dan sebenarnya kelemahan terletak pada suami. Hal tersebut menyiratkan ketidak adilan yang dialami istri. Jika kelemahan itu ada pada suami, menikah berkali-kalipun akan tetap kesulitan untuk memperolen anak, kecuali ada keajaiban dari Allah AWT.

  1. Didalam Poligami Munginkah Bisa Adil

Membahas mengenai keadilan dalam ayatpun telah diterangakan, yang artinya:

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (QS An-Nisa’: 129)

Poligami, munkinkah bisa adil? Pertanyaan tersebut bukan saja menjadi pertanyaan orang yang tidak berpoligami (monogami), tapi juga pertanyaan semua orang, termasuk pelaku poligami itu sendiri. Penilaiannya beragam; ada yang menganggap dengan memberikan mobil, rumah dan sebagainya pada setiap istri, sudah menganggap adil. Jika itu jawabannya tidak perlu ada revisi undang-undang, dan tidak perlu adanya kajian mendalam tafsir ayat tentang poligami.

Adil meliputi semua aspek. Yaitu ekonomi, jatah giliran, kasih sayang, perlindungan, dan yang terpenting para istri mempunyai hak yang sama “mempunyai suami”.

Pertama, masalah ekonomi.

Pengertian adil dalam ekonomi atau dalam nafkah mencakup makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan alat-alat rumah tangga yang umum. Laki-laki yang ingin menikah, pertama-tama harus mampu menyediakan baiya untuk menafkahi wanita yang akan dinikahinya. Menurut syari’at, jika seorang laki-laki belum memiliki sumber rizki atau penghasilan untuk menafkahi istri, dia belum dibolehkan kawin, sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang artinya sebagai berikut:

Wahai sekalian pemuda siapa diantara kamu yang telah mampu memikul beban nafkah hendaklah dia kawin.” (Sunan Abu Daud, juz 1, hal 334)

Berdasarkan syarat seorang laki-laki belum dibolehkan menikah jika belum mampu memberi nafkah. Begitupula, laki-laki yang sudah punya istri satu tetapi belum mampu memberikan nafkah yang layak, maka dia tidak boleh berpoligami. Pengertian adil dalam ekonomi ini juga bukan berarti semua istri mendapat bagian yang sama, tapi diukur dari kebutuhan. Jika kebutuhan istri yang kedua sampai mengurangi jatah istri yang pertama, sudah masuk kategori tidak adil.

Mengenai dengan sesuai kebutuhan yaitu, misal contoh yang mudah: kita mempunyai 2 orang anak. Yang pertama sudah mahasiswa, sedangkan yang kedua baru duduk di kelas 1 SMP. Jika uang jajannya dibagi rata, masing-masing Rp 5.000,- tentu tidak adil. Uang 5.000 mungkin cukup untuk jajan anak yang sekolah SMP, tapi bagi mahasiswa sangat tidak cukup. Dia baru cukup kalau Rp 20.000,-, memang tidak sama besar jumlah bagiannya, tapi itu menunjukkan keadilan orang tua. Begitupun pembagian dalam berpoligami.

Kedua, jatah giliran.

Rasulullah Saw sangat memperhatikan tentang kewajibannya terhadap istri, diantaranya masalah giliran. Beliau hitung sangat teliti, bukan saja jumlah hari tapi juga jumlah jam. Masalah giliran Rasulullah Saw bekerja sama dengan istrinya untuk selalu mengingatkan jika ada kekeliruan.

Masalah yang berkaitan dengan bermalamnya seorang suami dengan istri-istrinya harus jelas, sehingga dari situ akan terdapat jadual kapan seorang suami berada di rumah istri yang satu jika dia memiliki rumah atau di kamar khusus. Pembagian jadual seperti itu harus sama bagi istri yang sehat, skait, haid, atau nifas karena yang dimaksud dengan bermalam bersamanya (suami istri) itu adalah hiburan dan kesenangan bagi istri, karena seorang suami terhibur oleh istrinya meskipun tanpa bersetubuh.

Ketiga, kasih sayang dan perlindungan.

Sejatinya pelaku poligami membagi secara adil kasih sayang dan perlindungannya. Tapi kenyataan masih ada istri yang dipoligami merasa mendapat sayang yang berbeda. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan yang harus mampu diwujudkan manusia dalam kehidupan sehari-harinya, yaitu persamaan diantara istri-istri dalam urusan sandang, pangan, tempat tinggal, dan perlakuan yang layak terhadap mereka masing-masing. Adapun keadilan dalam urusan yang tidak mampu diwujudkan dan disamakan seperti cinta, kasih sayang atau kecenderungan hati, maka suami tidak dituntut untuk mewujudkannya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah 286, yang artinya:

Allah tidak memberati seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya……”

Sangat nyata, adil yang kebanyakan suami tidak mampu adalah keadilan menyangkut rasa cinta atau perasaan sayang karena besar kemungkinan antara istri yang satu dan yang lain terdapat perbedaan dimensi perasaan. Pada hakikatnya, hati itu sendiri bukanlah milik perseorangan, melainkan terletak diantara Allah Ar-Rahman yang setiap saat dibolak-balik oleh Allah sesuai dengan kehendak-NYA.

Rasulullah SAW., orang yang paling mengetahui tentang agama dan paling berhasrat melaksanakan keadilan diantara istri-istrinya, pernah berdo’a: “Ya Allah bagian yang aku miliki dan janganlah engkau menyalahkan aku dalam hal yang tidak aku miliki” karena beliau lebih mencintai S. Aisyah dari pada istri-istrinya yang lain. Allah SWT mengingatkankita agar hati dan kecintaan kita tidak terlalu cenderung kepada salah seoranh istri sementara yang lain dilupakan dan ditelantarkan.

Keempat, mempunyai hak sama memiliki suami.

Jika masih ada dari istri yang dipoligami merasa bahwa dia yang berhak mengakui sebagai suaminya, maka seorang suami perlu mensosialisasikan bahwa dirinya juga suami orang lain. Pengakuan tersebut sah-sah saja jika suami sedang menggilir.Istri pertama boleh mengakui itu sebagai suaminya secara utuh, tapi pengakuan itu juga harus manghormati pengakuan “madunya/istri yang lain” dari suaminya, yang juga mempunyai hak yang sama terhadap suaminya.

  1. Poligami Dalam Pendekatan Antropologi

Sebelum kita membahas poligami dalam pendekatan antropologi, sebaiknya kita lebih dulu membahas dan mengetahui apa itu pendekatan antropologi. Antropologi secara sederhana adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaan. Ada beberapa cabang antropologi:

  1. Antropologi Linguistik

  2. Antropologi Buduya

  3. Antropologi Arkeologi

  4. Antropologi Agama, dan lain-lain.

Dalam kaitannya dengan islam sebagai gejala antropologi, sangat banyak objek kajian yang dapat dilakukan. Diantaranya dalam bentuk apa yang disebut “gejala agama dan keagamaan”. Disebutkan ada 5 gejala yang dapat diteliti, yang salah satunya adalah “ritus-ritus, lembaga- lembaga, ibadat-ibadat, seperti sholat, puasa, haji, perkawinan, waris, sekatenan, peringatan kelahiran Nabi, peringatan Isra’ mi’raj, lembaga wakaf, zakat, dan lain-lain.

Kita lihat pada kata yang digaris bawah ialah pernikahan, dalam pernikahan ini ada banyak hal diantaranya poligami. Lalu bagaimana poligami dilihat dari pendekatan antropologi yang lebih cenderung kepada budaya atau kebiasaan yang timbul dalam individu ataupun masyarakat? Maraknya praktek-praktek poligami juga termasuk kebiasaan turunan dari para pendahulu, meskipun tidak semua suami melakukannya namun karena sebagian pemimpin suatu kaum baik zaman dahulu maupun sekarang banyak yang melakukan hal demikian, maka kami menyebutnya dengan gejala yang membudaya.

 PENUTUP

Kesimpulan 

Perilaku Poligami termasuk gejala agama jika dipandang dari pendekatan antropologi. Mengingat Poligami terjadi sejak zaman dahulu, sejak zamannya para nabi dan rasul, yang pada akhirnya turun ke zaman kita ini. Beberapa pemuka agamapun masih ada yang melakukan poligami. Perilaku Poligami memiliki beberapa dampak baik positif maupun negatif.

Poligami dalam islam diperbolehkan akan tetapi harus dengan ketentuan–ketentuan (syarat) khusus yang harus dipenuhi untuk meminimalkan dampak negatif yang akan ditimbulkan.

Tak dapat dipungkiri bahwa pengumuman pernikahan kedua da’i kondang Aa’Gym telah membuat banyak orang terperangah kaget dan sebagian malah shock. Kabarnya sebagian besar jama’ahnya langsung meninggalkannya. Ini berdampak pada beberapa unit bisnis yang dikembangkan di Darul Tauhid di Geger Kalong-Bandung. Meskipun Poligami memiliki dampak positif, tetapi pada kenyataannya justru dampak negatiflah yang lebih dominan.

DAFTAR PUSTAKA

Khoirudin, Nasution. 2009. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA

Anshori, Fahmie. 2007. Siapa Bilang Poligami itu Sunnah. Bandung: Pustaka IIMaN

Rochayah, Machali. 2005. Wacana Poligami di Indonesia. Bandung: PT Mizan Pustaka Anggota IKAPI

Musfir, Husain Aj-Jahrani. 1996. Poligami dari Berbagai Persepsi. Jakarta: Gema Insani Press