hakikat ilmu pendidikan islam

Posted: 12th January 2012 by adi cahyo in Makalah, opini
Comments Off

Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu yang digunakan dalam proses pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam sebagai pedoman umat manusia khususnya umat Islam.
Pendidikan adalah segala upaya , latihan dan sebagainya untuk menumbuh kembangkan segala potensi yang ada dalam diri manusia baik secara mental, moral dan fisik untuk menghasilkan manusia yang dewasa dan bertanggung jawab sebagai makhluk yang berbudi luhur.
Sedangkan pendidikan Islam adalah suatu sistem pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam yang mencangkup semua aspek kehidupan yang dibutuhkan manusia sebagai hamba Alloh sebagaimana Islam sebagai pedoman kehidupan dunia dan akhirat.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan manusia yang semakin bertambah dan luas, maka pendidikan Islam bersifat terbuka dan akomodatif terhadap tuntutan zaman sesuai norma-norma Islam.

A. PENTINGYA TEORISASI PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan merupakan upaya untuk pembudayaan manusia untuk merngembangkan potensinya secara optimal yang dalam pelaksanaannya sangat bergantung pada sang pendidik. Sehingga mereka dituntut untuk memenuhi semua persyaratan sebagai seorang pendidik yang ideal. Sedangkan faktor pembawaan anak merupakan sasaran utama oleh para pendidik.
Teori adalah suatu konsep pemikiran manusia yang disusun secara sederhana tentang suatu bidang kehidupan yang tersusun berdasarkan fakta-fakta yang saling berkaitan dan mendukungnya. Sehingga menjadi suatu produk pemikiran yang teruji dengan praktek yang berhubungan dengan berbagai variabel.

1. Landasan Dasar Pengembangan Teorisasi Pendidikan Islam
a. Hakikat pendidikan adalah segala upaya dan usaha untuk menjadikan manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan
b. Azas pendidkan Islam adalah perkembangan dan pertumbuhan dalam perikehidupan yang seimbang dalam semua seluk beluk kehidupan secara adil, merata, menyeluruh dan integral.
c. Model dasar pendidian Islam adalah kemampuan dasar untuk berkembang dari setiap individu sebagai karunia Tuhan.
d. Sasaran pendidikan Islam adalah mengintegrasikan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dalam pribadi manusia untuk mewujudkan kesejahteraan dunia-akhirat.

2. Persyaratan Ilmiah
Persyaratan ilmiah ilmu pendidkan Islam adalah memiliki objek yang jelas, pandangan, teori, dan hipotesis yang bersumber ajaran Islam, metode analisa yang bernafaskan Islam, dan struktur keilmuan definitif yang satu sama lain saling berkaitan sebagai ilmu yang mandiri.

3. Tugas Fungsi Ilmu Pendidikan
a. Melakukan pembuktian terhadap teori-teori ilmu pendidikan Islam
b. Memberikan informasi tentang pelaksanaan pendidikan dalam segala aspek bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
c. Sebagai pengoreksi terhadap kekurangan teori-teori ilmu pendidikan Islam.

4. Hubungan Teori dengan Fakta
a. Teori menetapkan adanya hubungan fakta yang ada.
b. Teori mengembangkan sistem klasifikasi dan struktur dari konsep-konsep.
c. Teori harus dapat mengikhtisarkan fakta dan menerangkan sejumkah besar fakta.
d. Teori harus dapat meramalkan fakta
e. Teori harus dapat menunjukkan kebutuhan-kebutuhan untuk dikembangkan penelitian secara lebih lanjut.

B. HAKIKAT PENDIDIKAN ISLAM
Berangkat dari pengertian pendidIkan Islam, secara teori berarti memberi makan kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohani sesuai ajaran Islam baik melalui lembaga atau sistem kurikuler. Sedangkan tujuan fungsionalnya adalah potensi dinamis manusia yaitu keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlak dan pengalaman. Sebagai lingkaran proses pendidikan Islam yang akan mengantarkan manusia sebagai hamba Alloh yang mukmin, muslim, muhsin, dan mushlihin mutaqin.
Sedangkan objek pendidikan Islam adalah menyadarkan manusia sebagai makhluk individu yang diciptakan Tuhan yang paling sempurna dan lebih mulia dari makhluk lain (QS. As-Shaad: 71-72), memiliki kedudukan yang lebih tinggi (QS. Al-Isra’: 70). Disamping itu manusia diberi beban tanggung jawab terhadap dirinya dan masyarakat (QS. Al-Isra’: 15).
Sejalan hal itu, menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial yang harus mengadakan interelasi (QS. AL-Anbiya’: 92), berinteraksi, gotong-royong dan bersatu (QS. Al-Imran: 103), bersudara (QS. Al-hujurat: 10), tanpa membedakan berbagai perbedaan baik bahasa atau warna kulit (QS. Ar-Ruum: 22).
Disamping itu juga tidak melupakan bahwa manusia sebagai hamba Alloh yang diberi fitrah untuk beragama. Sehingga watak dan sikap religiusnya perlu dikembangkan agar mampu menjiwai dan mewarnai kehidupannya sesuai firman Alloh dalam surat Al-An’am: 102-103.

C. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan pendidikan Islam secara instruksional adalah:
a. TIK, mengarahkan anak untuk menguasai suatu ilmu khusus
b. TIU, mengarahkan anak untuk menguasai semua ilmu secara umum sebagai kebulatan
c. Kurikuler, agar mencapai garis besar program pengajaran di institusi pendidikan
d. Institusional, tujuan yang harus dicapai menurut program pendidikan di setiap intitusi
e. Umum atau nasional, cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalui pendidikan formal/ non-formal.

Sedangkan berdasarkan tugas dan fungsi manusia secara filosofis adalah:
a. Individu, belajar mempersiapkan manusia untuk hidup dunia dan akhirat
b. Sosial, berhubungan dengan kehidupan manusia dengan masyarakat
c. Profesional, menyangkut pengajaran sebagai ilmu, seni dan profesi sebagai kegiatan di masyarakat.
Tujuan dalam proses pendidikan Islam adalah cita-cita yang mengandung nilai-nilai Islam yang ingin dicapai berdasarkan ajaran Islam secara bertahap. Membentuk manusia dewasa yang berakhak mulia, mengembangkan potensi mengintegrasikan ilmu pengetahuan untuk kebahagiaan dunia akhirat.
Tujuan keagamaan pendidikan Islam adalah berorientasi pada kebahagiaan akhirat , dengan cara melaksanakan syariat Islam melalui pendidikan spiritual, misalnya (QS. Al-A’laa: 14-17) tentang kehidupan akhirat adalah lebih penting. Sedangkan tujuan keduniaan adalah pendidikan berorientasi pada kepentingan dunia sebagaimana firma Alloh QS. Al-Jumu’ah: 10
Jika dihubungkan dengan filsafat pendidikan Islam maka ilmu pendidikan Islam bertugas menganalisa secara mendalam tentang masalah-masalah pendidikan sekaligus penyelesaiannya. Ilmu pendidikan tidak hanya melandasi tugasnya dengan teori-teori tapi juga fakta empiris dan praktis yang di dalam masyarakat. Sehingga nantinya terjadi interaksi antara ilmu pendidikan Islam dengan masyarakat yang saling mengisi satu sama lain. Ilmu pendidikan Islam membutuhkan landasan yang ideal, rasional, universal dan sistematik tentang hakikat pendidikan.
Filsafat pendidikan berorientasi pada seluruh aspek pendidikan secara obyektif untuk kebutuhan manusia secara mendasar. Maka filsafat pedidikan Islam berusaha menunjukan kemana arah pendidikan akan dibawa. Dengan ciri filsafat yang radikal, universal dan sistematis akan mengahasilkan pemikiran tentang manuisa yaitu sebagai individu, sosial, dan moral yang mengarah pada hubungan manusia dengan tuhan secara vertikal, dengan masyarakat secara horisontal dan dengan alam.
D. IMPLIKASI AL-QUR’AN TERHADAP PENDIDIKAN
Banyak sekali ayat al-Qur’an yang mengandung implikasi pendidikan. Diantaranya adalah surat al-Imran: 190-191, ad-Dukhan: 38-39, al-Anbiya’: 16-18, dan masih banyak lagi. Dari ayat –ayat ini dapat ditarik kesimpulan tentang azas gerakan alam semesta sebagai sunnatulloh, yaitu:
1. Menyeluruh (holistik): semua ciptaan Alloh yang maujud dipandang memiliki makna dalam suatu keseluruhan bagi manusia. Untuk itu pendidikan memerlukan sistem yang menyeluruh baik dalam kelembagaan maupun metode yang digunakan sehinga akan lahir sistem “satu untuk semua”
2. Kesatuan (integral): semua ciptaan Alloh dalam alam semesta dipandang selalu dalam satu sistem kesatuan yang saling berhubungan menggerakkan dan memperkokoh dan bermakna. Semua bekerja secara mekanis menurut fungsinya tanpa ada yang terlepas. Jika ada yang terlepas satu saja maka keseimbangan alam akan rusak dan hilang. Demikian juga dengan pendidikan, semua aspek pendidikan harus bekerja secara bersama agar tidak terjadi kesalahan dan penyimpangan.
3. Perkembangan, semua ciptaan Tuhan baik makro/mikro mengalami perkembangan secara bertahap menuju arah kesempurnaan dan kematangan. Maka administrasi pendidikan membentuk lembaga pendidikan secara berjenjang mulai dari pra-dasar hingga perguruan tinggi.
4. Pendidikan seumur hidup, dengan konsep ini akan membuat kerangka berfikir memikirkan jauh kedepan tentang pendidikan dan kehidupan anak didik.

Berdasarkan filsafat pendidikan Islam yang membahas tentang ontologi, epistemologi dan aksiologi maka dapat disimpulkan pola dasar pendidikan Islam:
1. Segala fenomena alam adalah ciptaan Tuhan dan tunduk kepada hubungan mekanisme sebagai sunnatuloh. Maka manusia harus dididik agar bisa menghayati segala fenomena alam sehingga bisa menanamkan rasa iman dan takwa
2. Manusia sebagai makhluk palimg mulia dibanding makhluk lain menjadi khalifah. Maka ia dibekali ilmu agar bisa memberdayakan bumi dengan ilmunya untuk kemaslahatan umum sesuai tuntunan Tuhan.
3. Manusia sebagai makhluk sosial yang cenderung untuk berkumpul, berinteraksi dengan orang lain dan membentuk suatu tali persaudaraan.
4. Manusia sebagai makhluk moralitas yang cenderung untuk memeluk agama. Pendidikan seumur hidup sebagai dasar proses pendidikan sebagai konsep pemikiran yang berorientasi pada keimanan dan akhlak yang terpadu membentuk dan mewarnai pendidikan Islam.
Strategi pendidikan Islam merupakan sesuatu yang vital dalam melaksanakan pendidikan Islam. Maka strategi yang mantap diperlukan dalam proses pendidikan Islam sesuai situai dan kondisi sehingga tidak ditemui hambatan internal maupun eksternal. Strategi yang baik adalah jika bisa melahirkan metode yang baik. Beberapa ayat al-Qur’an tentang strategi pendidikan Islam antara lain, QS. Al-Qosos: 77 (keseimbangan dunia akhirat serta berbuat baik), al-Mujadalah: 11 (derajat bagi orang beriman dan berilmu), al-Jumu’ah: 2 (membersihkan hati), al-Qolam: 4 (budi pekerti luhur), dan As-Syura: 52 (menunjukkan jalan yang lurus).

E. FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN
Beberapa penafsiran tentang fitrah antara lain:
1. Potensi dasar yang tidak dapat diubah (nativisme) yaitu potensi untuk beragama.
2. Bersifat netral, perkembangan anak didik harus dipengaruhi dari luar (empirisme). Jadi pendidikan sangat mempengaruhi diri seorang anak. Hal ini sesuai dengan surat An-Nahl : 78 (hidayah), al-Alaq: 3-4 (manusia harus belajar dan menghayati baik secara formal maupun non-formal dan dengan alam semesta).
3. Konvergensi, mengintegrasikan antara fitah yang bersifat alami dengan faktor luar (pendidikan).

Komponen psikologi dalam fitrah yang berpotensi yaitu:
a. Kemampuan dasar untuk beragama
b. Bakat dan kecenderungan yang mengacu pada keimanan kepada Alloh
c. Naluri dan wahyu bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan
d. Kemampuan dasar beragama secara umum, bukan Islam saja
e. Kondisi jiwa yang bersih, terbuka terhadap pengaruh luar, sedangkan pengadaan reaksi bukan berasal dari fitrah.

Fitrah menurut Al-Ghazali:
1. kemampuan dasar sejak lahir yang berpusat pada potensi dasar untuk berkembang.
2. Potensi dasar yang berkembang secara menyeluruh menggerakkan seluruh aspek secara mekanik dimana satu sama lain saling mempengaruhi menuju kearah tertentu.
3. Merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, dan rresponsif terhadap pengaruh luar yang meliputi: bakat, insting, hereditas, nafsu, karakter dan intuisi.

F. METODOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
Metodologi dalam pendidikan mempunyai tugas dan fungsi memberi cara yang baik untuk pelaksanaan operasional pendidikan Islam. Metodologi harus sejalan dengan substansi dan tujuan ilmu pengetahuan induknya. Dan dalam penerapannya bersumber pada al-Qur’an dan Hadits yang meliputi:
1. Al-Qur’an menunjukkan fenomena bahwa firman Alloh sesuai dengan sasaran dan tempat yang dihadapi. Alloh memberikan metode pengajaran alternatif yaitu pilihan dan setiap individu berbeda kemampuannya.
2. Alloh mendidik manusia disesuaikan dengan kemampuan masing-masing
3. Bersifat multi approach, yaitu melalui pendekatan religiuss, filosofis, sosiokultural dan scientific.

Pertumbuhan dan perkembangan manusia tercermin dalam al-qur’an yang bersifat derifatif yaitu:
1. Mendorong manusia untuk memikirkan kehidupannya sendiri dan alam sekitar
2. Mendorong manusia untuk megamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari
3. Mendorong berjihad
4. Suasana pendidikan yang sesuai dengan tempat dan waktu
5. Metode pembuatan kelompok
6. Metode instruksional
7. Metode bercrita (QS. Yusuf: 111, QS. Al-Maidah: 27-28)
8. Metode bimbingan dan penyuluhan (QS. Yunus: 57, QS. An-Nisa’: 58, Al-Luqman: 13 dan QS. Al-Imran: 159)
9. Memberi contoh dan teladan (QS. Al-Ahzab: 21, 67-68)
10. Diskusi (An-Nahl: 125, Al-Ankabut: 46)
11. Tanya jawab (QS. An-Nahl: 43)
12. Perumpamaan (QS. Ar-RA’d: 17, Ibrahim: 24-26, Al-Ankabut: 41)
13. Targhib dan tarhib (QS. Al-Zalzalah: 7-8, Al-Fushilat: 46)
14. Tobat dan ampunan (QS. An-Nisa’: 110, Al-Maidah: 39)

G. INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM
Institusi dalam pendidikan Islam bermula dari halaqoh-halaqoh yang dibuat Nabi kemudian seiring dengan perkembangan zaman lahirlah lembaga-lembaga pendidikan mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling lengkap sehingga menunjang keintektualitas peserta didik
Lembaga–lembaga itu memiliki berbagi aspek yang harus dipenuhi sebagai sarana untuk mencetak manusia muslim yang sejati. Diantaranya adalah pendidik, kurikulum, sarana pendidikan dan sebagainya.
Secara filosofis ilmu pendidikan Islam dapat diartikan sebagai proses pendidikan yang di dasari nilai-niai Islam yang bersumber al-Qur’an dan Sunnah. Dengan pikirannya, manusia diperintahkan untuk menggali nilai-nilai di dalam al-Qur’an dan Sunnah tentang ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuanlah manusia bisa memahami fenomena alam sekitarnya sehingga menjadi bekal dalam menjalani hidup sebagai hamba Alloh dan khalifatulloh. Dan dengan pengetahuan dan teknologi yang dimikinya manusia disuruh untuk memahami alam semesta sejauh kemampuan rasionya.
Dalam operasionalnya ilmu pendidikan Islam berorientasi pada pemahaman kepada Alloh yang maha mengetahui sebagai sumber dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu adalah pengembangan kehidupan sosial dalam masalah muamalah dengan masyarakat. Dan pengembangan alam sekitar yang memiliki kekayaan untuk digali dan diolah untuk kesejahteraan dunia-akhirat.

H. MODEL PENDIDIKAN ISLAM
Model ilmu pendidikan Islam secara teoritis berbicara aspek filosofis, epistemologi, dan pedagogis yang dalam operasionalnya berorientasi pada berikut:
1. Materi disesuaikan dengan tuntutan sosiokultural masa kini. Materi kurikulum mengandung tantangan untuk berfikir kritis dan pelajaran tajam sebagi pendorong berfikir kritis ilmiah menuju perkembangan pribadi muslim yang harmonis sesuai tuntunan Tuhan dan masyarakat.
2. Pendidik menganggap anak didik sebagai sumber pengetahuan, subjek dan partner dalam proses belajar mengajar.
3. Peserta didik melakukan dialogis dengan berbagai pihak dalam proses belajar mengajar dan menghayatinya kemudian merevisi sikap pandangannya sendiri.

a. Model Pendidikan Islam dengan pendekatan Sistem:
1. Secara sistemik manusia dipandang sebagai makhluk integralistik
2. Secara pedagogis pendidikan Islam sebagai pengembang potensi dasar secara integral antara rohani dan jasmani untuk membentuk manusia muslim.
3. Secara institusional pendidikan Islam adalah bentuk pendidikan yang bejenjang
4. Secara kurikuler pendidikan Islam mengarahkan seluruh komponen dan faktor-faktor pendukung pendidikan untuk mewujudkan cita-cita Islami.

b. Pendekatan Pedagogis dan Psikologis
Dengan pendekatan ini pendidikan menganggap manusia sebagai makhluk yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan baik secara jasmani dan rohani. Menurut para pemikir pendidikan baik muslim atau non-muslim potensi dasar yang dimiliki anak yang dan berkembang ini hanya dapat dilakukan dengan proses pendidikan. Dimana pendidikan adalah mengarahkan dan melatih peserta didik untuk mewujudkan cita cita Islami yaitu mencetak pribadi muslim yang memiliki intelektualitas tinggi dan berbudi luhur.

Pendekatan sistem ini menganalisis lima unsur pendidikan yaitu:
1. Pendidik, dalam hal ini seorang pendidik harus memenuhi sebagai seorang pendidik yang ideal. Dia harus matang dalam hal keilmuan, akhlak, dan sebagainya sebagai penunjang untuk menjadi pendidik yang berkualitas. Karena dialah yang akan menentukan akan jadi apa peserta didiknya nanti disamping potensinya sendiri yang akan menentukan hidupnya. Tapi sedikit banyak seorang guru akan memiliki pengaruh kepada sang murid.
2. Anak didik diposisikan sebagai objek pendidikan yang sedang megalami perkembagan jasmani da rohani dengan potensinya yang bersifat fitrah. Perkembangan itu hanya bisa optimal bila dilakukan dengan proses pendidikan yang berkesinambungan dan menggunakan metode konvergensi akan menghasilkan hasil yang optimal.
3. Alat pendidikan adalah sarana yang penting dalam menunjang mutu pendidikan. Dalam pendidikan Islam, alat pendidikan bisa berupa fisik atau non-fisik yang terseleksi mana yang lebih berguna. Disamping itu harus mengandung nilai efektif dan efisien yang diperoleh secara halal sesuai dengan norma-norma Islam.
4. Lingkungan yang bersinggungan langsung dengan anak didik sangat mempengaruhi anak didik. Untuk itu lingkungan yang baik adalah lingkungan yang bersifat mendidik dan bisa memperlancar jalannya pendidikan dehingga cita-cita pendidikan dapat terwujud.
5. Tujuan pendidikan Islam adalah suatu cita-cita yang dirumuskan bagi keberlangsungan anak didik masa depan. Sehingga tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada peningkatan keimanan dan ketakwaan untuk menghasilkna muslim yang baik sehingga bahagia dunia akhirat.

c. Model Pendidikan Islam dengan pendekatan Spiritual
1. Dalam pandangan agama manusia diberi dua pilihan yaitu jalan sesat yang mejerumuskan ke jurang nista dan jalan kebenaran yang menuntun manusia menuju keridhaan Alloh. Sehingga merasakan bahagia dunia-akhirat.
2. Proses pendidikan harus mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang dedikatif dan berserah diri kepada Alloh. Materi pendidikan harus mengarahkannya dari asal-usul manusia sehingga dia akan mengerti arti hidup.
3. Kurikulum materi pendidikan harus mengandung nilai-nilai Islami.
4. Strategi operasional pendidikan adalah meletakkan anak didik dalam posisi pendidikan seumur hidup.

d. Model Pendidikan Islam dengan pendekatan Historis.
Dilihat dari segi historis ada empat aspek ciri pokok perkembangan pendidikan yang releven, sejalan dan seirama, yaitu ideal, institusional, dan materiil. Ada tiga aspek pendidikan dengan pendekatan sejarah, secara pedagogis anak didik diletakkan pada posisi sentral untuk mengembangnkan kemampuan menciptakan hidup bernilai sejarah dengan mengkaji sejarah masa lalu. Secara kurikuler anak didik dikenalkan pasang surut kehidupan , positif-negatifnya dan tokoh-tokoh sejarah. Sedangkan secara epistemologi anak diarahkan menangkap makna kehidupan sejarah. Sehingga bisa mengaktualisasikan dalam kehidupannya.

Karakteristik historis pendidikan Islam:
1. Masa Nabi: berorientasi pada pengajaran tauhid dan berbentuk halaqah
2. Sahabat: berbentuk halaqah dan pendidikan diserahkan pada oangtua anak
3. Masa kerajaan: mengalami perubahan dengan bertambah luasnya daerah dan pengaruh dari luar arab. Muncul madrasah-madrasah yang operasionalnya berbeda setiap daerah.
4. Kemunduran: pendidikan mengalami kemunduran seiring dengan tertutupnya pintu ijtihad. Disamping itu karena semua wilayah Islam terjajah bangnsa barat jadi pendidikan pun tak terurus.
5. Kemerdekaan: dengan bangkitnya umat Islam dan banyaknya ilmuwan muslim yang bangkit, pintu ijtihad terbuka kembali pendidikan pun mulai bangkit kembali. Pendidikan yang dulu hanya berorientasi pada agama mulai memasukkan ilmu pengetahuan sekuler dalam kurikulum pendidikan.

I. MATERI PENDIDIKAN ISLAM
Para tokoh pendidikan Islam masa lalu membagi ilmu menjadi beberapa bagian. Al-Farabi membagi materi menjadi ilmu bahasa, sains persiapan, fisika dan metafisika, dan ilmu kemasyarakatan. Ibnu Kholdun membagi menjadi ilmu syariah, filsafat, ilmu alat yang membantu agama dan ilmu alat yang membantu faldafah. Sedangkan secara umum al-Ghazali membagi menjadi ilmu fardu ‘ain (agama: al-qur’an, hadits dan ilmu bahasa) dan fardu kifayah (dunia: sains dan sosial). Dan Ibnu Sina membagi menjadi ilmu teori (mipa dan ) dan ilmu praktik (akhlak dan politik).
Dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. mengandung materi yang berfungsi mampu membantu siswa untuk mencapai tujuan hidup Islami
2. mengandung tata nilai Islam secara intrinsik dan ekstrinsik sehingga mampu merealisasikan tujuan pendidikan Islam
3. metode sesuai dengan pendidikan Islam
4. kurikulum, metode dan tujuan harus saling berkaitan agar seimbang.

Beberapa kategori kurikulum pendidikan islam:
1. ilmu dasar yang membahas al-Qur’an dan Hadits
2. ilmu sosial yang membahas kemasyarakatan
3. ikmu alam yang termasuk ilmu pasti dan teori

J. METODE DALAM PROSES PENDIDIKAN ISLAM
Banyak sekali prinsip dalam al-Quran yang bisa dijadikan metode dalam pengajaran, diantaranya adalah:
1. metode suasana gembira (QS. Al-Baqarah: 25 dan 185)
2. metode lemah lembut (QS. Al-Imran: 159)
3. metode bermakna (QS. Muhammad: 16)
4. metode prasyarat atau muqadimah (QS.Al-Baqaah: 1-2)
5. metode komunikasi terbuka (QS. Al-A’raf: 179)
6. metode memberikan pengetahuan baru (QS. Al-Baqarah: 164 dan Al-Fushilat: 153)
7. metode uswatun hasanah (QS. Al-Ahzab: 21)
8. metode praktek atau pengamatan aktif (QS. As-Shof: 2-3 dan Al-Baqarah: 25)
9. metode bimbingan, penyuluhan dan kasih sayang (QS. Al-Anbiya’: 107 dan An-Nahl: 25)
10. metode cerita (QS. Al-A’raf: 176)
11. metode perumpamaan (QS. Ibrahim: 18)
12. metode hukuman dan hadiah (QS. Al-Ahzab: 72-73)

K. EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM
Secara garis besar evaluasi pendidikan Islam meliputi kemampuan dasar anak didik, yaitu:
1. sikap dan pengamalan pribadinya, hablu minalloh
2. sikap dan pengamalan dirinya, hablu minannas
3. sikap dan pengamalan kehidupannya, hablu minal ‘alam
4. sikap dan pandangannya sebagai ‘abd, khalifah dan anggota masyarakat.

Berbagai contoh eveluasi Tuhan dalam pendidikan:
1. mengetahui kesabaran (QS. Al-Baqarah: 155)
2. mengetahui bersukur atau kufur terhadap Tuhan (QS. An-Naml: 40)
3. mengetahui kejujuran (QS. An-Naml: 27)
4. mengetahui ketaatan terhadap Tuhan (QS. As-Shoffat: 103, 106 dan 107)
Perbedaan evaluasi Alloh dengan Nabi adalah jika Alloh lebih menitikberatkan pada sikap, perasaan, dan pengetahuan manusia. Sedangkan Nabi lebih menitikberatkan pada kemampuan dan kesedian manusia mengamalkan ajaran-Nya.
Fungsi evaluasi pendidikan adalah untuk mengidentifikasi dan merumuskan jarak dari saasaran pokok kurikulum secara komprehensif, penetapan bagi tingkah laku apa yang harus direalisasikan oleh siswa dan meyeleksi atau membentuk instrumen yang valid, terpercaya dan praktis untuk meniai sasaran utama proses pendidikan atau ciri khusus perkembangan dan pertumbuhan anak didik.
Jenis-jenis evaluasi:
1. formatif: menetapkan tingkat penguasaan peserta didik dan menentukan bagian tugas yang belum dikuasai
2. sumatif: penilaian secara umum tentang keseluruhan hasil belajar mengajar yang dilakukan setiap akhir periode
3. diagmatis: penilaian yang dipusatkan pada proses belajar megajar dengan melokalisasikan suatu titik awal yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, H.M. 2006. Ilmu Pendidikan Islam (Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Multidispliner). Jakarta: Bumi Aksara

No related posts.

Comments are closed.